Macklemore Didepak dari Tur Ed Sheeran, Musisi Dunia Berguguran Boikot
Baca dalam 60 detik
- Macklemore dicoret dari Loop Tour Ed Sheeran setelah menyuarakan dukungan untuk Palestina di atas panggung.
- Finneas, Lukas Graham, Aaron Rowe, dan Beoga mundur dari tur sebagai bentuk solidaritas terhadap kebebasan berekspresi.
- Kontroversi ini menyoroti tarik-menarik antara kebebasan artistik dan tekanan politik di industri hiburan global.

Rangkaian konser Loop Tour Ed Sheeran di Amerika Serikat dilanda gejolak setelah rapper Macklemore dikeluarkan dari daftar penampilan, memicu gelombang pengunduran diri dari sejumlah musisi pendamping. Keputusan yang diumumkan pada pertengahan September itu bukan hanya mengguncang panggung musik, tetapi juga menyeret nama miliarder Robert Kraft dan memperuncing perdebatan tentang kebebasan berekspresi dalam industri hiburan.
Macklemore, yang dikenal vokal menyuarakan isu kemanusiaan, mengungkapkan bahwa ia dicoret dari tur setelah meneriakkan "Free Palestine!" saat membawakan lagu Hind's Hall di Stadion MetLife, New Jersey, pada 5 September. Lagu tersebut mengisahkan Hind Rajab, bocah Palestina berusia lima tahun yang tewas dalam konflik Gaza tahun 2024. Aksi solidaritas itu berbuntut panjang: sejumlah venue di Amerika Serikat menolak kehadirannya, dan pemilik Stadion Gillette, Robert Kraft, disebut-sebut berada di balik tekanan tersebut.
Kraft, yang juga pemilik tim NFL New England Patriots, berdalih bahwa pembatalan penampilan Macklemore didasari oleh komentar-komentar yang dianggap antisemit dan riwayat pernyataan yang menyinggung komunitas Yahudi. Namun, Macklemore membantah tuduhan itu dan menegaskan bahwa kritik terhadap kebijakan Israel bukanlah serangan terhadap Yahudi. "Untuk seluruh saudara-saudari Yahudi saya, kritik terhadap Israel, kritik terhadap apartheid, dan penolakan terhadap genosida sama sekali bukanlah kritik terhadap kalian," ujarnya di atas panggung.
Ed Sheeran, penyanyi asal Inggris yang menjadi bintang utama tur, berusaha menjauh dari kontroversi. Ia menegaskan bahwa keputusan mengeluarkan Macklemore murni berasal dari promotor, bukan dirinya. "Saya tidak akan pernah mengecewakan penggemar yang telah membuat rencana, maupun meninggalkan kru konser dan musisi pendamping lainnya yang bergantung pada saya untuk bekerja dan mencari nafkah," tulisnya dalam pernyataan resmi. Sheeran juga memilih untuk tidak memihak dalam konflik Israel-Palestina, dengan alasan ingin menjaga diplomasi dan ruang dialog tetap terbuka.
Pengunduran diri para musisi pendamping menjadi sorotan tersendiri. Finneas, kakak dari Billie Eilish, menyatakan melalui Instagram bahwa "seniman tidak boleh dibungkam ketika mereka bersuara untuk membela orang-orang yang tertindas." Lukas Graham dari Denmark menyebut keputusan itu sulit, namun menegaskan bahwa "uang tidak memberi seseorang hak untuk menguasai percakapan." Sementara Aaron Rowe dan grup Beoga, yang berasal dari Irlandia, mengaitkan solidaritas mereka dengan pengalaman sejarah bangsa Irlandia yang pernah mengalami kolonialisme dan kelaparan.
"Kami adalah orang Irlandia yang memahami kolonialisme. Kami adalah band tradisional Irlandia yang tidak pernah membayangkan akan tampil di stadion sebesar itu dan kami tidak mengabaikan besarnya kesempatan tersebut," tulis Beoga.
Kontroversi ini bukan sekadar riak di panggung hiburan. Bagi industri musik global, kasus Macklemore menjadi preseden tentang sejauh mana seniman dapat menyuarakan pandangan politik tanpa kehilangan panggung. Tekanan dari pemilik venue dan promotor menunjukkan bahwa kebebasan artistik sering kali berbenturan dengan kepentingan bisnis dan politik. Di sisi lain, solidaritas para musisi yang mundur memperlihatkan bahwa sikap kolektif dapat menjadi kekuatan penekan.
Bagi pembaca di Indonesia, peristiwa ini menawarkan cermin tentang dinamika kebebasan berekspresi di ruang publik. Meskipun konteks politiknya berbeda, isu serupa kerap muncul ketika seniman atau publik figur menyuarakan pandangan yang dianggap kontroversial. Industri hiburan Indonesia yang semakin terhubung dengan pasar global juga perlu mencermati bagaimana tekanan internasional dapat memengaruhi jadwal tur, kerja sama sponsor, dan citra artis. Investor di sektor ekonomi kreatif pun patut memperhitungkan risiko reputasi yang menyertai keterlibatan dengan isu geopolitik.
Ke depan, Loop Tour masih akan bergulir di sejumlah kota, namun dengan komposisi pengisi acara yang berubah. Apakah promotor akan mencari pengganti yang sejalan dengan garis politik tertentu, atau justru membuka ruang bagi seniman yang lebih netral? Yang jelas, kasus ini menegaskan bahwa panggung musik bukan lagi ruang steril dari politik. Publik akan terus mengawasi apakah Ed Sheeran mampu mempertahankan posisinya sebagai penengah, atau justru terseret lebih dalam ke pusaran kontroversi yang tidak ia pilih.



