Suahasil Nazara Pimpin Kemenkeu, Minta ASN Lanjutkan Pekerjaan dan Jaga APBN
Baca dalam 60 detik
- Menteri Keuangan Suahasil Nazara resmi memegang mandat menjaga keuangan negara dan memastikan APBN tetap menjadi instrumen pertumbuhan serta stabilisasi ekonomi.
- Dalam pertemuan perdana dengan ratusan ASN, ia menekankan pentingnya kelanjutan pekerjaan dan membangun institusi yang kredibel serta dipercaya publik.
- Kehadiran sejumlah pejabat eselon I, sementara Purbaya Yudhi Sadewa tidak terlihat, memunculkan tanda tanya tentang arah kebijakan fiskal ke depan.

Menteri Keuangan Suahasil Nazara secara terbuka menyatakan komitmennya untuk mengawal keuangan negara dan memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap berfungsi sebagai motor pertumbuhan sekaligus penstabil ekonomi. Pernyataan itu disampaikan saat menyapa ratusan aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Kementerian Keuangan, Senin (14/9/2026), dalam momen pertama setelah ia dipercaya memimpin kementerian tersebut.
Di hadapan pegawai yang mengenakan seragam putih khas Kemenkeu, Suahasil meminta seluruh jajaran untuk tidak menghentikan langkah yang sudah berjalan. "Kita lanjutkan pekerjaan mereka dan kita buat Kementerian Keuangan yang kredibel, yang bisa dipercaya, yang membanggakan bagi seluruh masyarakat Indonesia," ujarnya, disambut sorakan para pegawai. Seruan itu menjadi sinyal bahwa prioritas utama saat ini adalah menjaga kesinambungan program, bukan melakukan perombakan besar-besaran.
Kedatangan Suahasil disambut langsung oleh Wakil Menteri Keuangan Juda Agung. Tampak hadir pula sejumlah pejabat eselon I, seperti Sekretaris Jenderal Robert Leonard Marbun, Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama, Dirjen Pajak Bimo Wijayanto, dan Dirjen SPSK Herman Saheruddin. Para pejabat eselon II dari berbagai unit juga ikut serta. Namun, sosok Purbaya Yudhi Sadewa tidak terlihat dalam acara tersebut, memunculkan spekulasi mengenai posisi dan perannya di struktur baru.
Bagi pelaku pasar dan dunia usaha, pesan "lanjutkan pekerjaan" memiliki arti penting. Stabilitas kebijakan fiskal menjadi kunci dalam menjaga iklim investasi, terutama di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi. Kementerian Keuangan memegang peran sentral dalam merancang insentif, mengatur belanja negara, serta memastikan defisit anggaran tetap terkendali. Pergantian pucuk pimpinan sering kali memicu kekhawatiran akan perubahan arah kebijakan, namun pernyataan Suahasil setidaknya memberi sinyal awal bahwa roda organisasi tidak akan berhenti.
Yang perlu dicermati, komposisi pejabat yang hadir bisa menjadi indikator arah kebijakan ke depan. Kehadiran Dirjen Pajak dan Dirjen Bea Cukai menunjukkan bahwa isu penerimaan negara masih menjadi fokus utama. Sementara itu, ketidakhadiran Purbaya Yudhi Sadewaโyang sebelumnya dikenal sebagai ekonom dengan pandangan kritisโmenimbulkan pertanyaan apakah ada perubahan strategi dalam pengelolaan fiskal. Publik tentu menunggu apakah kebijakan yang selama ini berjalan akan dilanjutkan atau justru mengalami penyesuaian.
Dalam konteks lebih luas, Kementerian Keuangan menghadapi tantangan berat: menjaga daya beli masyarakat, mendorong pertumbuhan di tengah perlambatan ekonomi global, serta mengamankan penerimaan negara dari sektor pajak dan bea cukai. Suahasil, yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan, dianggap memiliki pemahaman mendalam tentang birokrasi dan kebijakan fiskal. Namun, ia tetap dituntut untuk membuktikan bahwa kepemimpinannya mampu membawa Kemenkeu semakin kredibel di mata investor dan masyarakat.
"Kita lanjutkan pekerjaan mereka dan kita buat Kementerian Keuangan yang kredibel, yang bisa dipercaya, yang membanggakan bagi seluruh masyarakat Indonesia." โ Suahasil Nazara
Ke depan, perhatian akan tertuju pada langkah konkret Suahasil dalam menyusun kebijakan fiskal, termasuk apakah ia akan mempertahankan program-program yang sudah ada atau menyuntikkan inovasi baru. Bagi investor, kepastian regulasi dan konsistensi kebijakan adalah faktor penentu. Sementara bagi masyarakat, kinerja Kemenkeu akan sangat memengaruhi stabilitas harga, lapangan kerja, dan kesejahteraan. Akankah kepemimpinan baru ini mampu menjawab ekspektasi tersebut? Waktu yang akan menguji, tetapi arah awal sudah mulai terlihat.



