PTBA Genjot Hilirisasi Batu Bara: Target 20% Pendapatan dari DME, Metanol, hingga Kalium Humat
Baca dalam 60 detik
- PT Bukit Asam memperluas lini hilirisasi batu bara melampaui DME, mencakup metanol dan kalium humat, sebagai strategi pertumbuhan jangka panjang.
- Proyek gasifikasi DME dan SNG yang dikoordinasi Danantara ditargetkan mulai konstruksi tahun depan, dengan serapan pasar dari Pertamina Patra Niaga dan PGN.
- Kontribusi bisnis hilirisasi dan diversifikasi diharapkan mencapai 20% dari total pendapatan PTBA dalam empat tahun, seiring upaya transisi energi.

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) tidak lagi sekadar menjual batu bara mentah. Perusahaan pelat merah itu kini mengarahkan haluan pada hilirisasi mineral, dengan portofolio yang tidak berhenti pada proyek gasifikasi menjadi dimethyl ether (DME), melainkan merambah produk turunan lain seperti metanol dan kalium humat. Langkah ini diambil di tengah tekanan global terhadap industri batu bara dan kebutuhan mendesak akan nilai tambah domestik.
Dalam paparan publik yang digelar Selasa (8/9/2026), Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PTBA, Una Lindasari, mengungkapkan bahwa setiap proyek hilirisasi dievaluasi secara ketat, tidak hanya dari sisi nilai ekonomi tetapi juga kesiapan teknologi. "Hilirisasi menjadi salah satu fokus kami untuk menciptakan nilai tambah yang lebih besar," ujarnya. Perusahaan melihat potensi besar dari sumber daya yang dimiliki untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah, termasuk DME, metanol, dan kalium humat.
Kalium humat, yang selama ini mungkin kurang dikenal publik, ternyata menjadi salah satu andalan baru PTBA. Pabrik percontohan dengan kapasitas 171 ton per tahun telah beroperasi, dan perusahaan menargetkan kapasitas produksi hingga 10.000 ton per tahun. Kalium humat banyak digunakan sebagai pupuk organik dan bahan perbaikan tanah, yang relevan dengan program ketahanan pangan nasional. Di sisi lain, PTBA juga mulai menggarap energi terbarukan melalui pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang dibangun di lahan bekas tambang, dengan kapasitas terpasang mencapai 1,2 megawatt.
Yang lebih menarik adalah kesiapan proyek gasifikasi batu bara yang selama ini dinanti. Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA, Turino Yulianto, menyatakan bahwa proyek DME dan synthetic natural gas (SNG) tengah berada dalam tahap studi kelaikan akhir di bawah koordinasi Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). "Yang DME fungsinya untuk mengurangi substitusi impor LPG, sedangkan SNG untuk menutupi kekurangan kebutuhan gas untuk industri. Dua-duanya adalah program strategis nasional," jelasnya. Ia menargetkan konstruksi fisik dapat dimulai tahun depan.
Proyek DME nantinya akan menyerap pasokan dari Pertamina Patra Niaga, sementara SNG akan disalurkan melalui PGN. Kesiapan off-taker ini menjadi sinyal positif bagi bankabilitas proyek. Bagi Indonesia, hilirisasi batu bara menjadi DME adalah langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada impor LPG yang selama ini membebani neraca perdagangan. Sementara SNG dapat menjadi solusi atas kelangkaan gas untuk industri dalam negeri.
Langkah PTBA ini tidak bisa dilepaskan dari tren global menuju energi bersih. Meski batu bara masih menjadi primadona, diversifikasi ke produk bernilai tambah dan energi terbarukan adalah upaya untuk memperpanjang umur bisnis di tengah tekanan lingkungan. "Ke depan PTBA akan terus mengidentifikasi berbagai potensial project di bidang hilirisasi, energi terbarukan, optimalisasi aset dan lahan pasca tambang," tambah Una.
Target ambisius pun dipasang: kontribusi dari lini bisnis hilirisasi dan diversifikasi diharapkan mencapai 20% dari total pendapatan perseroan dalam kurun waktu empat tahun. "Kita bertahap pengembangan diversifikasi ini. Kita sudah targetkan dalam empat tahun ke depan kontribusi dari hilirisasi dari diversifikasi ini sekitar 20% dari total pendapatan perseroan," tandas Turino.
Pertanyaannya, apakah PTBA mampu merealisasikan target tersebut di tengah fluktuasi harga batu bara dan kompleksitas teknologi gasifikasi yang belum terbukti secara komersial di Indonesia? Keberhasilan proyek ini akan menjadi ujian bagi kemampuan BUMN dalam bertransformasi dari sekadar penambang menjadi pemain industri hilir yang tangguh.



