Dudung Abdurahman Buka Suara soal Menko Polkam: Saya Menghadap Dasco
Baca dalam 60 detik
- Dudung Abdurahman mengaku telah berkomunikasi dengan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad sebelum dilantik sebagai Menko Polkam.
- Ia menyebut tantangan menjaga keutuhan bangsa dan menyukseskan Asta Cita sebagai prioritas utama di kabinet Prabowo.
- Reshuffle kabinet menempatkan eks Kapolri Listyo Sigit Prabowo sebagai Kepala KSP menggantikan Dudung.

Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Dudung Abdurahman mengungkapkan bahwa dirinya telah menjalin komunikasi dengan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad sebelum resmi mengemban jabatan barunya. Pernyataan itu disampaikan Dudung usai menghadiri acara di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (1/10).
Menurut Dudung, kontak dengan Dasco terjadi sejak sehari sebelum pelantikan. "Menghadap Pak Dasco," ujarnya singkat ketika ditanya soal komunikasi tersebut. Meski tidak merinci isi pembicaraan, pernyataan ini menandakan bahwa transisi kekuasaan di lingkaran inti pemerintahan berjalan dengan koordinasi politik yang ketat.
Dudung menegaskan bahwa posisi Menko Polkam bukanlah amanah yang ringan, terutama di tengah situasi nasional yang menuntut stabilitas. Ia menyatakan akan memperkuat koordinasi antar kementerian yang berada di bawah naungannya. "Tentunya masalah keutuhan, persatuan dan kesatuan negara ini yang harus kita tingkatkan kembali, kita songsong pembangunan Asta cita yang menjadi cita-cita bapak Presiden Prabowo Subianto," kata Dudung.
Pengangkatan Dudung merupakan bagian dari perombakan kabinet yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto. Ia menggantikan Djamari Chaniago yang sebelumnya menjabat di posisi yang sama. Sementara itu, kursi Kepala KSP yang ditinggalkan Dudung diisi oleh Listyo Sigit Prabowo, mantan Kapolri yang memiliki rekam jejak panjang di institusi kepolisian.
Langkah ini dinilai sebagai upaya konsolidasi kekuatan politik dan keamanan di awal pemerintahan Prabowo. Menko Polkam memiliki peran strategis dalam mengoordinasikan Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertahanan, serta lembaga-lembaga keamanan lainnya. Stabilitas politik dan keamanan menjadi prasyarat utama untuk menarik investasi dan menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Dalam konteks Indonesia, posisi Menko Polkam kerap menjadi poros penting dalam pengambilan keputusan strategis, terutama yang berkaitan dengan penanganan konflik sosial, terorisme, dan keamanan siber. Dudung, yang berlatar belakang militer, diharapkan mampu mempercepat sinergi antara aparat keamanan dan kementerian teknis. Namun, ia juga menghadapi tantangan untuk menjaga netralitas dan profesionalisme di tengah dinamika politik yang masih hangat pasca-Pemilu 2024.
Pengamat politik menilai bahwa komunikasi antara Dudung dan Dasco menunjukkan adanya jalinan koordinasi antara eksekutif dan legislatif sejak awal. Hal ini penting untuk memastikan kebijakan keamanan dan politik luar negeri mendapat dukungan politik yang memadai di parlemen. Meski demikian, publik akan mencermati apakah hubungan tersebut akan memperkuat checks and balances atau justru menimbulkan kekhawatiran akan konsentrasi kekuasaan.
Ke depan, tantangan terbesar Dudung adalah menjaga stabilitas keamanan di daerah-daerah rawan konflik, seperti Papua dan Poso, serta mengawal agenda pembangunan Asta Cita yang menjadi visi utama Presiden Prabowo. Dengan latar belakangnya sebagai mantan Kepala Staf Angkatan Darat, Dudung diharapkan mampu mengambil langkah tegas namun terukur dalam menghadapi ancaman keamanan yang semakin kompleks.
Pertanyaannya, akankah koordinasi yang dibangun Dudung dengan para pemangku kepentingan politik mampu mempercepat realisasi program pemerintah, atau justru tersandera oleh kepentingan jangka pendek? Publik menanti arah kebijakan Menko Polkam yang baru dalam beberapa bulan mendatang.



