Google Uji Cip TPU di Orbit Bumi, Buka Jalan Pusat Data AI di Antariksa
Baca dalam 60 detik
- Google akan meluncurkan satelit prototipe berisi Tensor Processing Unit (TPU) ke orbit rendah Bumi pada misi Transporter-18 SpaceX pekan depan.
- Uji terbang ini bertujuan mengukur ketahanan cip terhadap guncangan peluncuran, radiasi, dan fluktuasi suhu ekstrem sebelum membangun kluster satelit komputasi AI.
- Jika berhasil, konsep ini dapat mengubah lanskap infrastruktur AI global, namun tantangan biaya dan kepadatan orbit masih membayangi.

Google bersiap meluncurkan satelit prototipe yang membawa Tensor Processing Unit (TPU) ke orbit rendah Bumi (LEO) pekan depan melalui misi rideshare Transporter-18 milik SpaceX. Langkah ini menandai uji coba pertama Project Suncatcher, inisiatif riset ambisius yang mengeksplorasi kemungkinan menempatkan infrastruktur komputasi AI berskala besar di luar angkasa. Satelit tersebut dikembangkan bersama Planet, perusahaan pencitraan satelit, dan akan menjadi pembuktian awal apakah perangkat keras AI mampu bertahan di lingkungan ekstrem antariksa.
Misi ini bukan untuk mengoperasikan pusat data orbit secara komersial, melainkan mengumpulkan data riil tentang performa TPU saat menghadapi tekanan peluncuran, paparan radiasi kosmik, serta perubahan suhu drastis di LEO. Google mengungkapkan bahwa pengujian darat telah dilakukan, termasuk simulasi guncangan multiaksial yang setara dengan gaya 50–100 kali gravitasi Bumi. Selain itu, cip Trillium TPU diuji dengan berkas proton di Laboratorium Nuklir Crocker, Universitas California, Davis, sambil menjalankan beban kerja AI. Hasilnya, cip tersebut bertahan terhadap akumulasi radiasi yang melampaui perkiraan paparan selama lima tahun misi di orbit.
Tantangan berikutnya adalah manajemen panas. Di ruang hampa, panas yang dihasilkan TPU tidak dapat didisipasi melalui konveksi, sehingga sepenuhnya mengandalkan permukaan radiatif. Desain termal Google saat ini menggabungkan pipa panas dengan radiator, yang telah divalidasi dalam uji ruang vakum termal di darat. Pendekatan ini krusial karena TPU beroperasi pada kepadatan daya tinggi yang dapat menyebabkan overheating jika tidak dikelola dengan baik.
Fase pengujian selanjutnya dijadwalkan pada 2027, ketika Google berencana menempatkan dua satelit untuk mengevaluasi tautan laser berbandwidth tinggi yang diperlukan oleh kluster satelit pembawa TPU di masa depan. Sistem komunikasi laser yang ada saat ini umumnya dirancang untuk bandwidth rendah jarak jauh, sedangkan desain Google menuntut bandwidth tinggi pada jarak pendek—sebuah tantangan presisi yang oleh perusahaan diibaratkan seperti mengenai target seukuran koin dari jarak bermil-mil sementara kedua titik bergerak.
Orbit rendah Bumi saat ini sudah padat dengan sekitar 44.870 objek terpantau, mayoritas merupakan puing antariksa. Arsitektur lengkap Suncatcher membayangkan kluster 81 satelit terbang dalam formasi dalam radius satu kilometer pada ketinggian sekitar 650 kilometer, salah satu lapisan orbit yang paling ramai. Para ahli menilai konsep ini masih beberapa tahun lagi dari viabilitas komersial mengingat tingginya biaya peluncuran, kendala rekayasa, dan hambatan produksi satelit.
"Kami tidak hanya menguji apakah cip dapat bertahan, tetapi juga bagaimana mereka berperilaku dalam kondisi yang tidak dapat direplikasi sepenuhnya di Bumi," ujar seorang juru bicara Google, seperti dikutip dari sumber yang sama.
Google tidak sendirian. Startup Starcloud yang didukung Nvidia telah meluncurkan cip H100 ke orbit pada November lalu. SpaceX juga menargetkan akhir 2027 untuk satelit AI Starmind pertama mereka yang ditenagai cip Nvidia. Persaingan di ranah komputasi orbit ini menunjukkan bahwa industri mulai serius mempertimbangkan luar angkasa sebagai lokasi strategis untuk beban kerja AI yang intensif energi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menawarkan peluang dan tantangan. Sebagai negara kepulauan dengan kebutuhan konektivitas tinggi, infrastruktur komputasi orbit dapat mempercepat layanan AI di daerah terpencil, namun juga menuntut kesiapan regulasi dan sumber daya manusia. Pemerintah perlu mengantisipasi implikasi tata kelola ruang angkasa, termasuk potensi penumpukan satelit di orbit rendah yang dapat mengganggu operasi satelit nasional. Selain itu, ketergantungan pada teknologi asing untuk komputasi orbit bisa menjadi risiko kedaulatan digital jika tidak diimbangi dengan riset lokal.
Ke depan, pertanyaan besarnya bukan hanya apakah TPU dapat bertahan di antariksa, tetapi apakah model bisnis pusat data orbit akan cukup ekonomis untuk menggantikan sebagian infrastruktur darat. Jika Google dan pesaingnya berhasil membuktikan konsep ini, lanskap komputasi global dapat bergeser secara fundamental—dengan implikasi besar bagi negara-negara yang ingin memanfaatkan AI tanpa terbatas pada lokasi fisik pusat data.



