Arab Saudi Gempur 50 Titik Houthi dalam Sehari, Risiko Jalur Dagang RI Menguat
Baca dalam 60 detik
- Houthi mengklaim Arab Saudi melancarkan lebih dari 50 serangan ke posisi mereka di Yaman dalam 24 jam terakhir.
- Serangan itu memperpanjang konflik Laut Merah yang sudah mengganggu rute pelayaran dan menaikkan biaya logistik global.
- Indonesia perlu mengantisipasi tekanan biaya impor energi dan bahan baku jika eskalasi berlanjut ke Selat Bab el-Mandeb.

Kelompok pemberontak Houthi melaporkan bahwa Arab Saudi melancarkan lebih dari 50 serangan terhadap posisi mereka di Yaman dalam kurun 24 jam terakhir. Klaim itu menjadi salah satu eskalasi terbesar dalam beberapa bulan terakhir dan menegaskan bahwa konflik Yaman belum menuju titik akhir, meski perhatian dunia belakangan tersedot ke medan konflik lain di Timur Tengah.
Serangan udara besar-besaran itu tidak muncul di ruang hampa. Sejak akhir 2023, Houthi gencar meluncurkan rudal dan drone ke kapal-kapal yang melintasi Laut Merah, dengan dalih solidaritas terhadap Palestina. Respons koalisi pimpinan Arab Saudi pun kembali mengeras, terutama setelah serangan Houthi ke fasilitas energi dan infrastruktur di wilayah perbatasan. Angka 50 serangan dalam sehari menunjukkan bahwa Riyadh memilih strategi tekanan militer ketimbang negosiasi jangka pendek.
Bagi Indonesia, dampaknya tidak berhenti pada berita geopolitik. Jalur Laut Merahโterutama Selat Bab el-Mandebโadalah salah satu arteri utama pelayaran dari Eropa dan Timur Tengah menuju Asia. Ketika risiko keamanan meningkat, perusahaan pelayaran cenderung memilih rute memutar melalui Tanjung Harapan. Konsekuensinya jelas: waktu tempuh lebih panjang, konsumsi bahan bakar naik, dan biaya logistik membengkak. Dalam jangka menengah, kenaikan itu bisa merembes ke harga barang impor, mulai dari bahan baku industri hingga produk konsumsi.
Pemerintah dan pelaku usaha perlu mencermati dua saluran utama. Pertama, saluran energi. Sebagian besar kebutuhan minyak mentah Indonesia dipasok dari Timur Tengah, dan ketegangan di sekitar Selat Hormuz maupun Laut Merah dapat memicu lonjakan harga minyak dunia. Kedua, saluran logistik nonmigas. Eksportir Indonesia ke Eropa dan Afrika Utara akan menghadapi biaya pengiriman yang lebih tinggi, yang pada akhirnya menggerus margin keuntungan. Bagi investor, sektor pelayaran, energi, dan asuransi patut dicermati karena volatilitasnya cenderung meningkat setiap kali konflik memanas.
Houthi mengklaim serangan itu sebagai bagian dari respons terhadap operasi militer Arab Saudi yang mereka nilai melanggar kedaulatan Yaman. Klaim ini belum diverifikasi secara independen, namun pola eskalasi menunjukkan kedua pihak sama-sama meningkatkan intensitas serangan.
Yang perlu dicatat, eskalasi militer sering kali justru memperkuat posisi kelompok bersenjata di meja perundingan. Houthi telah membuktikan kemampuan mereka bertahan menghadapi tekanan udara selama bertahun-tahun. Setiap serangan besar justru bisa dimanfaatkan untuk menggalang dukungan domestik dan memperkuat narasi perlawanan. Di sisi lain, Arab Saudi menghadapi dilema: mengurangi intensitas serangan berisiko dianggap lemah, tetapi melanjutkan kampanye militer berarti menanggung beban biaya perang yang tidak kecil.
Bagi Indonesia, posisi diplomatik yang selama ini mendorong penyelesaian konflik melalui jalur dialog menjadi semakin relevan. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar dan ekonomi yang bergantung pada perdagangan internasional, Indonesia berkepentingan langsung pada stabilitas Laut Merah. Keterlibatan dalam forum multilateral, termasuk upaya mendorong gencatan senjata, bukan sekadar sikap moral, melainkan investasi bagi keamanan ekonomi nasional.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah konflik Yaman akan berakhir dalam waktu dekat, melainkan seberapa jauh eskalasi ini akan merembet ke jalur perdagangan global. Jika serangan lintas batas terus meningkat, premi risiko di sektor pelayaran dan energi akan menjadi biaya tetap yang harus diperhitungkan dalam setiap proyeksi ekonomi. Pemerintah dan dunia usaha sebaiknya menyiapkan skenario mitigasi sejak sekarang, bukan menunggu gejolak harga tiba-tiba di pasar.



