Kapal Feri Virgo Transport 8 Terbalik di Laut Jawa: 6 Tewas, 130 Hilang, 107 Selamat
Baca dalam 60 detik
- KM Virgo Transport 8 terbalik di perairan selatan Banjarmasin setelah diterjang cuaca buruk; 6 orang dipastikan tewas dan 107 berhasil dievakuasi.
- Tim gabungan TNI AL, Basarnas, dan polisi air mengerahkan 280 personel serta helikopter untuk memburu 130 penumpang yang belum ditemukan.
- Tragedi ini mempertegas kerentanan transportasi laut antar-pulau di Indonesia, dengan 111 kecelakaan kapal tercatat sepanjang 2020โ2026.

Enam orang tewas dan 107 lainnya selamat setelah kapal feri penumpang KM Virgo Transport 8 terbalik di perairan Laut Jawa, sementara 130 orang masih dinyatakan hilang. Insiden nahas itu terjadi ketika kapal dihantam cuaca ekstrem dalam pelayaran dari Surabaya menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Data sementara otoritas pelayaran menyebutkan kapal berukuran 119 meter tersebut mengangkut 213 penumpang dan 30 awak. Kontak terakhir dengan kapal terekam sekitar pukul 02.00 WIB pada Minggu, ketika posisinya berada 150 kilometer di selatan Banjarmasin. Sinyal darurat pertama diterima tim SAR pada pukul 04.10, sekitar dua jam setelah kapal dilaporkan oleng.
Operasi pencarian dan pertolongan melibatkan 280 personel gabungan dari Basarnas, TNI Angkatan Laut, Polisi Air, serta sejumlah instansi lain. Sebuah helikopter dan beberapa kapal dikerahkan ke lokasi kejadian. Otoritas juga menginstruksikan seluruh kapal yang melintas di Laut Jawa untuk melaporkan jika menemukan tanda-tanda keberadaan penumpang.
Di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, dan Banjarmasin, keluarga penumpang dan awak berdesakan mencari informasi. Rusmilawati, warga Banjarmasin, mendatangi pelabuhan untuk menanyakan nasib delapan kerabatnya yang baru saja berziarah ke makam ulama di Jawa. "Awalnya mereka terbang ke sana, tapi untuk pulang ingin mencoba naik kapal," ujarnya kepada BBC Indonesia. Hingga Minggu sore, ia belum menerima kabar resmi mengenai keselamatan kerabatnya. Pesan terakhir dari salah satu kerabat melalui status WhatsApp berbunyi, "Ombaknya benar-benar menakutkan malam ini. Atau memang begini rasanya naik kapal, terombang-ambing dihantam gelombang?"
Kisah haru juga datang dari Misnah, yang menangis bahagia setelah mengetahui suaminya, Ahmad Supandi, selamat. Ahmad, seorang sopir angkutan barang, dievakuasi oleh kapal MV Haida. Sementara itu, Fredy masih menanti kabar adiknya, Stevie Manuhua, yang bekerja sebagai pemain kibor di kapal tersebut. "Kami terakhir bicara dua hari lalu saat kapal bersandar di Surabaya. Setelah itu tidak ada kabar," kata Fredy.
"Ombaknya benar-benar menakutkan malam ini. Atau memang begini rasanya naik kapal, terombang-ambing dihantam gelombang?" โ pesan terakhir seorang penumpang melalui status WhatsApp.
Indonesia, negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, sangat bergantung pada feri sebagai moda transportasi utama. Namun, keselamatan pelayaran masih menjadi pekerjaan rumah besar. Data pemerintah menunjukkan 111 kecelakaan kapal terjadi antara 2020 dan 2026. Juli lalu, KM Nurul Salsa tenggelam di perairan barat Pulau Polassi, Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan; 58 orang selamat, tiga tewas, dan 14 hilang. Bulan lalu, sebuah feri terbakar di lepas Pulau Madura dan menewaskan lima orang.
Bagi pembaca di Indonesia, insiden ini bukan sekadar berita duka. Transportasi laut adalah urat nadi perekonomian dan mobilitas antar-pulau, terutama di kawasan timur. Ketika kecelakaan terus berulang, pertanyaan tentang standar keselamatan, kelayakan armada, dan sistem peringatan dini cuaca menjadi semakin mendesak. Pemerintah perlu mengevaluasi apakah regulasi yang ada sudah cukup ketat atau hanya ditegakkan secara sporadis.
Ke depan, fokus utama adalah kelanjutan operasi SAR yang masih menyisakan 130 orang belum ditemukan. Semakin lama waktu berlalu, peluang menemukan korban selamat kian mengecil. Namun, tekanan publik juga akan mengarah pada akuntabilitas operator kapal dan pengawasan otoritas pelabuhan. Apakah tragedi ini akan memicu perbaikan nyata dalam keselamatan pelayaran nasional, atau kembali tenggelam bersama gelombang Laut Jawa?



