Jepang Cetak Rekor 107.677 Warga Berusia 100 Tahun, tapi Populasi Justru Menyusut
Baca dalam 60 detik
- Jumlah centenarian Jepang melampaui 100.000 untuk pertama kalinya, dengan 88% di antaranya perempuan.
- Fertilitas yang anjlok ke 1,14 dan penuaan cepat memicu kekhawatiran keberlanjutan sistem jaminan sosial.
- Pemerintah menghadapi dilema antara mendorong kelahiran dan membuka pintu imigrasi yang masih ditolak publik.

Jepang mencatat tonggak sejarah baru: untuk pertama kalinya, jumlah penduduk berusia 100 tahun atau lebih menembus 100.000 jiwa. Kementerian Kesehatan setempat melaporkan ada 107.677 centenarian per September 2025, tertinggi di dunia, dengan 88% di antaranya perempuan. Angka ini muncul di tengah krisis demografi yang semakin dalam, di mana populasi justru menyusut dan tingkat kelahiran terus merosot.
Data tersebut dirilis menjelang Hari Penghormatan bagi Lansia, sebuah tradisi tahunan pada 15 September. Pemerintah memberikan surat pribadi dan cangkir sake tradisional kepada warga yang genap berusia 100 tahun. Menteri Kesehatan Kenichiro Ueno menyatakan kegembiraannya atas capaian ini, seraya menyebut kemajuan medis dan teknologi sebagai pendorong utama. Namun ia juga mengingatkan bahwa menjaga keberlanjutan sistem jaminan sosial menjadi tantangan berat yang mengintai.
Para ahli mengaitkan umur panjang warga Jepang dengan pola makan sehat dan gaya hidup aktif. Kuliner Jepang kaya akan ikan, sayuran, dan beras, dengan lemak jenuh yang lebih rendah dibandingkan diet Barat. Lansia di sana juga rutin berjalan kaki, bersepeda, menggunakan transportasi publik, dan melakukan peregangan. Budaya ini telah membentuk ekosistem panjang usia yang jarang ditemui di negara lain.
Namun rekor ini tidak serta-merta menjadi kabar baik. Jepang telah menua selama bertahun-tahun; penjualan popok dewasa melampaui popok bayi selama lebih dari satu dekade. Perusahaan mengembangkan produk khusus lansia, seperti eksoskeleton bertenaga dan kacamata yang menyesuaikan fokus otomatis. Sementara itu, angka kelahiran terus merosot. Tahun lalu, total fertility rate Jepang mencapai rekor terendah 1,14. Untuk sekadar menggantikan populasi, setiap perempuan perlu melahirkan rata-rata 2,1 anak.
Dampaknya terlihat pada struktur usia. Penduduk 65 tahun ke atas saat ini mencakup sekitar 30% populasi, dan diproyeksikan mendekati 40% pada 2070. Institut Riset Kependudukan dan Jaminan Sosial Nasional memperkirakan total populasi akan menyusut menjadi 87 juta pada 2070, turun 30% dari puncak 128 juta pada 2008. Pada 2025, populasi menyusut di 45 dari 47 prefektur, dan laju penurunannya semakin cepat. Otoritas Jepang menyebut tren ini sebagai "krisis eksistensial", dengan Perdana Menteri Sanae Takichi menggambarkannya sebagai "darurat senyap".
Berbagai program dan subsidi untuk mendorong kelahiran tampaknya belum membuahkan hasil. Penyebabnya kompleks: menurunnya angka pernikahan, semakin banyak perempuan masuk dunia kerja, dan biaya membesarkan anak yang terus meningkat. Imigrasi memang naik dalam beberapa tahun terakhir, tetapi orang asing hanya sekitar 3% dari populasi, dan oposisi terhadap penerimaan lebih banyak migran justru menguat. Pemerintah terjebak antara kebutuhan tenaga kerja dan sentimen publik yang masih tertutup.
"Kami bersyukur banyak orang hidup panjang, sehat, dan aktif, tetapi ini juga tantangan besar untuk menjaga sistem jaminan sosial tetap berkelanjutan," ujar Menteri Kesehatan Kenichiro Ueno, seperti dikutip media setempat.
Sejarah mencatat lonjakan drastis. Ketika survei centenarian dimulai pada 1963, hanya ada 153 orang berusia 100 tahun ke atas. Angka itu naik menjadi 1.000 pada 1981, dan 10.000 pada 1998. Kini, 107.677. Namun, validitas data centenarian global pernah dipertanyakan. Audit pemerintah Jepang pada 2010 menemukan lebih dari 230.000 orang terdaftar berusia 100 tahun ke atas yang tidak diketahui keberadaannya, sebagian telah meninggal puluhan tahun sebelumnya. Kesalahan pencatatan diduga karena administrasi yang buruk dan kemungkinan keluarga menyembunyikan kematian untuk mengklaim pensiun.
Bagi Indonesia, fenomena Jepang menjadi cermin masa depan. Indonesia saat ini menikmati bonus demografi, tetapi Badan Pusat Statistik memproyeksikan penduduk usia 65 tahun ke atas akan mencapai 20% pada 2045. Artinya, Indonesia memiliki waktu sekitar dua dekade untuk membangun sistem jaminan sosial, layanan kesehatan lansia, dan pasar kerja yang inklusif sebelum terjebak dalam jebakan penuaan. Jepang menunjukkan bahwa teknologi dan pola makan sehat dapat memperpanjang usia, tetapi tanpa kebijakan pro-natalitas yang efektif dan keterbukaan terhadap migran, beban fiskal bisa tak tertahankan.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah populasi Jepang akan terus menyusut, melainkan seberapa cepat pemerintah mampu beradaptasi. Apakah Jepang akan merevisi kebijakan imigrasi yang selama ini tabu, atau justru mengandalkan otomatisasi dan robotika untuk menopang ekonomi? Sementara itu, negara-negara berkembang seperti Indonesia perlu belajar dari pengalaman Jepang: menua adalah keniscayaan, tetapi gagal mempersiapkannya adalah pilihan.



