ESDM Klaim Antrean BBM Makassar Terurai, tapi Temukan Modus Tangki Modifikasi
Baca dalam 60 detik
- Kementerian ESDM menyatakan antrean panjang di SPBU Makassar dan sekitarnya sudah terurai setelah koordinasi lintas lembaga, namun investigasi lapangan mengungkap indikasi penimbunan BBM lewat modifikasi tangki kendaraan.
- Fenomena El Nino yang membuat jalur sungai dangkal memaksa pengalihan distribusi ke truk, memperpanjang waktu tunggu di SPBU; pemerintah menegaskan stok aman dan meminta masyarakat tidak panic buying.
- Ke depan, penegakan hukum terhadap penyimpangan distribusi dan kesiapan infrastruktur menghadapi cuaca ekstrem akan menjadi ujian bagi tata kelola energi nasional, terutama menjelang periode permintaan tinggi.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan antrean kendaraan di sejumlah SPBU di Makassar, Sulawesi Selatan, dan wilayah penyangga sekitarnya telah terurai. Klaim ini muncul setelah koordinasi intensif antara ESDM, PT Pertamina (Persero), BPH Migas, serta pemerintah daerah dan aparat penegak hukum setempat. Namun di balik perbaikan itu, tim lapangan menemukan indikasi praktik penyimpangan distribusi yang memperkeruh situasi.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengungkapkan bahwa skema penanganan khusus telah diterapkan untuk mengatasi kepadatan di SPBU. Menurutnya, puncak antrean terjadi beberapa hari lalu, tetapi inovasi di lapangan berhasil memulihkan kondisi. "Di SPBU-SPBU yang antreannya panjang, sekarang sudah terurai," ujarnya saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (16/9/2026).
Meski demikian, Laode tidak menampik adanya temuan penyimpangan berupa penimbunan BBM. Salah satu modus yang mencuat adalah penggunaan kendaraan dengan tangki yang dimodifikasi—diperbesar hingga 50% sampai 75% dari kapasitas standar. Praktik ini diduga memperparah antrean karena volume pengisian yang tidak wajar. "Tangkinya ditambah, yang harusnya kapasitasnya X, ditambah X plus 50% atau X plus 75%," jelasnya. Pihaknya menegaskan akan menindak tegas pelaku dan sedang menganalisis pola penyimpangan tersebut.
Faktor cuaca turut memperumit distribusi. Laode menjelaskan bahwa fenomena El Nino menyebabkan pendangkalan di jalur sungai yang biasa dilalui kapal pengangkut BBM. Akibatnya, pengiriman dialihkan ke armada truk yang membutuhkan waktu tempuh lebih lama. "Truk tidak secepat pengiriman lewat sungai, sehingga ada waktu tunggu yang harus disiapkan di SPBU," imbuhnya. Pemerintah meminta masyarakat tidak panik karena stok BBM dipastikan aman.
"Kondisi penyaluran BBM di Makassar, Gowa, Takalar, dan Maros saat ini sudah lebih kondusif. Ini hasil kerja bersama antara Pertamina, pemerintah daerah, dan APH," ujar Okky Aditya Wibowo, Pjs. Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi.
Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi melaporkan bahwa aktivitas pengisian di SPBU kini lebih tertib dan tidak lagi mengganggu arus lalu lintas. Perusahaan menegaskan terus memantau distribusi ke lembaga penyalur dan berkoordinasi dengan pemda serta penegak hukum untuk mengantisipasi dinamika di lapangan. Masyarakat diimbau membeli BBM sesuai kebutuhan dan tidak melakukan pembelian berlebihan.
Bagi pembaca di Indonesia, terutama pelaku usaha dan investor, episode ini menyoroti kerentanan rantai pasok energi terhadap anomali cuaca dan perilaku menyimpang di hilir. Ketergantungan pada moda transportasi tertentu—seperti jalur sungai—menjadi titik lemah yang dapat memicu lonjakan biaya logistik dan ketidakpastian pasokan. Ke depan, penguatan infrastruktur distribusi multi-moda dan pengawasan berbasis teknologi di SPBU menjadi keniscayaan. Tanpa itu, potensi antrean serupa bisa berulang, terutama saat permintaan musiman meningkat atau cuaca ekstrem melanda.
Pertanyaannya, apakah penindakan terhadap penyimpangan distribusi akan berjalan konsisten, atau hanya menjadi respons sementara hingga antrean kembali muncul?



