Tembok Kuno di Bawah Paris Guncang Teori Asal Kota: Lutetia di Île de la Cité atau Nanterre?
Baca dalam 60 detik
- Struktur Gallo-Romawi sepanjang 20 meter ditemukan di bawah Hôtel-Dieu, Île de la Cité, Paris, diduga bagian benteng Lutetia.
- Temuan ini memperkuat klaim bahwa pusat permukiman kuno Paris berada di pulau tersebut, bukan di Nanterre seperti teori saingan.
- Kementerian Kebudayaan Prancis menyebut bukti awal mengarah pada periode 200 SM–10 SM, termasuk jejak kebakaran yang mungkin terkait Perang Lutetia 52 SM.

Sebuah tembok berusia lebih dari dua milenium ditemukan di bawah jantung Kota Paris, memicu perdebatan arkeologis tentang lokasi permukiman pertama yang menjadi cikal bakal ibu kota Prancis. Struktur dari periode Gallo-Romawi itu membentang sekitar 20 meter dan terletak di bawah bangunan Rumah Sakit Hôtel-Dieu, di Île de la Cité, tak jauh dari Katedral Notre-Dame.
Menurut Kementerian Kebudayaan Prancis, penemuan ini digadang sebagai terobosan besar karena berpotensi mengonfirmasi bahwa pusat Lutetia—nama kuno Paris—memang berada di pulau di Sungai Seine tersebut. Selama ini, Île de la Cité dianggap sebagai lokasi inti permukiman kuno, tetapi sejumlah riset arkeologi mengajukan teori tandingan yang menempatkan Lutetia di Nanterre, pinggiran barat Paris.
Tembok berbahan batu dan kayu itu diduga bagian dari benteng yang dibangun oleh suku Parisii, komunitas Galia yang mendiami tepian Seine pada Zaman Besi. Yang menarik, struktur tersebut memperlihatkan jejak terbakar. Ini bersesuaian dengan catatan Julius Caesar dalam Gallic Wars bahwa suku Galia membakar kota mereka sebelum Pertempuran Lutetia melawan Romawi pada 52 SM.
Menteri Kebudayaan Catherine Pégard dalam pernyataannya menyebut temuan ini sebagai salah satu peninggalan paling penting untuk memahami Lutetia Galia. Meski demikian, ia menekankan bahwa kehati-hatian ilmiah tetap diperlukan untuk memastikan fungsi dan kronologi struktur tersebut. “Konvergensi bukti pada tahap ini sungguh luar biasa,” ujarnya.
“Kita mungkin sedang melihat salah satu sisa peninggalan terpenting yang pernah ditemukan untuk memahami Lutetia Galia. Kehati-hatian ilmiah masih menuntut kami memverifikasi fungsi dan kronologinya, tetapi konvergensi bukti pada tahap ini sungguh luar biasa.” — Catherine Pégard, Menteri Kebudayaan Prancis
Lutetia pertama kali disebut dalam buku ketujuh Gallic Wars karya Julius Caesar, yang menggambarkannya berada di sebuah pulau di Sungai Seine. Deskripsi samar itu selama berabad-abad melahirkan berbagai spekulasi mengenai letak persisnya. Penemuan tembok ini menjadi salah satu bukti fisik yang dapat menjawab teka-teki tersebut.
Île de la Cité sendiri merupakan pulau terbesar di Seine di kawasan Paris dan kemudian menjadi pusat permukiman Romawi Lutetia. Jika tembok ini benar bagian dari benteng pertahanan, maka narasi bahwa pusat kota kuno berada di pulau itu mendapat dukungan kuat. Sebaliknya, teori Nanterre yang didukung sebagian riset arkeologi akan menghadapi tantangan baru.
Konteks Indonesia: Pelajaran bagi Pelestarian Cagar Budaya
Bagi Indonesia, temuan ini bukan sekadar berita arkeologi mancanegara. Negara ini memiliki warisan serupa yang terkubur di bawah kota-kota modern, seperti Situs Banten Lama, Kota Tua Jakarta, atau kompleks candi di Jawa. Pendekatan Prancis yang melibatkan kementerian kebudayaan, penanggalan karbon, dan ekskavasi sistematis di bawah bangunan publik menunjukkan pentingnya integrasi antara pembangunan infrastruktur dan pelestarian cagar budaya.
Di dalam negeri, proyek-proyek seperti MRT Jakarta atau pembangunan jalan tol kerap bersinggungan dengan situs bersejarah. Kerangka regulasi yang memadai—termasuk kewajiban studi kelayakan arkeologi sebelum konstruksi—menjadi kunci agar temuan tak hilang begitu saja. Prancis memberikan contoh bagaimana penyelidikan ilmiah dapat berjalan seiring dengan proyek publik, meski tetap memerlukan verifikasi ketat.
Selain itu, penemuan ini menegaskan bahwa narasi sejarah suatu bangsa dapat berubah seiring bukti baru. Bagi Indonesia, yang memiliki banyak situs belum tergali, investasi dalam riset arkeologi dan teknologi penanggalan modern dapat membuka babak baru pemahaman atas masa lalu Nusantara. Masyarakat pun semakin kritis terhadap klaim sejarah yang selama ini dianggap mapan.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah tembok ini benar bagian dari Lutetia Galia, tetapi sejauh mana temuan ini akan memicu ekskavasi lanjutan di sekitar Île de la Cité dan Nanterre. Jika bukti menguat, buku teks sejarah Paris mungkin perlu direvisi—dan itu menjadi pengingat bahwa kota-kota besar selalu menyimpan lapisan cerita yang menunggu untuk diungkap.



