Robin Gosens: Dari Mimpi Masa Kecil hingga Ujian Berat Melawan Bayern, Kini Siap Balas Dendam ke Union Berlin
Baca dalam 60 detik
- Robin Gosens tampil impresif saat Schalke menahan imbang Bayern Munich 0-0, menjadi tim pertama yang menjaga gawang bersih dari juara bertahan sejak Februari 2025.
- Pemain berusia 32 tahun itu mengaku debutnya bersama Schalke sempat mengecewakan, tetapi hasil melawan Bayern menjadi titik balik kepercayaan diri tim.
- Laga tandang melawan mantan klubnya, Union Berlin, akan menjadi ujian nyata bagi ambisi Schalke bertahan di Bundesliga musim ini.

Robin Gosens baru dua pekan berseragam Schalke 04, namun bek sayap asal Jerman itu sudah mencatatkan momen yang akan dikenang para penggemar: ia menjadi salah satu arsitek di balik hasil imbang 0-0 melawan Bayern Munich di VELTINS-Arena, pekan lalu. Kini, ia bersiap kembali ke ibu kota untuk menghadapi mantan klubnya, Union Berlin, dengan misi mengamankan tiga poin perdana musim ini.
Perjalanan Gosens di Schalke tidak dimulai dengan mulus. Pada laga pembuka Bundesliga, tim asuhan Karel Geraerts harus menelan kekalahan telak 3-0 dari Augsburg. Gosens, yang baru bergabung dari Fiorentina pada bursa musim panas, hanya tampil sebagai pemain pengganti di babak kedua. Kekalahan itu, menurut pengakuannya, menjadi 'reality check' yang pahit namun berharga. "Kami melihat beberapa area di mana kami kurang cerdas dan kurang pengalaman Bundesliga. Tapi itu manusiawi dan logis. Saya tidak khawatir, kami akan segera mendapatkan hasil bagus," ujarnya usai laga, seperti dikutip dari laman resmi Bundesliga.
Benar saja, hanya berselang sepekan, Schalke mampu menahan imbang Bayern Munich yang sedang dalam performa terbaik. Bayern, yang musim lalu mencetak rekor 122 gol dalam perjalanan meraih gelar juara, memulai musim ini dengan tiga kemenangan beruntun dan selalu mencetak minimal empat gol. Namun, berkat penampilan gemilang kiper Loris Karius dan disiplin tinggi lini belakang, Schalke menjadi tim pertama sejak Leverkusen pada Februari 2025 yang mampu menjaga gawangnya tetap perawan dari gempuran Bayern. Gosens, yang diberi tugas berat untuk mengawal Lennart Karl dan kemudian Michael Olise, tampil tanpa cela. "Saya pikir kami semua sudah bermain di batas kemampuan hari ini, bahkan mungkin melebihinya. Kami bekerja keras untuk poin ini dan melakukannya bersama-sama. Itu membuat saya sangat bangga," kata Gosens.
Kinerja impresif itu seakan membenarkan keputusan Gosens bergabung dengan Schalke, klub yang dicintainya sejak kecil. Pria kelahiran Lower Rhine ini mengaku awalnya tidak tertarik pada sepak bola, sampai suatu hari ayah baptisnya mengajaknya menonton pertandingan di stadion. "Saya berjalan menaiki anak tangga di stadion, memandang lapangan, dan sesuatu terjadi dalam diri saya; sesuatu berubah. Itu seperti sihir. Keesokan harinya saya mendaftar di klub sepak bola dan sejak itu bola menjadi sahabat terbaik saya," kenangnya. Kini, ia mewujudkan mimpi masa kecilnya dengan bermain di klub yang sama, sebuah siklus yang menurutnya terasa luar biasa.
Namun, perjalanan Gosens tidak selalu mulus. Musim 2023/24 ia habiskan di Union Berlin, klub yang membawanya tampil di Liga Champions untuk pertama kalinya. Awal musim berjalan manis dengan dua kemenangan beruntun dan Gosens mencetak dua gol. Namun, performa Union merosot tajam setelah itu; mereka kehilangan sembilan laga beruntun di liga, yang berujung pada pemecatan pelatih Urs Fischer. Gosens tetap tampil reguler dengan 37 penampilan dan tujuh gol di semua kompetisi, tetapi kepergiannya di akhir musim menuai kritik dari suporter. Ia pun angkat bicara, menjelaskan bahwa kepindahannya lebih disebabkan faktor pribadi dan keluarga yang sulit beradaptasi dengan kehidupan di Berlin, bukan karena masalah sepak bola. "Secara olahraga, saya sangat menikmati bermain untuk Union Berlin. Secara pribadi, kami tidak menemukan kenyamanan di sana. Kami tidak cocok dengan Berlin mengingat kondisi keluarga kami saat itu," jelasnya.
Laga akhir pekan nanti jelas bukan sekadar pertandingan biasa bagi Gosens. Ia akan kembali ke Stadion An der Alten Fรถrsterei, tempat ia pernah merasakan atmosfer paling emosional dalam kariernya. "Saya sangat menantikan untuk kembali ke sana," katanya. Namun, ia juga sadar bahwa Union Berlin adalah pesaing langsung Schalke dalam perebutan posisi aman di klasemen. Gosens menegaskan bahwa timnya harus tampil habis-habisan untuk mengamankan status di kasta tertinggi. "Cara kami bermain, berjuang, dan menunjukkan kemauan untuk mati demi seragam ini akan menjadi penting untuk selalu mendapatkan dukungan fans. Saya pikir kami memiliki kualitas untuk bertahan di Bundesliga dan kemudian stabil di sana," ujarnya.
Bagi Schalke, hasil positif melawan Bayern menjadi modal berharga, tetapi konsistensi tetap menjadi tantangan. Gosens dan rekan-rekannya harus membuktikan bahwa performa tersebut bukan sekadar kebetulan. Apakah Schalke mampu memanfaatkan momentum ini untuk meraih kemenangan perdana, atau justru kembali terpuruk di kandang lawan? Pertandingan melawan Union Berlin akan menjadi jawabannya.



