Enam Pendaki Termasuk Dua Anak Ditemukan Selamat di Kem Kulim Setelah Hilang Enam Hari
Baca dalam 60 detik
- Tim gabungan berhasil menemukan enam pendaki yang dilaporkan hilang di kawasan Gunung Trans Gerak, Kelantan, dalam kondisi selamat tanpa luka.
- Operasi pencarian melibatkan helikopter dan 11 personel dari berbagai instansi, menyisir area sekitar Kem Kulim yang berjarak 4,3 km dari Gunung Bongok.
- Kejadian ini menyoroti pentingnya prosedur keselamatan pendakian dan koordinasi tanggap darurat di medan terpencil, menjadi pelajaran bagi komunitas pendaki di kawasan serupa.

Gerik – Enam pendaki, termasuk dua anak-anak, yang dilaporkan hilang selama ekspedisi di kawasan Lojing, Kelantan, akhirnya ditemukan dalam keadaan selamat oleh tim penyelamat di Kem Kulim, Selasa malam. Mereka dievakuasi ke Kampung Lelar sekitar pukul 20.45 waktu setempat dan langsung mendapatkan perawatan medis di klinik kesehatan Pos Kemar.
Kepala Polisi Daerah Gerik, Superintenden Abdul Samad Othman, membenarkan bahwa seluruh korban tidak mengalami cedera. “Mereka selamat dan tidak terluka,” ujarnya dalam pernyataan resmi. Keenam pendaki tersebut adalah Shafiee Sidek (49), Hazman Mamat (43), Wan Ahmad Aslam Wan Zairudin (39), Siti Zulaiha Norizan (39), serta dua anak, Diya Raisha (13) dan Ahmad Raef (9). Mereka terdiri dari empat anggota keluarga dan dua pemandu.
Rombongan ini memulai pendakian dari area Gunung Trans Gerak di Lojing pada 29 Agustus dan dijadwalkan keluar melalui Pos Kemar pada 3 September. Namun, kontak terakhir terjadi pada pagi 1 September, dan setelah itu mereka tidak dapat dihubungi. Keluarga yang cemas akhirnya melaporkan kehilangan mereka kepada polisi pada hari Minggu, memicu operasi pencarian besar-besaran.
Operasi penyelamatan melibatkan 11 personel gabungan dari kepolisian, Departemen Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, Dinas Kehutanan, serta Angkatan Pertahanan Sipil. Tim diterjunkan menggunakan helikopter menuju Kem Kulim, yang berada sekitar 4,3 kilometer dari Gunung Bongok dengan waktu tempuh dua jam berjalan kaki. Tim penyelamat tiba di lokasi dan memutuskan untuk bertahan semalam sebelum mengevakuasi para pendaki keesokan harinya.
Kepala polisi menjelaskan bahwa operasi awalnya direncanakan menyusuri jalur dari Pos Kemar, titik keluar yang dijadwalkan. Namun, pencarian dialihkan setelah pemandu gunung setempat menemukan jejak para pendaki di sekitar Kem Kulim. “Mereka ditemukan oleh pemandu gunung,” tambah Abdul Samad, menggarisbawahi peran penting pengetahuan lokal dalam keberhasilan misi ini.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan risiko pendakian di kawasan terpencil seperti Lojing, yang dikenal dengan medan menantang dan minim sinyal komunikasi. Meski seluruh korban selamat, insiden ini menyoroti perlunya perencanaan matang, perlengkapan darurat, dan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan. Bagi para pendaki di Indonesia, terutama yang kerap menjelajah gunung-gunung di Sumatera atau Kalimantan dengan karakteristik serupa, kejadian ini relevan sebagai pelajaran berharga.
Keberhasilan operasi ini juga menunjukkan efektivitas koordinasi antarinstansi dalam situasi darurat. Namun, pertanyaan yang muncul adalah: apakah regulasi pendakian di kawasan konservasi sudah cukup ketat untuk mencegah kejadian serupa? Dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap aktivitas outdoor, evaluasi terhadap sistem izin dan pengawasan jalur pendakian menjadi semakin mendesak, baik di Malaysia maupun Indonesia.



