DNA Jenazah di Enggano Belum Teridentifikasi, Pencarian Jurnalis Hilang di Selat Sunda Masih Buntu
Baca dalam 60 detik
- Tim SAR belum bisa memastikan jenazah tanpa identitas di Pulau Enggano sebagai bagian dari delapan orang hilang di Selat Sunda.
- Pencocokan DNA antemortem keluarga korban dengan postmortem jenazah menjadi penentu utama identifikasi.
- Operasi pencarian hari kedelapan belum membuahkan hasil, kendati tim sempat menyisir hingga 500 meter dari Gunung Anak Krakatau.

Penyelidikan atas jenazah tanpa identitas yang ditemukan di pesisir Pulau Enggano, Bengkulu, masih menemui jalan buntu. Hingga Selasa malam, tim Disaster Victim Identification (DVI) belum dapat memastikan apakah jasad tersebut merupakan bagian dari delapan orang yang hilang bersama kapal cepat KM Arupadatu I di Selat Sunda, Banten.
Kepala Kantor SAR Banten, Al Amrad, menyatakan bahwa pihaknya terus menjalin komunikasi intensif dengan Kantor SAR Bengkulu untuk memperoleh kejelasan. "Kami masih menunggu hasil dari rekan-rekan di sana," ujarnya dalam konferensi pers di Posko Utama Gabungan Pantai Carita, Pandeglang, Selasa malam.
Senada dengan itu, KBO Ditpolairud Polda Banten AKBP Ahmad menegaskan bahwa berdasarkan informasi dari Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) serta Kabid Humas Polda Banten, jenazah tersebut belum teridentifikasi sebagai korban KM Arupadatu I. "Ciri-cirinya tidak ada, DNA-nya masih didalami," kata Ahmad. Ia menambahkan bahwa detail bukti fisik dan pakaian akan dijelaskan oleh tim medis DVI yang menangani autopsi.
Penyelarasan data DNA antemortem dari keluarga korban dengan sampel postmortem jenazah menjadi kunci utama identifikasi. Proses ini memakan waktu karena memerlukan ketelitian tinggi, terutama jika kondisi jenazah sudah membusuk atau terbakar. Tim DVI Biddokkes Polda Bengkulu dan Pusdokkes Polri masih bekerja untuk memastikan kecocokan genetik.
"Kami akan terus berkoordinasi dengan Kantor SAR Bengkulu. Hingga saat ini masih menunggu hasil," ujar Al Amrad, yang juga menjabat sebagai SAR Mission Coordinator.
Hilangnya kapal cepat KM Arupadatu I beserta delapan penumpangnya telah memicu operasi pencarian besar-besaran di perairan Selat Sunda dan sekitarnya. Tim SAR gabungan dari Banten, Lampung, dan Bengkulu telah menyisir pulau-pulau sekitar Gunung Anak Krakatau, namun hasilnya masih nihil. Aktivitas vulkanik gunung tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan area pencarian.
Bagi Indonesia, kasus ini menyoroti pentingnya keselamatan pelayaran di jalur padat Selat Sunda, terutama bagi jurnalis yang kerap meliput di wilayah rawan bencana. Profesional media dan investor perlu mencermati implikasi jangka panjang terhadap regulasi keselamatan transportasi air dan prosedur peliputan di zona berisiko. Kehilangan lima jurnalis dalam satu insiden juga menjadi pukulan bagi ekosistem pers nasional, mengingat peran mereka dalam menyampaikan informasi bencana kepada publik.
Ke depan, hasil identifikasi DNA akan menentukan langkah hukum dan klaim asuransi bagi keluarga korban. Jika jenazah tersebut bukan bagian dari kru KM Arupadatu I, maka misteri keberadaan delapan orang itu semakin dalam, dan operasi pencarian harus diperluas. Pemerintah didesak untuk mengevaluasi standar keselamatan kapal cepat dan sistem peringatan dini di perairan rawan, agar tragedi serupa tidak terulang.



