Ibas Peringatkan Generasi Muda: Jangan Serahkan Masa Depan Bangsa ke Algoritma
Baca dalam 60 detik
- Wakil Ketua MPR Edhie Baskoro Yudhoyono mendesak anak muda untuk tidak mempercayai begitu saja konten viral di media sosial karena popularitas tidak menjamin kebenaran.
- Dalam seminar kebangsaan, Ibas menekankan bahwa algoritma dapat membentuk opini publik secara diam-diam, sehingga literasi digital menjadi kunci demokrasi yang sehat.
- Politisi dan generasi muda diminta untuk mengedepankan substansi kebijakan dibanding sekadar mengejar jumlah pengikut atau tayangan di platform digital.

Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono, yang akrab disapa Ibas, melontarkan peringatan keras kepada generasi muda Indonesia agar tidak menyerahkan proses berpikir kritisnya kepada kecerdasan buatan (AI) dan algoritma media sosial. Dalam sebuah seminar kebangsaan di Jakarta, ia menegaskan bahwa masa depan demokrasi Indonesia bergantung pada kemampuan warganya untuk memilah informasi, bukan sekadar menjadi konsumen konten yang pasif.
Ibas menggarisbawahi bahaya tersembunyi dari algoritma yang bekerja di balik layar platform seperti TikTok dan media sosial lainnya. Menurutnya, sistem ini dirancang untuk menampilkan konten berdasarkan perilaku pengguna—apa yang ditonton, disukai, atau dibagikan—sehingga secara perlahan membentuk gelembung informasi yang sempit. "Kita sering merasa sedang memilih konten, padahal algoritma juga sedang memilih apa yang akan kita lihat," ujarnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa.
Kekhawatiran ini menjadi semakin relevan ketika dikaitkan dengan politik. Ibas menilai bahwa di ruang digital, informasi tentang pemerintah, kebijakan publik, hingga calon pemimpin dapat dengan mudah dimanipulasi oleh arus konten yang viral. Ia mengingatkan bahwa tingkat popularitas sebuah unggahan tidak pernah menjadi jaminan kebenarannya. "Viral bukan berarti benar. Informasi bisa dibagikan jutaan kali, tetapi tetap bisa salah," tegas putra sulung Presiden ke-6 RI itu.
Lebih jauh, Ibas menyoroti bahwa demokrasi di era digital menuntut lebih dari sekadar kebebasan berbicara. Ia menilai masyarakat perlu memiliki kebebasan berpikir yang memadai, termasuk kemampuan untuk memeriksa data, mendengarkan berbagai perspektif, dan berani mengakui kesalahan. "Kita harus punya keberanian untuk mengatakan bahwa mungkin kita salah," katanya, menekankan pentingnya kerendahan hati intelektual di tengah derasnya arus informasi.
Tak hanya menyasar anak muda, Ibas juga memberikan pesan tegas kepada para politisi. Ia mendorong mereka untuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana menyampaikan gagasan, tetapi mengingatkan bahwa jumlah tayangan dan pengikut bukanlah ukuran keberhasilan politik. "Politisi boleh menjadi kreator, tetapi politik bukan tentang siapa yang paling viral. Politik adalah tentang siapa yang mampu menawarkan solusi dan bertanggung jawab atas keputusan yang dibuat," ujarnya. Ia menambahkan, "Belum tentu views sama dengan leadership. Belum tentu followers sama dengan trust. Konten juga tidak sama dengan kebijakan."
Bagi Indonesia, peringatan ini datang di tengah meningkatnya penggunaan media sosial sebagai ruang diskusi publik. Data dari We Are Social menunjukkan bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai lebih dari 200 juta orang, dengan mayoritas mengakses platform digital setiap hari. Fenomena ini menjadikan literasi digital bukan lagi sekadar keterampilan tambahan, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga kualitas demokrasi. Ibas menegaskan bahwa partisipasi politik tidak harus selalu berbentuk demonstrasi atau kampanye; kepedulian terhadap isu pendidikan, lapangan kerja, harga kebutuhan pokok, lingkungan, dan keadilan sosial juga merupakan bentuk partisipasi yang nyata.
Di akhir pernyataannya, Ibas merangkum pesannya dalam tiga kata kunci: Think Deep, Participate, dan Lead. Ia mengajak generasi muda untuk berpikir kritis, aktif berpartisipasi dalam kanal-kanal demokrasi yang tersedia, dan berani mengambil peran kepemimpinan. "Ada satu hal yang tidak boleh kita serahkan kepada AI, tidak boleh kita serahkan kepada algoritma, yaitu masa depan Indonesia. Indonesia adalah milik kita dan milik generasi yang akan datang," pungkasnya.
Pernyataan Ibas ini memunculkan pertanyaan besar: akankah generasi digital native mampu melepaskan diri dari cengkeraman algoritma yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari? Atau justru kesadaran kritis ini akan menjadi awal dari gerakan literasi digital yang lebih masif di kalangan anak muda Indonesia? Hanya waktu yang akan membuktikan, tetapi yang jelas, seruan untuk tidak menyerahkan masa depan bangsa kepada mesin adalah pengingat yang tidak bisa diabaikan begitu saja.



