LONGi Cetak Rekor Efisiensi Sel Surya 28,29%, Hampir Sentuh Batas Teoretis
Baca dalam 60 detik
- LONGi mencatat efisiensi konversi daya 28,29% untuk sel surya silikon HIBC, memecahkan rekor sebelumnya 28,13%.
- Pencapaian ini membawa sel surya kristalin silikon ke 96,2% dari batas teoretis, mempercepat akses listrik bersih yang lebih murah.
- Tantangan berikutnya adalah mengurangi kerugian resistif pada kontak p-type dan mendorong komersialisasi massal.

Perusahaan fotovoltaik asal Tiongkok, LONGi, mengumumkan pencapaian efisiensi konversi daya sebesar 28,29% untuk sel surya silikon hibrida interdigitated-back-contact (HIBC). Angka ini melampaui rekor sebelumnya 28,13% yang diraih pada Mei lalu dan telah diverifikasi oleh Institute for Solar Energy Research Hamelin (ISFH) di Jerman, seperti dilaporkan pv magazine.
Rekor ini menandai ketiga kalinya LONGi memecahkan rekor dunia sepanjang tahun 2026, setelah sebelumnya mencatat efisiensi 28,04% dan 28,13%. Menurut perhitungan perusahaan, sel surya kristalin silikon kini telah mencapai 96,2% dari efisiensi maksimum teoretisnya. Artinya, ruang untuk peningkatan lebih lanjut semakin sempit, dan setiap persen menjadi semakin berharga.
Efisiensi yang lebih tinggi memungkinkan sel surya menghasilkan lebih banyak listrik dari jumlah sinar matahari dan luas area yang sama. Dalam konteks global, peningkatan ini berpotensi menekan biaya listrik bersih dan membuat energi surya lebih praktis di wilayah dengan lahan terbatas, seperti atap gedung di perkotaan padat atau pulau-pulau kecil.
Dalam makalah ilmiah yang diterbitkan November lalu, LONGi merinci arsitektur sel HIBC yang menggabungkan kontak tunneling pasif dengan lapisan pasivasi dielektrik, serta kontak tipe-n dan tipe-p. Sel ini dibangun di atas wafer M10 setengah potong dengan resistivitas tinggi, dan mengintegrasikan pasivasi tepi bersama kontak tipe-n yang dioptimalkan melalui kombinasi proses suhu tinggi dan rendah.
Perusahaan juga menggunakan lapisan indium timah oksida (ITO) untuk membantu transportasi lateral, sementara lapisan aluminium oksida dan silikon nitrida berlapis berfungsi menekan rekombinasi permukaan. Selama fabrikasi, pendekatan pasivasi tepi in-situ menangani pasivasi tepi, sedangkan jari logam dalam dan etsa ITO selektif membatasi kebocoran antara kontak tipe-n dan tipe-p. LONGi menambahkan lapisan amorf silikon yang lebih tebal untuk meningkatkan cakupan junction dan enkapsulasi dinding samping, lalu mengkristalkannya dengan laser nanodetik hijau berdenyut guna menekan resistivitas kontak tanpa mengorbankan pasivasi.
"Ini menandai keberhasilan produksi massal teknologi mutakhir dan menunjukkan kemampuan LONGi yang kuat untuk mengembangkan produk PV premium serta mengomersialkan teknologi canggih," tulis perusahaan dalam siaran persnya.
Meski demikian, LONGi mengakui masih ada pekerjaan rumah: kerugian resistif pada kontak tipe-p perlu dikurangi lebih lanjut. Pendekatan ini disebut cocok untuk manufaktur sel surya heterojunction, namun tantangan komersialisasi tetap ada.
Bagi Indonesia, pencapaian ini bukan sekadar berita teknologi. Negara ini memiliki target ambisius bauran energi terbarukan, termasuk surya, namun terkendala oleh keterbatasan lahan dan biaya instalasi. Efisiensi sel yang lebih tinggi berarti setiap meter persegi panel dapat menghasilkan listrik lebih banyak, sehingga mengurangi kebutuhan lahan dan menekan biaya proyek PLTS. Jika teknologi ini dapat diproduksi massal dan harganya kompetitif, Indonesia berpeluang mempercepat transisi energi, terutama untuk pembangkit skala utilitas di daerah terpencil dan atap industri.
Selain itu, rantai pasok global panel surya didominasi oleh produsen Tiongkok seperti LONGi. Peningkatan efisiensi ini dapat memperkuat posisi mereka di pasar internasional, termasuk Indonesia, yang masih mengimpor sebagian besar komponen surya. Di sisi lain, ada peluang bagi industri dalam negeri untuk mengadopsi teknologi mutakhir ini melalui kemitraan atau alih teknologi, seiring dengan kebijakan pemerintah yang mendorong peningkatan kandungan lokal.
Rekor efisiensi juga terus berdatangan dari berbagai laboratorium. Peneliti di Singapura baru-baru ini mencatat efisiensi sel surya perovskite bersertifikat, sementara ilmuwan di Tiongkok mengatasi masalah kebocoran tersembunyi dan mendorong efisiensi sel tandem melewati 33%. Ini menunjukkan bahwa inovasi sel surya bergerak cepat, dan kombinasi material serta desain sel menjadi kunci.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah sel surya silikon akan mencapai batas teoretisnya, melainkan seberapa cepat teknologi ini dapat diproduksi massal dengan biaya yang terjangkau. Jika LONGi dan pesaingnya berhasil mengatasi hambatan teknis dan ekonomi, dunia—termasuk Indonesia—bisa menikmati listrik bersih yang lebih murah dan berkelanjutan. Namun, tanpa dukungan kebijakan dan investasi yang tepat, potensi ini bisa saja tetap menjadi rekor laboratorium belaka.



