Dokumen Pengadilan Terbongkar: Integrasi ChatGPT di Siri Disebut Gagal Total, Pengguna Apple Intelligence Minim
Baca dalam 60 detik
- OpenAI mengungkap dalam berkas hukum bahwa penyerapan ChatGPT melalui Apple Intelligence sangat rendah, jauh di bawah ekspektasi.
- Proses opt-in berlapis dan keterbatasan Siri diduga menjadi penyebab utama adopsi yang lesu.
- Kegagalan ini menjadi cermin bagi raksasa teknologi bahwa integrasi AI tanpa pengalaman pengguna yang mulus berisiko ditinggalkan pasar.

OpenAI secara terang-terangan menyebut integrasi ChatGPT ke dalam ekosistem Apple Intelligence sebagai kegagalan yang nyaris tidak menghasilkan dampak. Klaim itu termuat dalam dokumen pengadilan yang diajukan perusahaan tersebut dalam sengketa melawan xAI, firma milik Elon Musk. Dokumen yang sebagian besar disunting itu menyatakan bahwa saat xAI melayangkan gugatan, "sudah jelas bahwa integrasi ChatGPT oleh Apple mengalami kinerja yang sangat buruk."
Berkas tersebut tidak sekadar menggambarkan satu kali kejadian. OpenAI menegaskan bahwa masalahnya bersifat berkelanjutan—"persistently underperforming"—sebuah indikasi bahwa kemitraan yang diumumkan pada Desember 2024 itu tidak pernah benar-benar diterima pengguna. Padahal, Apple menyediakan akses ChatGPT melalui beberapa titik, termasuk fitur Visual Intelligence yang memungkinkan pengguna mendapatkan konteks tambahan saat memotret dengan iPhone.
Yang menarik, dokumen itu juga menyinggung peran saksi ahli OpenAI, Dr. Catherine Tucker, yang menghitung proporsi konsumen AI generatif yang mengakses ChatGPT lewat Apple Intelligence. Hasilnya, menurut OpenAI, sejalan dengan pandangan internal mereka bahwa "Apple Intelligence mencatat penggunaan yang minimal." Angka pastinya tidak dipublikasikan karena bagian ini diredaksi, tetapi implikasinya jelas: adopsi ChatGPT di perangkat Apple jauh dari harapan.
Sejumlah analis menilai kegagalan ini bukan semata soal teknis, melainkan cerminan dari pengalaman pengguna yang berbelit. Untuk mengaktifkan ChatGPT, pengguna harus masuk ke aplikasi Pengaturan, menelusuri beberapa menu, dan melewati serangkaian langkah. Friksi semacam itu, menurut pengamat industri, cukup untuk membuat calon pengguna mundur di tengah jalan. Belum lagi posisi Siri yang saat itu masih tertinggal dibandingkan asisten AI lain, sehingga membawa beban ganda bagi ChatGPT.
Dari sudut pandang strategi, kegagalan integrasi ini menyoroti risiko besar ketika perusahaan teknologi memaksakan kemitraan AI tanpa membenahi antarmuka dan nilai tambah yang jelas. Apple Intelligence sendiri, saat pertama kali diperkenalkan, dinilai belum matang dan kalah bersaing dengan solusi dari Google maupun Microsoft. Kesan pertama yang buruk itu kemudian menular ke layanan pihak ketiga yang menumpang di atasnya, termasuk ChatGPT.
"Dokumen pengadilan mengonfirmasi bahwa sekadar menempelkan AI canggih ke dalam perangkat tidak cukup. Pengguna harus diberi alasan kuat dan jalan yang mudah untuk mengadopsinya," ujar seorang analis teknologi yang memantau persaingan AI global, seperti dikutip dari sejumlah laporan industri.
Bagi Indonesia, pelajaran ini relevan. Pasar digital Tanah Air tengah bergeliat dengan adopsi AI generatif, baik di kalangan konsumen maupun pelaku usaha. Integrasi AI ke dalam layanan sehari-hari—dari aplikasi pesan, e-commerce, hingga perbankan—semakin masif. Jika perusahaan lokal hanya mengejar kemitraan dengan penyedia AI global tanpa merancang alur penggunaan yang sederhana, mereka berisiko mengalami nasib serupa: teknologi canggih tetapi sepi pengguna. Regulasi perlindungan data dan kenyamanan pengguna juga menjadi faktor penentu, terutama dengan hadirnya aturan baru di kawasan Asia Tenggara.
Ke depan, Apple tampaknya berupaya bangkit melalui Siri AI yang diklaim lebih mumpuni. Namun, OpenAI mungkin menyesali mengapa tidak bermitra dengan versi Siri yang lebih matang sejak awal. Pertanyaannya, akankah Apple mampu meyakinkan pengguna bahwa AI-nya kali ini benar-benar berbeda, atau justru membuka peluang bagi pesaing seperti Google Gemini untuk mengukuhkan dominasi di perangkat iOS?



