Google Uji Coba Data Center AI di Orbit Bumi, Langkah Awal Komputasi Luar Angkasa
Baca dalam 60 detik
- Google akan meluncurkan satelit prototipe pada 1 Oktober 2025 untuk menguji kelayakan chip AI Tensor Processing Unit (TPU) di luar angkasa.
- Inisiatif bernama Project Suncatcher ini bertujuan memanfaatkan sinar matahari konstan di orbit rendah Bumi yang dapat menghasilkan listrik delapan kali lebih besar daripada di darat.
- Jika berhasil, proyek ini dapat membuka jalan bagi pusat data AI orbital, meskipun Google memprediksi komersialisasi masih butuh bertahun-tahun.

Google dikabarkan akan mengirim perangkat keras kecerdasan buatan ke luar angkasa melalui misi yang dijadwalkan meluncur pada 1 Oktober 2025 dari Pangkalan Angkatan Luar Angkasa Vandenberg, California. Satelit prototipe itu akan diterbangkan menggunakan roket Falcon 9 milik SpaceX, menandai langkah awal ambisi perusahaan untuk menempatkan pusat data AI di orbit Bumi.
Inisiatif ini merupakan bagian dari Project Suncatcher, yang pertama kali diperkenalkan pada November tahun lalu. Google menargetkan dua satelit prototipe pada awal 2027 untuk menguji perangkat keras mereka di orbit, dengan tujuan jangka panjang membangun era komputasi berskala besar di luar angkasa. Peluncuran perdana ini bukan pengiriman pusat data lengkap, melainkan versi eksperimental untuk mengukur kinerja chip AI mereka, Tensor Processing Unit (TPU), dalam kondisi ekstrem.
Menurut blog resmi Google, orbit rendah Bumi menawarkan akses sinar matahari hampir terus-menerus, memungkinkan satelit menghasilkan energi surya hingga delapan kali lebih besar dibandingkan di permukaan Bumi. Keunggulan ini dinilai dapat mendukung beban kerja AI yang besar, terutama jika beberapa konstelasi satelit saling terhubung. Namun, tantangan teknis tidak sedikit, mulai dari ketahanan chip terhadap radiasi hingga pendinginan tanpa aliran udara.
Google mengungkapkan bahwa pengujian awal menunjukkan TPU Trillium mereka mampu bertahan terhadap radiasi total ionisasi yang lebih tinggi daripada yang akan diterima selama misi luar angkasa lima tahun. Tim juga telah menguji pendinginan chip di ruang vakum termal yang mensimulasikan lingkungan luar angkasa. Karena tidak ada udara di orbit, pendinginan menjadi tantangan tersendiri, mengingat TPU menghasilkan panas besar di area kecil.
Untuk konektivitas antar satelit, Google akan menggunakan laser berkecepatan tinggi. Perusahaan mencatat bahwa sistem laser mereka harus beroperasi pada bandwidth sangat tinggi dalam jarak sangat pendek, berbeda dari teknologi luar angkasa yang ada yang dioptimalkan untuk jarak jauh dengan bandwidth rendah. Presisi yang dibutuhkan setara dengan menembak target seukuran koin dari jarak bermil-mil saat kedua titik bergerak. Uji coba koneksi laser ini akan dilakukan pada 2027 ketika dua satelit ditempatkan di orbit.
"Kami tidak berharap, secara jujur, akan memiliki sesuatu yang beroperasi secara berguna dalam beberapa tahun ke depan," ujar James Manyika, Senior Vice President Google, kepada The New York Times. Ia membandingkannya dengan proyek mobil tanpa pengemudi Google yang butuh 15 tahun riset sebelum membuahkan hasil.
Langkah Google ini bukan yang pertama di industri. Desember lalu, The Wall Street Journal melaporkan bahwa Jeff Bezos dan Elon Musk, pendiri Blue Origin dan SpaceX, juga tengah mengembangkan pusat data AI di orbit. Sumber menyebut tim Blue Origin telah mengerjakan teknologi tersebut selama lebih dari setahun, sementara SpaceX berencana meluncurkan versi upgrade satelit Starlink untuk menyediakan muatan komputasi AI.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membuka wawasan tentang masa depan infrastruktur digital. Ketika pusat data konvensional di darat menghadapi kendala lahan, energi, dan pendinginan, komputasi orbital bisa menjadi alternatif jangka panjang. Namun, ketergantungan pada teknologi luar angkasa juga menimbulkan pertanyaan tentang kedaulatan data dan akses negara berkembang. Indonesia yang sedang membangun ekosistem AI dan pusat data nasional perlu mencermati tren ini, termasuk potensi kerja sama atau regulasi internasional yang mengatur komputasi di orbit.
Google sendiri menegaskan bahwa perjalanan ini membutuhkan rekayasa metodis. "Peluncuran pertama ini adalah tentang melihat apa yang berhasil, mengidentifikasi titik kegagalan, dan menerapkan temuan tersebut untuk misi mendatang," tulis perusahaan. Dengan kata lain, hasil dari misi 1 Oktober nanti akan menjadi pijakan apakah visi pusat data AI di luar angkasa benar-benar dapat diwujudkan atau hanya menjadi eksperimen mahal tanpa hasil komersial dalam waktu dekat.



