Google Naikkan Harga TV Streamer Jadi $150, Sinyal Krisis Komponen Meluas
Baca dalam 60 detik
- Google resmi menaikkan harga Google TV Streamer dari $99,99 menjadi $149,99 per 31 Agustus, dipicu lonjakan biaya komponen terutama RAM.
- Kenaikan ini bagian dari penyesuaian harga sejumlah produk Nest dan Pixel, sementara Google Home Speaker tetap $99,99 karena sudah mengantisipasi kenaikan sejak awal.
- Bagi konsumen Indonesia, harga perangkat streaming dan smart home berpotensi ikut naik, sementara e-commerce lokal masih menjual stok lama dengan harga lama.

Google secara diam-diam menaikkan harga perangkat streaming andalannya, Google TV Streamer, dari $99,99 menjadi $149,99 di pasar Amerika Serikat. Kenaikan sebesar $50 atau sekitar 50 persen ini mulai berlaku efektif 31 Agustus dan telah terpasang di Google Store serta Best Buy, sementara sejumlah pengecer lain seperti Amazon masih bertahan dengan harga lama hingga Senin sore waktu setempat.
Langkah ini menandai pembalikan arah dari kebiasaan Google yang kerap memberikan diskon musiman. Sebelumnya, perangkat tersebut sempat dijual dengan potongan $20 pada periode liburan. Kini, kenaikan harga justru terjadi di tengah tekanan biaya komponen yang meluas, terutama harga RAM yang dilaporkan menjadi pemicu utama. Google TV Streamer sendiri dibekali RAM 4 GB dan penyimpanan 32 GB, spesifikasi yang cukup tinggi untuk kategori perangkat sejenis.
Dalam pernyataan resminya, Google menyebut penyesuaian ini tidak hanya berlaku untuk TV Streamer, tetapi juga mencakup beberapa model kamera Nest dan doorbell. "Karena kenaikan biaya komponen, kami menyesuaikan harga di AS untuk produk Nest cameras, doorbells, dan Google TV streamer 4K tertentu, efektif 31 Agustus," ujar juru bicara Google. Perusahaan menegaskan tetap berkomitmen menghadirkan fitur keamanan rumah pintar dan pembaruan perangkat lunak berkelanjutan.
Tekanan biaya RAM tidak hanya menghantam lini perangkat rumah. Google juga telah menyesuaikan harga seri Pixel 11 dan Pixel Watch 5, mengindikasikan bahwa kenaikan ini bersifat struktural, bukan sekadar penyesuaian satu produk. Keputusan untuk tidak menaikkan harga Google Home Speaker menunjukkan bahwa perusahaan memilih strategi selektif, mungkin untuk menjaga daya saing di segmen speaker pintar yang lebih sensitif harga.
"Kami tetap berkomitmen memberikan keamanan rumah pintar terdepan dan pembaruan fitur berkelanjutan bagi pelanggan," demikian pernyataan Google, dikutip dari pengumuman resminya.
Bagi konsumen di Indonesia, dampak kenaikan ini bisa terasa dalam beberapa bulan ke depan. Perangkat Google TV Streamer dan Nest Cam selama ini dijual melalui importir resmi maupun marketplace lintas negara. Dengan harga AS yang naik, biaya impor dan harga jual di dalam negeri berpotensi ikut menyesuaikan. Namun, saat ini sejumlah e-commerce lokal masih menawarkan stok lama dengan harga sebelum kenaikan, menciptakan jendela peluang bagi pembeli yang bergerak cepat.
Selain itu, kenaikan harga RAM global juga menjadi peringatan bagi industri elektronik nasional. Produsen perangkat pintar lokal yang bergantung pada komponen impor mungkin akan menghadapi tekanan serupa. Jika tren ini berlanjut, harga perangkat smart home di pasar Indonesia bisa naik pada kuartal IV 2025, terutama untuk produk yang menggunakan RAM berkapasitas besar.
Pertanyaannya, apakah Google akan kembali memberikan diskon pada musim belanja akhir tahun, atau justru mempertahankan harga baru sebagai standar? Sementara itu, pengecer yang masih menjual dengan harga lama menjadi buruan konsumen, tetapi stok terbatas. Dalam beberapa pekan ke depan, kita akan melihat siapa yang pertama menyerah dan menyesuaikan harga, serta apakah kenaikan ini memicu gelombang serupa dari produsen lain.



