Pulang Umrah Terlantar: 382 Jamaah Garuda Diterbangkan dari Aceh ke Kertajati
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 382 jamaah umrah yang sempat dialihkan ke Aceh akibat erupsi Anak Krakatau akhirnya diterbangkan ke Bandara Kertajati, Jawa Barat, Senin (7/9).
- Garuda Indonesia menempuh jalur darat dari Kertajati ke Soekarno-Hatta, menyoroti kesiapan bandara alternatif dalam situasi darurat.
- Insiden ini menjadi uji nyata protokol penerbangan Indonesia saat bencana vulkanik, sekaligus menguji kenyamanan layanan bagi jamaah.

Sebanyak 382 jamaah umrah yang sempat tertahan di Aceh akibat terdampak penutupan Bandara Soekarno-Hatta akhirnya tiba di Bandara Kertajati, Majalengka, Jawa Barat, pada Senin (7/9) siang. Mereka diterbangkan menggunakan Garuda Indonesia GA 981 dari Bandara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Aceh Besar, setelah sebelumnya dialihkan karena erupsi Anak Gunung Krakatau yang menyebarkan abu vulkanik hingga ke wilayah udara Jakarta.
General Manager Garuda Indonesia Banda Aceh, Jufriandi, mengonfirmasi bahwa seluruh penumpang telah diberangkatkan pada pukul 13.38 WIB. Setibanya di Kertajati, para jamaah tidak langsung diantarkan ke Jakarta, melainkan diangkut menggunakan bus menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Rute darat ini ditempuh sebagai bagian dari upaya memastikan keselamatan penerbangan, mengingat kondisi bandara utama masih dalam proses pemulihan pasca-penutupan sementara.
Selama masa tunggu di Aceh, Garuda Indonesia tidak tinggal diam. Seluruh jamaah diinapkan di Asrama Haji Aceh, sebuah langkah yang menurut Jufriandi bertujuan menjaga kondisi psikologis para penumpang. "Kami berupaya agar mereka tidak panik dan tetap nyaman, seperti di rumah sendiri," ujarnya di Blang Bintang, Senin. Langkah ini dinilai penting mengingat mayoritas penumpang adalah jamaah lanjut usia yang baru menyelesaikan ibadah dan membutuhkan pemulihan tenaga.
Pengalihan rute ini merupakan buntut dari penutupan operasional Bandara Soekarno-Hatta pada Minggu (6/9) akibat sebaran abu vulkanik erupsi Anak Krakatau. Data Kementerian Perhubungan menyebutkan sedikitnya 624 penerbangan tertunda dan belasan lainnya dialihkan ke bandara alternatif, termasuk Kertajati dan Sultan Iskandar Muda. Maskapai Garuda Indonesia sendiri membatalkan seluruh penerbangan dari Jakarta hingga Lampung pada hari yang sama, sebagai langkah antisipasi terhadap dampak abu vulkanik terhadap mesin pesawat.
Peristiwa ini menjadi sorotan atas kesiapan infrastruktur bandara alternatif di Indonesia. Bandara Kertajati, yang selama ini sepi penerbangan, justru menjadi primadona saat krisis. Pengamat penerbangan menilai insiden ini membuktikan bahwa bandara di Majalengka tersebut layak difungsikan sebagai hub pemecah kepadatan Jakarta, meski masih perlu peningkatan akses transportasi darat. Di sisi lain, pengalihan ke Aceh menunjukkan pentingnya bandara di ujung barat Indonesia sebagai titik darurat strategis.
Bagi para jamaah, keterlambatan ini tentu melelahkan, namun penanganan yang sigap dari Garuda Indonesia patut diapresiasi. Asrama Haji yang biasanya digunakan untuk calon haji, kini difungsikan sebagai tempat transit darurat, memberikan fasilitas yang memadai di tengah ketidakpastian. Langkah ini juga menjadi pembelajaran bagi maskapai lain dalam menangani penumpang saat bencana alam.
"Kami berupaya agar mereka tidak panik dan tetap nyaman, seperti di rumah sendiri." โ Jufriandi, General Manager Garuda Indonesia Banda Aceh.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana koordinasi antar bandara dan maskapai dapat lebih dioptimalkan. Apakah Kertajati akan semakin sering digunakan sebagai bandara alternatif, atau justru pengalihan ke Aceh menjadi sinyal perlunya pengembangan bandara di Sumatera? Yang jelas, insiden ini menjadi ujian nyata bagi ketangguhan sistem penerbangan nasional dalam menghadapi bencana yang tak terduga.



