Studi Warwick: ADHD Berkaitan dengan Peningkatan 48% Risiko Gangguan Pencernaan
Baca dalam 60 detik
- Meta-analisis dari University of Warwick menemukan bahwa individu dengan ADHD memiliki kemungkinan 48% lebih tinggi mengalami gejala gastrointestinal dibandingkan populasi neurotipikal.
- Peneliti menduga sumbu usus-otak, pola makan tidak teratur, dan efek samping obat stimulan berperan dalam hubungan ini.
- Temuan ini mendorong klinisi untuk lebih proaktif menanyakan keluhan pencernaan pada pasien ADHD dan tidak mengabaikannya sebagai hal terpisah.

Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis terbaru dari Warwick Medical School, University of Warwick, Inggris, mengonfirmasi kaitan erat antara attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) dan berbagai keluhan saluran cerna. Riset yang menganalisis 23 studi dengan total lebih dari 1,9 juta partisipan ini menemukan bahwa diagnosis ADHD berhubungan dengan peningkatan odds gejala gastrointestinal sebesar 48% dibandingkan populasi tanpa ADHD.
Studi yang dipublikasikan di Journal of Attention Disorders tersebut menyimpulkan bahwa penyandang ADHD memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami "setiap gejala gastrointestinal yang diteliti". Data mencakup partisipan dari 11 negara, termasuk Amerika Serikat, Korea Selatan, Swedia, Yunani, India, dan Iran, dengan rentang usia 2 hingga 65 tahun. Temuan ini memperkuat bukti sebelumnya bahwa masalah pencernaan bukan sekadar keluhan sampingan, melainkan komorbiditas yang perlu perhatian serius.
Meski korelasi terbilang kuat, para peneliti belum dapat memastikan mengapa penyandang ADHD menghadapi risiko lebih tinggi. Sarah Blake, mahasiswa kedokteran dan penulis utama tinjauan tersebut, menduga sumbu usus-otak (gut-brain axis) memegang peranan penting. "Riset tentang komunikasi antara usus dan otak, serta perubahan mikrobioma usus, membuat tinjauan ini layak dilakukan," ujarnya. Ia juga menyoroti bahwa peningkatan gejala serupa telah lama teramati pada individu dengan gangguan spektrum autisme, meski timnya memilih fokus pada ADHD untuk menghindari kerancuan.
Sylvia Baker, psikiater konsultan di Re:Cognition Health yang tidak terlibat dalam riset, menilai hubungan ini sangat kompleks dan tidak dapat dijelaskan oleh satu faktor tunggal. Menurutnya, karakteristik perilaku ADHD—seperti melewatkan waktu makan, makan terburu-buru, episode makan impulsif, atau preferensi sensorik terhadap tekstur makanan—dapat secara langsung memengaruhi fungsi usus. "Semua faktor ini mampu memengaruhi fungsi bowel dan gejala pencernaan," jelas Baker. Selain itu, stres dan disregulasi emosi turut berperan melalui jalur usus-otak, yang dapat meningkatkan sensitivitas visceral dan memicu kondisi seperti IBS.
"Orang dengan ADHD mungkin lebih sering melewatkan makan, makan tidak teratur, makan cepat, atau mengalami periode makan impulsif. Beberapa juga memiliki preferensi sensorik kuat terhadap tekstur, rasa, atau bau makanan, yang dapat menyebabkan pola makan lebih sempit dan asupan serat lebih rendah." — Sylvia Baker, MRCpsych
Baker juga mengingatkan bahwa obat stimulan yang umum diresepkan untuk ADHD dapat menimbulkan efek samping gastrointestinal, seperti penurunan nafsu makan, nyeri perut, mual, dan sembelit. "Ini salah satu alasan penting untuk tidak menganggap setiap gejala pencernaan pada penyandang ADHD sebagai bagian dari kondisinya," tegasnya. Ia menyarankan agar pasien mendiskusikan dengan dokter jika gejala muncul atau memburuk setelah memulai atau mengubah obat ADHD.
Bagi penyandang ADHD, langkah awal yang bisa dilakukan adalah mengenali koneksi ini dan tidak mengabaikan keluhan pencernaan yang menetap. Baker merekomendasikan pembangunan rutinitas, seperti jadwal makan teratur, asupan cairan cukup, serat memadai, dan aktivitas fisik. "Menetapkan pengingat untuk makan dan hidrasi, menyediakan makanan bergizi sederhana, serta menciptakan rutinitas yang dapat diprediksi dapat membuat perubahan ini lebih mudah dicapai," sarannya. Ia juga menekankan pentingnya mengelola tidur dan stres, serta berhati-hati terhadap diet restriktif atau suplemen tanpa konsultasi medis.
Blake menambahkan bahwa sejak publikasi, banyak orang tua menghubunginya untuk mencari dukungan bagi anak-anak mereka yang mengalami masalah pencernaan. "Pengalaman mereka memperkuat mengapa pertanyaan ini penting, meskipun riset kami tidak dapat menjelaskan gejala setiap anak," katanya. Ia berharap temuan ini mendorong klinisi untuk menanyakan gejala usus yang menetap dan mempertimbangkan dampaknya terhadap kualitas hidup.
Ke depan, Baker mendesak adanya studi longitudinal berkualitas untuk melacak apakah gejala gastrointestinal muncul sebelum diagnosis ADHD, berkembang bersamaan, atau setelah pengobatan. Ia juga ingin melihat riset yang menggabungkan analisis mikrobioma usus dengan informasi klinis rinci tentang gejala ADHD, diet, obat, tidur, dan stres. "Saat ini, godaan untuk menganggap perbedaan mikrobioma sebagai penyebab langsung terlalu besar, tetapi bukti kita belum cukup," peringatnya. Pertanyaan kuncinya, apakah mengobati masalah pencernaan dapat memperbaiki gejala ADHD atau sebaliknya—dan itulah yang akan membuat riset ini bermanfaat secara klinis.



