Houthi Kuasai Bab al-Mandeb, Arab Saudi Terjepit Tanpa Opsi Aman
Baca dalam 60 detik
- Houthi merebut Pulau Perim dan Mocha, mengancam jalur energi global di Selat Bab al-Mandeb.
- Pipa minyak Timur-Barat Saudi lumpuh usai serangan drone dari Irak, memangkas kapasitas ekspor.
- Riyadh menghadapi dilema: eskalasi militer berisiko perang terbuka, sementara jalur diplomasi buntu.

Arab Saudi berada di persimpangan paling berbahaya dalam satu dekade terakhir. Setelah Houthi menguasai Pulau Perim dan Kota Pelabuhan Mocha pekan ini, Riyadh kehilangan kendali atas Selat Bab al-Mandeb—gerbang laut yang mengalirkan hampir sepersepuluh pasokan minyak dunia. Serangan drone yang melumpuhkan Pipa Timur-Barat semakin mempertegas kerentanan kerajaan yang selama ini dipandang sebagai kekuatan dominan di kawasan.
Pakar Yaman berbasis di Washington DC, Mohammed Al-Basha, menilai bahwa semua indikator kini mengarah pada respons militer besar-besaran. "Pada titik ini mereka tidak punya pilihan," ujarnya, menggambarkan kebuntuan strategis yang dihadapi Riyadh. Namun, opsi tersebut tidak datang tanpa harga. Peneliti tamu di Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri, Cinzia Bianco, memperingatkan bahwa eskalasi frontal akan menyeret Arab Saudi ke dalam perang terbuka yang tak berujung, mirip dengan perang saudara Yaman yang telah menciptakan krisis kemanusiaan terburuk di dunia.
Serangan terhadap pipa minyak utama Saudi—yang belum diklaim oleh pihak mana pun—memaksa Riyadh menutup aliran energi vital. Presiden AS Donald Trump langsung menuding Iran sebagai dalang, mengingat proksi Teheran beroperasi di Irak. Insiden ini membenarkan kekhawatiran lama Riyadh tentang potensi serangan terkoordinasi dari berbagai front oleh milisi proksi Iran. Sejak perang Iran menutup Selat Hormuz, Pipa Timur-Barat memang menjadi jalur alternatif yang mengalihkan sekitar 5 juta barel minyak per hari dari Teluk Persia. Kini, jalur itu pun lumpuh.
Di atas kertas, militer Arab Saudi yang modern seharusnya mampu menandingi Houthi. Namun, kelompok yang dulu dipandang sebagai milisi compang-camping itu telah menghabiskan bertahun-tahun menyempurnakan taktik perang asimetris. Popularitas mereka di Timur Tengah melonjak setelah menyerang Israel sebagai balasan atas agresi di Gaza sejak 7 Oktober. Dukungan Iran—baik berupa teknologi drone maupun pelatihan—telah mengubah Houthi menjadi ancaman yang jauh lebih serius daripada yang diperkirakan banyak analis.
"Arab Saudi benar-benar memiliki pilihan terbatas dalam konflik dengan Houthi," tegas Bianco, menyoroti bahwa kesabaran strategis Riyadh selama ini telah gagal dan solusi politik tampaknya telah habis.
Jalur diplomasi pun menemui jalan buntu. Kepala Kantor Berita Saba yang dikelola Houthi, Nasr al-Din Amer, menegaskan bahwa kelompoknya akan terus menekan Saudi secara militer hingga blokade ekonomi dan perjalanan di Yaman utara dihentikan. "Menekan sampai mereka mematahkan pengepungan yang diterapkan secara tidak adil oleh musuh Saudi selama 12 tahun," paparnya. Sementara itu, Al-Basha menilai bahwa kesepakatan damai dengan Houthi akan dianggap sebagai bentuk penyerahan diri yang merusak reputasi Riyadh di mata sekutu-sekutunya.
AS sendiri tampaknya enggan terlibat langsung. Sumber mengungkap bahwa Putra Mahkota Saudi telah dua kali menelepon Trump untuk meminta bantuan serangan terhadap Houthi, namun ditolak. "Mereka (Houthi) jauh lebih suka jika kami tidak terlibat, dan mereka membiarkan sebagian besar kapal lewat. Hanya ada satu negara yang membuat mereka tidak terlalu senang, dan kami akan meluruskannya," tegas Trump. Meski menolak serangan militer langsung, AS telah mengirim sekitar 100 penasihat militer untuk memberikan dukungan intelijen. Mantan penasihat pemerintah Saudi, Nawaf Obaid, menegaskan bahwa permintaan Saudi sejatinya murni untuk intelijen, bukan serangan udara Amerika.
Bagi Indonesia, eskalasi ini bukan sekadar berita geopolitik jauh. Sebagai importir minyak mentah dan produk kilang, gangguan pasokan dari Timur Tengah akan langsung memukul neraca perdagangan dan anggaran subsidi energi. Setiap kenaikan harga minyak dunia akibat ketegangan di Bab al-Mandeb akan menekan rupiah dan memperlebar defisit transaksi berjalan. Investor di pasar obligasi dan saham energi perlu mencermati perkembangan ini, karena premi risiko geopolitik biasanya merambat ke harga komoditas dan biaya logistik pelayaran.
Pertanyaannya kini: akankah Riyadh memilih eskalasi militer penuh yang berisiko menyeret Iran dan AS ke dalam konflik lebih luas, atau menahan diri sambil berharap tekanan internasional melunak? Dengan Houthi yang semakin percaya diri dan AS yang enggan maju, Arab Saudi tampak benar-benar terjepit—maju kena, mundur pun kena.



