Yield Treasury AS Melonjak ke Level Tertinggi 19 Tahun, Sinyal Kenaikan Suku Bunga Lanjutan
Baca dalam 60 detik
- Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun menembus 5,058%, level tertinggi sejak Juli 2007, dipicu data ekonomi yang panas.
- Peluang kenaikan suku bunga Fed pada Oktober melonjak menjadi 64%, sementara sebulan lalu masih di bawah 10%.
- Rupiah dan pasar obligasi Indonesia berpotensi tertekan jika The Fed kembali menaikkan suku bunga, memaksa BI menjaga daya tarik imbal hasil domestik.

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) melesat ke level tertinggi dalam 19 tahun pada Rabu (23/9/2026) waktu setempat, setelah rilis data sektor jasa dan manufaktur yang jauh melampaui ekspektasi memicu kekhawatiran pasar bahwa Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Yield obligasi AS tenor 10 tahun—acuan global untuk biaya pinjaman jangka panjang—melonjak 7 basis poin menjadi 5,058%, level yang terakhir kali terlihat pada Juli 2007. Yield tenor 2 tahun naik 8 basis poin ke 4,464%, sedangkan tenor 30 tahun bertambah lebih dari 4 basis poin menjadi 5,347%. Kenaikan yield terjadi seiring harga obligasi yang bergerak berlawanan arah.
Pemicu utama adalah Indeks Manajer Pembelian (PMI) sektor jasa dari S&P Global yang melonjak ke 58,7 pada September, tertinggi dalam hampir lima tahun, dari 56,5 pada Agustus. PMI manufaktur juga melesat ke 56,7, level yang tidak terlihat sejak lebih dari empat tahun. "Aktivitas bisnis AS terus meledak," ujar Chris Williamson, kepala ekonom S&P Global Market Intelligence, dalam pernyataannya. Ia menambahkan bahwa lonjakan ini merupakan yang terbesar sejak awal 2015, di luar lonjakan permintaan pasca-lockdown Covid-19.
Namun, di balik ekspansi tersebut, tekanan biaya input juga meningkat tajam. Williamson mencatat biaya input pada September naik dengan laju tercepat dalam empat tahun, didorong oleh lonjakan harga bahan bakar dan transportasi seiring kenaikan harga minyak. Kondisi ini memperkuat narasi bahwa inflasi masih belum sepenuhnya terkendali.
Sentimen pasar semakin memburuk setelah Gubernur Fed, Michael Barr, menyatakan bahwa kenaikan suku bunga lebih lanjut kemungkinan besar diperlukan karena "risiko terhadap pencapaian target inflasi kami telah meningkat." Fed sendiri telah menaikkan suku bunga acuan minggu lalu sebagai respons terhadap harga energi yang terus tinggi dan membuat inflasi bertahan di level yang tinggi.
Menurut alat FedWatch milik CME Group, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober melonjak menjadi 64% pada Rabu, dari 55% pada Selasa, dan hanya di bawah 10% sebulan sebelumnya. Ekspektasi ini mencerminkan pergeseran cepat dalam pandangan pelaku pasar terhadap arah kebijakan The Fed.
Bagi Indonesia, lonjakan yield AS menjadi sinyal waspada. Selisih imbal hasil antara obligasi AS dan Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia yang menyempit dapat memicu arus modal keluar dari pasar keuangan domestik, menekan nilai tukar rupiah, dan pada gilirannya mempersempit ruang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga. Pemerintah juga menghadapi risiko kenaikan biaya utang baru, baik di pasar global maupun domestik, yang dapat membebani anggaran.
Dalam beberapa pekan terakhir, investor asing telah mencatatkan aksi jual bersih di pasar SBN, meskipun tekanan belum separah periode tapering 2013. Bank Indonesia diperkirakan akan terus mengintervensi pasar untuk menjaga stabilitas rupiah, sambil mempertahankan suku bunga acuan yang kompetitif untuk menahan imbal hasil yang menarik.
Ke depan, fokus pasar tertuju pada data inflasi AS dan pertemuan Fed berikutnya pada November. Jika data ekonomi terus menunjukkan ketangguhan, peluang kenaikan suku bunga Desember akan semakin besar, yang dapat memperpanjang tekanan terhadap aset emerging market, termasuk Indonesia. Pertanyaannya, seberapa lama pasar obligasi domestik mampu menahan guncangan sebelum BI terpaksa menaikkan suku bunga untuk mempertahankan daya tarik imbal hasil?



