Prabowo Ganti Menteri Keuangan untuk Ketiga Kalinya, Suahasil Nazara Ditunjuk
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto memberhentikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan menunjuk Suahasil Nazara sebagai penggantinya pada Senin (10/11).
- Ini merupakan pergantian menteri keuangan ketiga dalam kurun waktu kurang dari dua tahun pemerintahan Prabowo, menimbulkan pertanyaan tentang arah kebijakan fiskal.
- Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan mencermati langkah Suahasil dalam menjaga kredibilitas APBN dan menarik kembali minat investor asing.

Presiden Prabowo Subianto kembali melakukan perombakan di kursi Menteri Keuangan. Pada Senin (10/11), ia memberhentikan Purbaya Yudhi Sadewa dan menunjuk Suahasil Nazara, yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan, untuk mengisi posisi tersebut. Ini adalah pergantian menteri keuangan ketiga sejak Prabowo memimpin, menandakan ketidakstabilan di sektor pengelolaan fiskal negara.
Suahasil Nazara bukan nama baru di lingkungan Kementerian Keuangan. Ia telah mendampingi sebagai wakil menteri sejak 2019 dan memiliki latar belakang akademisi. Namun, promosinya ke kursi tertinggi terjadi di tengah tekanan pasar yang meningkat terhadap Indonesia. Purbaya, yang baru menjabat beberapa bulan, terlihat meninggalkan ruang rapat paripurna di tengah sidang ketika pengumuman pergantian itu mencuat.
Langkah Prabowo ini dinilai sebagai upaya untuk memulihkan kepercayaan investor yang sempat goyah akibat kekhawatiran terhadap arah kebijakan yang dianggap boros dan tidak konsisten. Sejumlah analis menilai bahwa pergantian mendadak ini dapat memperburuk persepsi risiko, meskipun Suahasil dianggap memiliki rekam jejak yang lebih mapan di birokrasi fiskal.
Bagi Indonesia, stabilitas kepemimpinan di Kementerian Keuangan sangat krusial. Lembaga ini bertanggung jawab atas APBN, utang negara, dan kebijakan fiskal yang memengaruhi iklim investasi. Ketidakpastian di kursi menteri dapat memicu volatilitas di pasar obligasi dan nilai tukar rupiah. Investor asing, yang selama ini menjadi penopang pembiayaan defisit, akan mencermati apakah Suahasil mampu menjaga disiplin fiskal atau justru melanjutkan kebijakan populis yang membebani anggaran.
"Pergantian ini mengirim sinyal bahwa Presiden ingin mempercepat program-program prioritas, tetapi juga berisiko menimbulkan ketidakpastian jangka pendek," ujar seorang pengamat ekonomi yang enggan disebut namanya.
Dalam konteks global, Indonesia bukan satu-satunya negara yang menghadapi tekanan fiskal. Namun, sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara, gejolak di Jakarta dapat berdampak pada negara tetangga. Negara-negara ASEAN yang memiliki keterkaitan dagang dan investasi dengan Indonesia akan memantau perkembangan ini, terutama menjelang pemilu di beberapa negara kawasan.
Ke depan, fokus utama adalah bagaimana Suahasil menavigasi tekanan politik dan ekonomi. Apakah ia akan melanjutkan reformasi perpajakan yang sempat tertunda, atau justru mengakomodasi kepentingan jangka pendek? Pasar obligasi dan saham Indonesia akan menjadi barometer pertama reaksi terhadap penunjukan ini. Jika tidak ada kejutan negatif, kepercayaan bisa pulih perlahan. Namun, jika muncul keraguan baru, bukan tidak mungkin Prabowo akan kembali mencari figur lain.



