Michael Burry Percepat Taruhan terhadap Ledakan Bubble AI, Sinyal Peringatan bagi Pasar Global
Baca dalam 60 detik
- Michael Burry mengubah strategi short-nya menjadi opsi jual dengan horizon waktu lebih pendek, mengisyaratkan keyakinan bahwa koreksi pasar AI bisa terjadi dalam 12 bulan ke depan.
- Langkah ini didasari laporan Ares Management yang menyoroti rapuhnya belanja modal AI yang bertumpu pada asumsi pendapatan berkelanjutan tanpa jaminan.
- Bagi investor Indonesia, pergeseran sentimen ini berpotensi memicu arus modal keluar dari aset berisiko, termasuk saham teknologi dan komoditas yang terkait dengan rantai pasok AI.

Investor legendaris Michael Burry, yang namanya melambung setelah bertaruh melawan pasar perumahan AS sebelum krisis keuangan 2008, kini mempercepat jadwal taruhannya terhadap saham-saham kecerdasan buatan (AI). Dalam surat investasi terbarunya, Burry mengungkapkan bahwa ia beralih dari posisi short langsung ke opsi jual (put options) dengan jatuh tempo lebih singkat, sebuah manuver yang memberinya daya ungkit lebih besar untuk memanfaatkan potensi pembalikan tren.
Langkah ini menandai eskalasi sikap bearish Burry terhadap sektor yang telah mendorong indeks Nasdaq Composite ke rekor tertinggi sepanjang masa pekan lalu. Ia menukar posisi short di Micron Technology dengan opsi jual berjatuh tempo Juni mendatang pada kisaran strike price US$500. Serupa dengan itu, posisi short di Nebius digantinya dengan opsi jual berjatuh tempo Juni di rentang strike price dua digit. Burry juga mengganti posisi short di ETF semikonduktor SOXX dengan opsi jual, serta memperbesar posisi opsi jual di Palantir Technologies yang berfokus pada jatuh tempo September 2027 dengan strike price di kisaran US$100-an.
"Secara fundamental, saya memajukan timeline. Karena itu, saya ingin lebih banyak leverage dalam posisi short saya. Timeline yang lebih baik membuat leverage lebih masuk akal. Tidak ada yang lebih identik dengan leverage selain opsi, dalam hal ini opsi jual, yang relatif murah karena ukuran volatilitas yang sangat ketat seperti VIX," tulis Burry dalam newsletter-nya, Senin (28/9/2026).
Burry mendasarkan keyakinannya pada riset terbaru dari Ares Management yang menyoroti kerentanan ledakan AI. Laporan tersebut menekankan bahwa pertumbuhan AI saat ini bergantung pada asumsi "belanja modal AI yang berkelanjutan" yang diikat oleh perjanjian hukum yang menuntut. Menurut Ares, hanya dibutuhkan satu musim di mana pendapatan AI mengecewakan ekspektasi untuk memicu pembalikan. "Dalam skenario itu, beberapa dewan direksi yang cenderung mengalihkan modal ke taruhan dengan keyakinan tertinggi hanya perlu menyimpulkan bahwa taruhan keyakinan tertinggi telah bergeser. Dokumen hukum mengantisipasi keputusan itu," demikian kutipan dari laporan Ares.
Burry juga mengutip pernyataan CEO Acer, Jason Chen, yang mengatakan bahwa siklus akan kembali ke industri chip memori akibat peningkatan kapasitas produksi China. "Bagaimana bisa ada kekurangan terus-menerus? Kapasitas produksi China terus meningkat, dan tidak ada masalah kekurangan sama sekali. Harga kontrak saat ini berfluktuasi di level tinggi, dengan beberapa harga naik dan yang lain turun," ujar Chen seperti dikutip Burry.
Meski demikian, pasar saham AS belum sepenuhnya mengindikasikan kekhawatiran. Nasdaq Composite masih bertahan di level tertinggi, meskipun beberapa saham teknologi utama telah terkoreksi. Micron, misalnya, kini berada sekitar 16% di bawah rekor tertingginya, sementara Palantir sekitar 10% di bawah puncaknya. Burry sendiri telah lama bersikap bearish; pada Mei lalu ia menyatakan bahwa pasar saham "terasa seperti bulan-bulan terakhir gelembung 1999-2000."
Bagi investor Indonesia, peringatan Burry ini bukan sekadar dinamika Wall Street. Pasar modal Tanah Air memiliki keterkaitan erat dengan sentimen global, terutama melalui arus modal asing. Jika taruhan Burry terbukti tepat dan terjadi koreksi tajam di saham-saham AI, dampaknya bisa merembet ke indeks harga saham gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah. Sektor teknologi dan komoditas yang terkait dengan rantai pasok AI, seperti nikel dan tembaga, berpotensi mengalami tekanan jual. Selain itu, perusahaan-perusahaan startup AI di Indonesia yang mengandalkan pendanaan ventura global mungkin akan menghadapi kesulitan pendanaan jika investor global menjadi lebih hati-hati.
Namun, tidak semua analis sepakat dengan pandangan Burry. Sebagian pelaku pasar meyakini bahwa fundamental AI masih kuat, didukung oleh adopsi yang luas dan inovasi berkelanjutan. Mereka berargumen bahwa koreksi adalah bagian dari siklus normal dan bukan akhir dari tren. Pertanyaannya, apakah Burry kali ini akan kembali benar seperti pada 2008, atau justru terlalu dini? Waktu yang akan membuktikan, tetapi satu hal yang pasti: taruhan Burry telah menambah lapisan ketidakpastian di pasar yang sudah sensitif terhadap narasi bubble AI.



