Studi Ungkap Mengapa Sebagian Orang Lebih Rentan Alami Efek Samping Vaksin
Baca dalam 60 detik
- Peneliti dari Universitas Jenewa menemukan bahwa perbedaan respons imun bawaan, khususnya aktivitas interferon, menjelaskan mengapa sebagian orang mengalami efek samping vaksin yang lebih berat.
- Temuan ini menegaskan bahwa reaksi kuat pasca-vaksinasi tidak mencerminkan efektivitas vaksin yang lebih baik, dan tidak ada kelompok yang perlu menghindari vaksinasi.
- Meski masih terbatas pada vaksin mRNA COVID-19, hasil studi membuka jalan bagi prediksi risiko efek samping dan strategi mitigasi di masa depan.

Sebuah studi terbaru dari Center for Vaccinology, University of Geneva (UNIGE) dan Geneva University Hospital (HUG), Swiss, mengungkap alasan biologis di balik perbedaan intensitas efek samping vaksin antarindividu. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Science Translational Medicine ini menemukan bahwa variasi dalam sistem pertahanan antiviral interferon—bagian dari imunitas bawaan—memainkan peran kunci. Temuan ini menjawab pertanyaan lama mengapa sebagian orang mengalami demam, nyeri otot, atau kelelahan setelah vaksinasi, sementara yang lain nyaris tanpa gejala.
Selama ini, faktor usia dan dosis vaksin dikenal memengaruhi keparahan reaksi. Namun, mekanisme di balik perbedaan individual tersebut belum terjelaskan. Peneliti senior Arnaud Didierlaurent menyatakan bahwa pemahaman tentang proses biologis ini masih minim. "Kami tahu orang lanjut usia cenderung mengalami reaksi lebih ringan karena penurunan fungsi imun, dan dosis vaksin dapat memengaruhi keparahan efek samping, tetapi mekanisme di balik perbedaan gejala antarpribadi masih kurang dipahami," ujarnya dalam siaran pers.
Untuk mengungkapnya, tim merekrut 51 orang dewasa sehat dengan usia median 43,5 tahun yang menerima dua dosis vaksin mRNA COVID-19. Mereka dipantau ketat selama sepekan setelah setiap dosis. Hasilnya, peneliti menemukan bahwa sistem pertahanan interferon yang lebih aktif sebelum vaksinasi berkorelasi dengan reaksi yang lebih nyata. "Semakin aktif respons interferon alami seseorang, bahkan sebelum vaksinasi, semakin besar kemungkinan reaksi mereka terhadap vaksin," jelas Natacha Madelon, penulis pertama studi.
Interferon adalah protein sinyal yang dilepaskan sel saat mendeteksi virus, berfungsi memperingatkan sel lain untuk bersiap melawan patogen. Namun, kapasitas produksinya berbeda-beda pada tiap orang. Pada model hewan, peneliti mengonfirmasi bahwa setelah dosis pertama, antibodi dan sel T terbentuk. Dosis kedua kemudian mempercepat respons monosit—sel darah putih—sehingga memicu reaksi lebih kuat. Ini menjelaskan mengapa efek samping sering lebih terasa pada dosis kedua.
"Studi ini menunjukkan bahwa sebagian orang secara alami lebih rentan terhadap reaksi vaksin jangka pendek karena sistem imun bawaannya memiliki respons interferon yang lebih aktif. Genetika, mikrobioma, dan peradangan sebelumnya mungkin berperan, meski penelitian lebih lanjut masih diperlukan," ujar Clare Thompson, dokter umum di Cadogan Clinic, London, yang tidak terlibat dalam studi.
Thompson menambahkan bahwa reaksi tersebut umumnya ringan dan sementara, bukan komplikasi serius. "Saat ini belum ada cara untuk memprediksi atau mencegah respons imun ini. Sebagian besar efek samping vaksin mereda dalam beberapa hari, sehingga istirahat, hidrasi, dan parasetamol bila perlu dapat membantu meredakan gejala," sarannya. Ia juga menegaskan bahwa efek samping yang kuat bukan indikasi vaksin bekerja lebih baik, dan sebaliknya, reaksi minimal bukan berarti vaksin kurang efektif.
Penting dicatat, studi ini tidak mengidentifikasi kelompok yang harus menghindari vaksinasi. Temuan ini terutama berlaku untuk gejala sementara setelah vaksin mRNA COVID-19, dan peneliti masih menyelidiki apakah mekanisme serupa berlaku untuk vaksin lain seperti influenza. Thompson menyarankan hanya mereka yang memiliki kekhawatiran alergi serius terhadap komponen vaksin yang perlu berkonsultasi dengan dokter sebelum vaksinasi musiman.
Di Indonesia, di mana program vaksinasi COVID-19 dan influenza terus berjalan, pemahaman ini dapat membantu tenaga kesehatan memberikan edukasi yang lebih baik kepada masyarakat. Kesadaran bahwa reaksi pasca-vaksinasi adalah respons imun normal—bukan tanda bahaya—dapat mengurangi keraguan vaksin. Ke depan, penelitian lanjutan diharapkan dapat mengembangkan biomarker untuk memprediksi risiko efek samping, sehingga strategi pemberian vaksin dapat dipersonalisasi. Pertanyaannya, akankah kita segera melihat vaksin yang disesuaikan dengan profil imun individu?



