72% Warga Amerika Pilih Nikmati Hidup Dulu, Tunda Target Finansial
Baca dalam 60 detik
- Survei SoFi terhadap 4.000 responden menemukan 72% orang Amerika rela memperlambat pencapaian tujuan keuangan demi pengalaman hidup yang bermakna.
- Hanya 27% yang menganggap kepemilikan rumah sebagai ukuran sukses finansial, sementara 59% mendefinisikan kemajuan dari kemampuan menikmati hidup.
- Perencana keuangan memperingatkan bahwa perilaku ini bisa menjadi bumerang jika tidak diimbangi dengan strategi pelunasan utang dan tabungan pensiun yang disiplin.

Sebuah survei terbaru dari perusahaan jasa keuangan digital SoFi mengungkap pergeseran signifikan dalam cara warga Amerika Serikat memandang kesuksesan finansial. Dari lebih dari 4.000 responden dewasa, 72% menyatakan bersedia memperlambat kemajuan menuju target keuangan demi bisa hadir bagi keluarga, berlibur, dan menciptakan kenangan bermakna. Temuan ini menantang narasi lama bahwa menabung dan berinvestasi harus menjadi prioritas mutlak di atas segalanya.
Survei yang dilakukan pada Juli 2026 itu juga menunjukkan bahwa hanya 27% responden yang mengaitkan kesuksesan finansial dengan kepemilikan rumah, sementara 59% justru mendefinisikannya sebagai kemampuan menikmati hidup. Bagi generasi muda, angka ini mencerminkan realitas ekonomi yang keras: harga properti yang melambung, beban utang pendidikan, dan upah yang nyaris tidak mengimbangi inflasi membuat tonggak-tonggak tradisional semakin sulit diraih.
Brian Walsh, perencana keuangan bersertifikat dan kepala penasihat di SoFi, menilai fenomena yang ia sebut sebagai lifemaxxing ini sebagai perkembangan positif selama individu tetap mengalokasikan dana untuk tujuan jangka panjang. "Anda bisa memiliki apa pun yang Anda inginkan. Anda hanya tidak bisa memiliki semuanya," ujarnya, menggambarkan inti dari prioritas keuangan yang sehat. Namun, ia juga memperingatkan bahwa perilaku ini bisa menjadi jalan licin jika pengeluaran untuk kesenangan saat ini mengorbankan stabilitas masa depan.
Tekanan sosial dan finansial menjadi pemicu utama. Meskipun biaya perjalanan, konser, dan hiburan terus naik, masyarakat tetap mengeluarkan uang untuk pengalaman tersebut. SoFi mencatat sekitar sepertiga responden mengambil utang demi menghadiri atau menyelenggarakan acara sosial. Walsh mengingatkan bahwa saldo kartu kredit yang menumpuk dapat berbunga dan berbunga lagi, membuat pelunasan semakin berat dan menggerus dana yang seharusnya ditabung untuk masa depan.
"Selama Anda punya rencana untuk merespons, itu jauh lebih realistis daripada hanya mengatakan orang harus menabung untuk segala hal. Manusia bukan robot," kata Walsh.
Ia menyarankan pendekatan terencana, misalnya menetapkan target melunasi utang dalam enam bulan dengan mengurangi pengeluaran diskresioner. Menurutnya, pengorbanan jangka pendek seperti memasak di rumah atau melewatkan liburan lain masih lebih baik daripada berutang tanpa strategi pelunasan.
Survei ini juga menyoroti paradoks di kalangan generasi muda. Sebanyak 67% Gen Z dan milenial ingin memiliki rumah, tetapi hanya 62% yakin bisa mewujudkannya. Keinginan bebas utang mencapai 63%, namun hanya 55% yang optimistis. Walsh melihat definisi kemerdekaan finansial kini berevolusi, dengan orang mulai merayakan tahapan-tahapan kecil. "Jika Anda hanya menetapkan tonggak yang baru tercapai puluhan tahun lagi, sangat sulit untuk tetap termotivasi," tambahnya.
Konteks Indonesia
Fenomena serupa mulai terlihat di Indonesia, terutama di kalangan milenial dan Gen Z perkotaan. Survei internal beberapa bank digital dan platform investasi ritel menunjukkan peningkatan porsi dana yang dialokasikan untuk pengalaman seperti liburan, konser, dan staycation, seiring dengan naiknya biaya hidup dan sulitnya membeli rumah. Meski data resmi terbatas, diskusi di media sosial dan komunitas keuangan menunjukkan pergeseran prioritas yang mirip: menikmati hidup sekarang sambil tetap menyisihkan untuk dana darurat dan investasi jangka panjang.
Perencana keuangan di Indonesia kerap mengingatkan pentingnya keseimbangan antara konsumsi dan tabungan. Utang konsumtif untuk gaya hidup tetap menjadi risiko, terlebih dengan bunga kartu kredit yang tinggi. Namun, pendekatan lifemaxxing yang terencana dapat menjadi strategi untuk menjaga kesehatan mental dan motivasi dalam mengelola keuangan jangka panjang, asalkan tidak mengorbankan tujuan utama seperti dana pensiun dan pendidikan anak.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah orang akan menunda tujuan finansial demi kebahagiaan, melainkan seberapa jauh mereka mampu merancang rencana yang memungkinkan keduanya berjalan seiring. Tanpa perencanaan yang matang, euforia menikmati hidup hari ini bisa berubah menjadi beban finansial di kemudian hari.



