LRT Kelapa Gading–Manggarai Resmi Beroperasi, DPR Tekankan Integrasi Antarmoda
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto meresmikan LRT Jakarta jalur Kelapa Gading–Manggarai, menambah opsi transportasi massal di koridor timur Ibu Kota.
- Anggota Komisi V DPR Danang Wicaksana menilai kehadiran layanan ini memperkuat konektivitas kawasan, tetapi mengingatkan integrasi antarmoda dan aspek keselamatan menjadi penentu keberhasilan.
- Bagi investor dan pelaku usaha, jalur ini berpotensi mengubah peta aksesibilitas properti serta pola perjalanan harian di Jakarta dan sekitarnya.

Presiden Prabowo Subianto meresmikan Lintas Raya Terpadu (LRT) Jakarta jalur Kelapa Gading–Manggarai di Stasiun Manggarai, Jakarta, Rabu. Peresmian ini menandai beroperasinya satu koridor baru yang menghubungkan kawasan permukiman padat di Jakarta Utara dengan simpul transportasi utama di Jakarta Selatan.
Anggota Komisi V DPR RI, Danang Wicaksana, menyebut langkah tersebut sebagai penguatan transportasi alternatif bagi warga. Menurutnya, pengembangan angkutan massal perkotaan bukan sekadar penambahan moda, melainkan bagian dari upaya membangun sistem perjalanan yang terpadu, aman, dan nyaman. Ia menilai konektivitas antarkawasan melalui transportasi publik berdampak langsung pada aktivitas bekerja, pendidikan, dan ekonomi warga.
Dalam keterangannya di Jakarta, Danang mengapresiasi peresmian itu. Ia menekankan bahwa kehadiran LRT memperkuat layanan transportasi publik yang selama ini menjadi tulang punggung mobilitas warga Jakarta dan sekitarnya. Namun, ia juga menggarisbawahi sejumlah prasyarat agar layanan benar-benar diminati: keselamatan, ketepatan waktu, kenyamanan penumpang, serta kemudahan berpindah antarmoda.
"Yang tidak kalah penting adalah bagaimana LRT ini terintegrasi dengan moda transportasi lainnya. Masyarakat harus mendapatkan kemudahan ketika berpindah dari satu moda ke moda yang lain," ujar Danang.
Pernyataan itu menyoroti persoalan klasik transportasi publik di kawasan aglomerasi: ketersediaan jalur sering tidak diikuti oleh kemudahan akses dari dan menuju stasiun. Tanpa integrasi tarif, jadwal, dan fasilitas penunjang seperti halte TransJakarta, park and ride, serta jalur pejalan kaki yang layak, calon penumpang cenderung kembali menggunakan kendaraan pribadi.
Danang berharap kehadiran jalur ini mendorong lebih banyak warga beralih ke transportasi umum. Menurutnya, peningkatan penggunaan angkutan massal turut menekan kepadatan lalu lintas dan meningkatkan efisiensi mobilitas di kawasan perkotaan. Ia menegaskan transportasi publik harus terus dikembangkan agar menjadi pilihan utama, dengan layanan yang aman, nyaman, terjangkau, dan terintegrasi sehingga kepercayaan masyarakat meningkat.
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menyebut peresmian LRT jalur Kelapa Gading–Manggarai sebagai salah satu bentuk transformasi bangsa. Sebelumnya, Gubernur Jakarta Pramono Anung juga menyatakan halte TransJakarta yang bersinggungan dengan LRT Jakarta kembali aktif, menandai upaya menyambungkan layanan di tingkat operasional.
Bagi pembaca di Indonesia, khususnya investor dan profesional, jalur ini berpotensi mengubah peta aksesibilitas di koridor timur Jakarta. Kawasan Kelapa Gading dan sekitarnya selama ini dikenal sebagai pusat hunian dan bisnis dengan ketergantungan tinggi pada kendaraan pribadi. Koneksi langsung ke Manggarai—yang terhubung dengan KRL dan TransJakarta—dapat memperpendek waktu tempuh, memperluas jangkauan tenaga kerja, dan pada gilirannya memengaruhi permintaan properti serta ritel di sekitar stasiun.
Dari sisi kebijakan, keberhasilan LRT ini akan menjadi ujian bagi komitmen pemerintah dalam membangun ekosistem transportasi terpadu. Jika integrasi fisik dan tarif berjalan mulus, jalur ini dapat menjadi preseden bagi pengembangan jaringan lain di kawasan aglomerasi. Sebaliknya, jika akses antarmoda tersendat, investasi besar tersebut berisiko tidak menghasilkan peralihan moda yang diharapkan.
Pertanyaannya kini: seberapa cepat operator dan pemerintah daerah menyelesaikan simpul-simpul integrasi yang tersisa, dan apakah tarif serta frekuensi layanan mampu bersaing dengan kenyamanan kendaraan pribadi? Jawaban atas dua hal itu akan menentukan apakah LRT Kelapa Gading–Manggarai benar-benar menjadi tulang punggung mobilitas warga atau sekadar jalur baru di peta transportasi Ibu Kota.



