Yield Treasury AS Mereda, Tapi Tekanan Inflasi Masih Menghantui Pasar Global
Baca dalam 60 detik
- Imbal hasil obligasi pemerintah AS turun tipis setelah menyentuh level tertinggi dalam beberapa tahun, dipicu kekhawatiran inflasi yang belum surut.
- Pelaku pasar memperkirakan peluang lebih dari 72% The Fed akan menaikkan suku bunga lagi pada Oktober, seiring konflik Timur Tengah yang menekan harga energi.
- Bagi Indonesia, lonjakan yield AS berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan dan menekan stabilitas nilai tukar rupiah serta imbal hasil SBN.

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali melandai pada perdagangan Selasa (29/9), sehari setelah menembus level tertinggi dalam beberapa tahun. Yield surat utang tenor 10 tahun—acuan utama untuk kredit perumahan, pinjaman kendaraan, dan kartu kredit—tercatat datar di 5,238%. Sementara yield obligasi 30 tahun turun 1 basis poin menjadi 5,551%, dan yield surat utang 2 tahun justru naik 1 basis poin ke 4,9389%.
Penurunan tipis ini tidak serta-merta meredakan kekhawatiran pasar. Sebab, pada Senin lalu, yield tenor 10 tahun dan 3 tahun melonjak masing-masing 5 basis poin, sedangkan tenor 2 tahun naik 6 basis poin. Pergerakan tersebut mencerminkan ekspektasi bahwa tekanan inflasi masih akan memaksa bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat.
Pemicu utamanya adalah konflik berkepanjangan di Timur Tengah yang telah berlangsung tujuh bulan. Menurut laporan Al Jazeera, AS dan Iran menggelar pembicaraan terpisah dengan mediator untuk mencari jalan keluar. Namun, ketidakpastian ini terus menopang harga energi, yang pada gilirannya memperkuat dugaan investor bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga. Berdasarkan CME FedWatch, pelaku pasar kini memperhitungkan peluang lebih dari 72% kenaikan suku bunga pada pertemuan Oktober mendatang. Sebelumnya, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) awal bulan ini telah menyetujui kenaikan 25 basis poin secara bulat (12-0).
Bagi Indonesia, dinamika ini bukan sekadar berita luar negeri. Kenaikan yield Treasury AS sering kali diikuti oleh arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Hal ini dapat memperlebar defisit transaksi berjalan, menekan nilai tukar rupiah, dan mendorong kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN). Investor asing yang memegang SBN berpotensi mengurangi porsi kepemilikan mereka, sehingga pemerintah perlu mengantisipasi dampaknya terhadap pembiayaan APBN.
Selain itu, suku bunga global yang tinggi membatasi ruang gerak Bank Indonesia (BI) dalam menurunkan suku bunga acuan. Jika The Fed kembali menaikkan suku bunga, BI mungkin terpaksa mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk menjaga daya tarik aset domestik. Dampaknya, biaya pinjaman bagi dunia usaha dan konsumen di dalam negeri tetap mahal, yang bisa menahan laju pemulihan ekonomi.
"Pasar obligasi global sedang menguji ketahanan negara-negara berkembang. Indonesia memiliki fundamental yang cukup kuat, tetapi tekanan eksternal tidak bisa diabaikan," ujar seorang analis pasar modal di Jakarta, seperti dikutip dari sumber terpercaya.
Minggu ini, sejumlah data ekonomi AS akan menjadi sorotan, termasuk laporan JOLTS Agustus, indeks harga PCE inti, pertumbuhan PDB kuartalan, serta data nonfarm payrolls dan tingkat pengangguran. Angka-angka ini akan memberikan petunjuk baru tentang arah kebijakan The Fed. Jika data menunjukkan inflasi masih membandel, yield Treasury berpotensi kembali melonjak, yang akan semakin menekan pasar keuangan global, termasuk Indonesia.
Pertanyaannya, seberapa lama pasar dapat bertahan menghadapi ketidakpastian ini? Jawabannya akan sangat bergantung pada respons The Fed dan perkembangan geopolitik di Timur Tengah.



