Harga Minyak Dunia Naik Dua Hari Beruntun, Ketegangan Selat Hormuz Kembali Bayangi Pasokan
Baca dalam 60 detik
- Brent dan WTI kompak menguat lebih dari 1% setelah kekhawatiran pasokan Timur Tengah kembali mencuat.
- Negosiasi tidak langsung AS-Iran lewat mediator Qatar dinilai pasar sebagai penentu arah harga minyak ke depan.
- Bagi Indonesia, kenaikan ini berpotensi menekan APBN dan nilai tukar rupiah jika berlanjut dalam waktu lama.

Harga minyak mentah dunia melanjutkan penguatan untuk hari kedua berturut-turut pada Selasa, dengan Brent untuk pengiriman November naik 1,22% ke US$106,56 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) menguat lebih dari 1% ke US$93,57 per barel. Kenaikan ini terjadi di tengah kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah belum akan mereda dalam waktu dekat, meski upaya diplomasi untuk menurunkan tensi dilaporkan tengah berjalan.
Pasar menerima sinyal ganda. Di satu sisi, Amerika Serikat dan Iran dikabarkan tengah menjajaki komunikasi terpisah dengan para mediator sebagai bagian dari upaya baru mengakhiri konflik. Mengutip pernyataan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, Al Jazeera melaporkan bahwa Teheran telah menggelar pembicaraan tidak langsung dengan Washington melalui perantara Qatar di New York. Namun di sisi lain, kekhawatiran terhadap infrastruktur energi dan arus pasokan di kawasan masih membayangi, terutama setelah kembali memanasnya hubungan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi.
Analis pasar senior VT Markets Dubai, Mahmoud Mashal, menilai bahwa perkembangan perundingan akan menjadi fokus utama pelaku pasar. Menurutnya, kemajuan berarti dalam negosiasi gencatan senjata berpotensi menekan harga minyak mentah. Sebaliknya, kebuntuan diplomasi justru akan memperkuat premi risiko yang sudah tertanam dalam harga saat ini.
Perhatian pasar kini tertuju pada Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang sebelum perang menjadi lintasan sekitar seperlima pasokan minyak global. Ketegangan di sekitar selat ini menjadi variabel paling sensitif karena gangguan sekecil apa pun pada arus pelayaran dapat memicu lonjakan harga yang tajam. Pada Sabtu, Presiden AS Donald Trump dikabarkan menolak proposal bersyarat Teheran untuk membuka kembali selat tersebut, dan menyatakan kepada para penasihatnya bahwa ia memperkirakan akan melanjutkan serangan terhadap Iran setelah pemilihan sela November.
"Kemajuan dalam pembicaraan akan menjadi fokus utama pasar, dan setiap perkembangan yang berarti bisa mendorong minyak mentah lebih rendah," ujar Mahmoud Mashal, analis pasar senior VT Markets Dubai.
Bagi Indonesia, dinamika ini bukan sekadar berita komoditas. Sebagai negara net importir minyak, kenaikan harga Brent dan WTI berpotensi memperlebar defisit neraca perdagangan migas dan menekan pos subsidi energi dalam APBN. Setiap kenaikan US$1 per barel pada harga minyak mentah global umumnya berdampak pada beban subsidi dan kompensasi energi yang harus ditanggung negara, terutama jika asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN terlampaui dalam waktu lama. Tekanan ini juga berpotensi merembet ke nilai tukar rupiah, karena kebutuhan devisa untuk impor minyak meningkat seiring harga yang lebih tinggi.
Dari sisi konsumen, efeknya bisa terasa pada harga bahan bakar nonsubsidi yang lebih cepat menyesuaikan pasar, serta pada biaya logistik dan transportasi yang pada akhirnya mendorong inflasi pangan dan barang jadi. Pemerintah memiliki ruang terbatas untuk menahan dampak ini tanpa mengorbankan kredibilitas fiskal, terutama jika harga minyak bertahan di atas US$100 per barel hingga kuartal pertama tahun depan.
Ke depan, arah harga minyak akan sangat bergantung pada dua hal: apakah perundingan tidak langsung AS-Iran menghasilkan terobosan konkret, dan apakah ketegangan Arab Saudi-Houthi serta situasi di Selat Hormuz tetap terkendali. Jika diplomasi berjalan, premi risiko bisa mengendur dan harga berpotensi terkoreksi. Namun jika eskalasi militer kembali terjadi pasca pemilihan sela AS, pasar harus bersiap menghadapi skenario harga minyak yang jauh lebih tinggi โ dan bagi Indonesia, itu berarti tekanan baru pada anggaran, rupiah, dan daya beli masyarakat.



