Scott Bessent Rekrut Ekonom Wall Street David Zervos ke Treasury di Tengah Gejolak Pasar Obligasi
Baca dalam 60 detik
- Menteri Keuangan AS Scott Bessent menunjuk David Zervos, mantan chief market strategist Jefferies, sebagai penasihat tanpa perlu konfirmasi Senat.
- Penunjukan terjadi saat yield obligasi AS 10 tahun menyentuh 5,2%, level tertinggi sejak 2007, akibat belanja AI dan kekhawatiran inflasi.
- Zervos mendukung pembelian kembali obligasi jangka panjang dan penurunan suku bunga Fed, berbeda dengan sikap bank sentral yang baru menaikkan suku bunga.

Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent resmi merekrut David Zervos, ekonom senior Wall Street yang lama menjabat chief market strategist di Jefferies, sebagai penasihat di Departemen Keuangan. Langkah ini diumumkan langsung oleh Bessent pada Senin (28/9) dan berlaku efektif segera, tanpa memerlukan konfirmasi Senat. Penunjukan ini menjadi sinyal bahwa Washington ingin memperkuat barisan ekonomi di tengah tekanan pasar obligasi yang kian nyata.
Zervos bukan nama baru di lingkaran kebijakan moneter. Ia menghabiskan lebih dari 15 tahun di Jefferies, dua kali bekerja untuk Federal Reserve, dan sempat dipertimbangkan Donald Trump untuk memimpin bank sentral sebelum akhirnya kursi itu jatuh ke Kevin Warsh pada Januari lalu. Dalam wawancara singkat, Zervos menyebut dirinya sebagai "Wall Street geek" dan mengaku antusias menjalani masa bakti ketiganya di pemerintahan. Ia memuji Bessent yang dinilainya mampu mengarahkan ekonomi melewati berbagai periode bergejolak, baik di ranah perdagangan maupun geopolitik.
Masuknya Zervos ke Treasury terjadi di momen yang tidak biasa. Tujuh dari 16 pejabat yang memerlukan konfirmasi Senat telah meninggalkan departemen tersebut per pertengahan Agustus, dan Bessent kini mencatatkan chief of staff ketiganya sejak menjabat Januari 2025. Posisi counselor yang diisi Zervos sebelumnya ditempati ekonom Wall Street Joseph Lavorgna, yang hebat pada Maret. Karena tidak memerlukan konfirmasi Senat, posisi ini memungkinkan Zervos bergerak cepat tanpa hambatan birokrasi.
Yang membuat penunjukan ini penting adalah posisi Zervos yang berseberangan dengan arah kebijakan Fed saat ini. Ia secara terbuka mendukung keputusan Bessent menambah pembelian kembali obligasi jangka panjang, langkah yang sempat dikritik sebagian kalangan Wall Street karena dianggap mengintervensi pasar. Zervos juga berpendapat suku bunga seharusnya "jauh lebih rendah" dan melihat pemangkasan neraca Fed sebagai jalan untuk menciptakan ruang penurunan suku bungaโsejalan dengan prioritas Warsh. Pernyataannya bulan lalu di CNBC menegaskan sikapnya: "Saya tidak melihat bagaimana Anda bisa melawan ini ketika kekuatan dan kartu-kartunya semua ada di Departemen Keuangan."
Bagi Indonesia, dinamika ini bukan sekadar berita ekonomi global. Yield Treasury yang tinggi membuat imbal hasil obligasi negara berkembang, termasuk SUN, kurang menarik bagi investor global. Tekanan ini berpotensi memperlebar spread yield SUN terhadap UST, melemahkan rupiah, dan memaksa Bank Indonesia menjaga suku bunga acuan tetap tinggi lebih lama. Di sisi lain, jika Zervos berhasil mendorong penurunan suku bunga AS, aliran modal ke pasar emerging market bisa kembali mengalir, memberi ruang bagi BI untuk melonggarkan kebijakan. Pemerintah juga perlu mencermati dampak tidak langsung terhadap belanja infrastruktur dan program hilirisasi yang bergantung pada pembiayaan global.
"Bessent telah melakukan pekerjaan luar biasa dalam pemerintahan ini untuk membimbing ekonomi melalui banyak periode yang penuh gejolak. Baik itu perdagangan, baik itu perang, dia selalu siap," ujar Zervos.
Ke depan, pasar akan mencermati apakah kehadiran Zervos benar-benar mengubah arah kebijakan Treasury, terutama dalam menghadapi lonjakan yield dan ketegangan geopolitik yang masih membayangi. Dengan masa jabatan yang berakhir April 2027, jendela pengaruhnya terbatas. Pertanyaannya, apakah satu ekonom Wall Street cukup untuk menenangkan pasar yang gelisah, atau justru memperuncing perbedaan antara Gedung Putih dan Federal Reserve?



