Perpustakaan Jepang yang Mengizinkan Ngobrol Justru Ramai Dikunjungi: Pelajaran bagi Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Perpustakaan Futami di Akashi, Jepang, mencatat 204.983 kunjungan pada tahun pertamanya dengan konsep bebas bicara dan bermain.
- Desain inklusif yang muncul dari masukan warga ini menantang norma perpustakaan konvensional dan berhasil menarik beragam kelompok usia.
- Keberhasilan Futami membuka diskusi tentang masa depan ruang publik di Indonesia yang selama ini identik dengan larangan dan kesunyian.

Di tengah hiruk-pikuk pusat perbelanjaan Ito Yokado di Akashi, Prefektur Hyogo, Jepang, sebuah perpustakaan umum justru menjadi magnet baru bagi warga. Futami Library, yang baru beroperasi 17 bulan, sengaja membalik tradisi perpustakaan yang khusyuk dan sunyi dengan mempersilakan pengunjungnya mengobrol, bermain gim di ponsel, bahkan menelepon singkat. Hasilnya? Lebih dari 204.000 kunjungan tercatat pada tahun pertama, angka yang bersaing dengan perpustakaan kota inti lain di Jepang.
Konsep yang dijuluki "perpustakaan ruang tamu" ini lahir bukan dari meja kerja birokrat, melainkan dari tiga lokakarya publik yang digelar pemerintah kota sebelum pembangunan. Warga menginginkan tempat yang nyaman dan santai, bukan ruang penuh aturan yang terasa membatasi. Keluhan tentang larangan yang menyesakkan menjadi masukan utama, sehingga pengelola memilih untuk menonjolkan kebebasan daripada daftar panjang larangan. Pengunjung bahkan diberi tahu secara terbuka bahwa percakapan diperbolehkan.
Lokasi strategis di lantai tiga pusat perbelanjaan dekat Stasiun Nishi-futami turut menunjang. Suara pengumuman dari mal yang terus terdengar membuat pengunjung terbiasa dengan kebisingan, dan pengelola mengaku belum menerima keluhan soal kegaduhan. Justru, suasana hidup ini menarik beragam kalangan: lansia, orang tua dengan anak kecil, hingga generasi muda. Perpustakaan seluas 500 meter persegi ini juga menjadi tuan rumah lebih dari 100 acara tahunan, mulai dari klub buku, mendongeng, hingga pertunjukan sulap.
Direktur perpustakaan, Yoko Obata, menegaskan visinya: "Kami ingin menjadikan tempat ini perpustakaan di mana interaksi antarwarga meningkat melalui buku." Pernyataan itu bukan sekadar slogan. Papan pesan komunitas yang disediakan di dalam ruangan menjadi bukti nyata, dengan warga saling bertukar pikiran tentang berbagai topik. Bahkan, ada hari khusus "membaca tenang" bagi yang tetap ingin suasana hening, menunjukkan keseimbangan antara kebebasan dan kebutuhan akan fokus.
Fenomena ini memantik pertanyaan relevan bagi Indonesia, di mana perpustakaan umum kerap sepi peminat dan terkesan kaku. Padahal, data Perpustakaan Nasional menunjukkan tingkat kegemaran membaca masyarakat Indonesia masih rendah, dan salah satu penyebabnya adalah kurangnya ruang publik yang nyaman dan inklusif. Model Futami menunjukkan bahwa perpustakaan bisa menjadi pusat kegiatan sosial, bukan sekadar gudang buku. Jika Indonesia berani mengadopsi pendekatan serupa, dengan melibatkan warga dalam desain dan mengizinkan interaksi yang lebih cair, bukan tidak mungkin minat baca dan kunjungan akan meningkat.
Namun, tantangan tentu ada. Budaya ketertiban dan kepatuhan di Jepang berbeda dengan Indonesia yang lebih cair. Pertanyaannya, mampukah kita meniru keberanian Futami untuk mendobrak pakem, sambil tetap menjaga fungsi perpustakaan sebagai ruang literasi? Atau justru kita bisa menciptakan model sendiri yang lebih sesuai dengan karakter masyarakat? Yang jelas, eksperimen Akashi membuktikan bahwa ruang publik yang manusiawi bisa menjadi katalis perubahan sosial.



