Newcastle Punya 'Guimaraes Baru' di Bangku Cadangan, Jaissle Minta Waktu
Baca dalam 60 detik
- Aladji Bamba, rekrutan musim panas senilai £35 juta dari Monaco, belum sekalipun menjadi starter di Premier League sejak bergabung dengan Newcastle United.
- Pelatih Matthias Jaissle menegaskan absennya Bamba bukan karena kualitas, melainkan proses adaptasi terhadap intensitas dan fisik Liga Inggris yang jauh berbeda dari Ligue 1.
- Jika sabar, Bamba berpotensi menjelma menjadi penerus Bruno Guimaraes dan membentuk duet lini tengah Newcastle bersama Sean Steur dalam beberapa musim ke depan.

Newcastle United mengawali era kepelatihan Matthias Jaissle dengan modal ketangguhan, meski belum sepenuhnya meyakinkan. Di balik performa solid tersebut, tersimpan satu teka-teki: Aladji Bamba, gelandang muda yang ditebus £35 juta dari AS Monaco pada bursa transfer musim panas, hingga kini belum pernah dimainkan sebagai starter di Premier League.
Manajemen Newcastle sebenarnya sudah mendatangkan Bamba sebelum Jaissle resmi menangani tim, tepatnya pada periode Eddie Howe. Namun, keputusan menahannya di bangku cadangan bukanlah sinyal buruk. Jaissle secara terbuka menyatakan bahwa pemain asal Prancis itu masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan kerasnya kompetisi Inggris, terutama dari sisi fisik dan intensitas pertandingan.
"Pemain-pemain muda ini (Bamba dan Bazoumana Toure) baru saja bergabung, dan mereka sedang beradaptasi dengan fisik serta tuntutan Premier League. Ini berbeda dengan liga asal mereka," ujar Jaissle, seperti dikutip dari pernyataannya kepada media.
Pernyataan tersebut juga berlaku bagi Toure, winger muda yang didatangkan dari Hoffenheim dengan harga £43 juta. Keduanya merupakan investasi jangka panjang yang diharapkan menjadi tulang punggung Newcastle di masa depan, bukan sekadar pelengkap skuad.
Kepindahan Guimaraes ke Arsenal memang menjadi pukulan besar bagi lini tengah Newcastle. Gelandang asal Brasil itu adalah jantung permainan era Howe, mengantarkan klub ke dua kampanye Liga Champions dan trofi Carabao Cup 2025 setelah mengalahkan Liverpool di final. Namun, pada usia yang akan menginjak 30 tahun, menjualnya dengan harga £75 juta bisa dibilang langkah bisnis yang cerdas.
Yang menjadi pertanyaan sekarang: siapa yang akan mengisi kekosongan peran Guimaraes? Nama Bamba muncul sebagai kandidat kuat. Meski bukan duplikat identik, gaya bermainnya memiliki kemiripan dengan Guimaraes—kuat dalam duel, agresif merebut bola, serta cerdik mengalirkan umpan. Statistik dribelnya di Ligue 1 musim lalu bahkan menunjukkan potensinya sebagai penggerak bola dari lini tengah.
"Dia (Bamba) adalah monster perebut bola dengan kualitas alami yang mumpuni. Waktunya akan tiba," kata pengamat Newcastle, Bradley Robson, menggambarkan sosok Bamba.
Di sisi lain, Sean Steur yang juga direkrut pada musim panas telah menunjukkan performa menjanjikan. Jika Bamba mampu beradaptasi, Jaissle berpotensi meracik duet lini tengah yang solid dan dinamis untuk beberapa tahun ke depan—sebuah prospek yang tentu dinantikan para pendukung Newcastle.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, saga Bamba ini menjadi pengingat bahwa adaptasi pemain muda dari liga lain ke Premier League tidak pernah instan. Klub-klub besar seperti Newcastle kerap harus menahan diri untuk tidak buru-buru menurunkan rekrutan mahal mereka, demi menghindari risiko cedera atau penurunan kepercayaan diri. Kesabaran menjadi kunci, terutama ketika harga transfer tinggi menciptakan ekspektasi yang tidak realistis.
Ke depan, menarik untuk melihat apakah Jaissle akan segera memberikan menit bermain lebih banyak bagi Bamba, atau justru terus memolesnya perlahan hingga benar-benar siap. Jika proyeksi itu terwujud, Newcastle bisa memiliki gelandang kelas dunia tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan besar. Namun, jika terlalu lama dibiarkan menghangatkan bangku cadangan, bukan tidak mungkin bakat sebesar Bamba justru menguap begitu saja.



