Chairul Tanjung: Kunci Bisnis Tidak Instan, Uji Karyawan Bertahap
Baca dalam 60 detik
- Chairul Tanjung membagikan resep menghadapi bisnis stagnan di tengah pelemahan daya beli, menekankan proses panjang dan uji karakter karyawan.
- Dalam sesi coaching clinic di Lampung, ia menyoroti keterbatasan tes psikologi dalam mendeteksi integritas calon pekerja.
- Pesan penutupnya menggarisbawahi pentingnya faktor keberuntungan yang bersumber dari nilai spiritual sebagai pembeda dalam persaingan usaha.

Chairman CT Corp, Chairul Tanjung, menegaskan bahwa kesuksesan bisnis tidak pernah hadir secara instan, melainkan melalui proses panjang yang diwarnai kerja keras, doa, dan kemampuan membaca karakter orang lain. Pernyataan itu disampaikannya di hadapan puluhan mahasiswa wirausaha dalam sesi Inspirational Talk di Lampung Financial Festival 2026, Minggu (6/9), di Hotel Novotel, Bandar Lampung.
Acara yang dikemas sebagai coaching clinic tersebut menjadi ajang bagi lima mahasiswa terpilih untuk memaparkan langsung problematika usaha mereka—mulai dari jasa bimbingan skripsi, penjualan gorengan, hingga pengelolaan kebun kelapa sawit. Mereka mengadu sejumlah persoalan yang tengah menghambat pertumbuhan usaha, seperti kondisi bisnis yang stagnan, daya beli masyarakat yang melemah, serta kesulitan dalam merekrut karyawan yang tepat.
Menanggapi hal itu, CT menilai persoalan yang dihadapi para mahasiswa merupakan tantangan klasik yang juga membelit pengusaha skala besar. Salah satu isu yang ia soroti adalah maraknya risiko kecurangan atau fraud oleh karyawan. Menurutnya, banyak pengusaha terlalu percaya pada hasil tes psikologi saat merekrut pegawai, padahal metode tersebut tidak pernah bisa menjadi jaminan mutlak atas integritas seseorang.
"Tidak ada cara yang bisa memastikan seseorang sepenuhnya dapat dipercaya," ujarnya. Karena itu, ia menyarankan para pengusaha untuk melakukan uji coba secara bertahap dalam periode tertentu, sehingga watak dan karakter calon karyawan dapat terlihat lebih jelas sebelum diberikan tanggung jawab besar. Pendekatan ini, lanjutnya, lebih efektif dibandingkan sekadar mengandalkan hasil asesmen tertulis yang kerap tidak menggambarkan kondisi riil di lapangan.
Bagi pelaku usaha muda di Indonesia, masukan CT ini relevan di tengah kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian. Banyak startup dan bisnis kecil yang mengeluhkan sulitnya mencari karyawan loyal dan jujur, sementara daya beli masyarakat yang melemah membuat margin usaha semakin tipis. Dalam situasi seperti ini, kesalahan rekrutmen bisa menjadi bumerang yang mempercepat kebangkrutan usaha.
CT juga mengingatkan bahwa kesuksesan tidak bisa dilepaskan dari aspek spiritual. Ia mengajak para peserta untuk senantiasa berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa setelah melakukan ikhtiar maksimal. "Orang bodoh akan kalah dari orang pintar, orang pintar bisa kalah dari orang licik, tetapi orang licik tidak akan pernah mengalahkan orang yang beruntung," tuturnya. Menurut dia, panduan untuk menjadi pribadi yang beruntung tersebut telah tertuang dalam Alquran dan perlu diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Kehadiran sosok seperti Chairul Tanjung di forum-forum kewirausahaan menjadi penting karena ia adalah contoh nyata bagaimana seseorang bisa membangun kerajaan bisnis dari nol. Pengalamannya membesarkan CT Corp—yang membawahi bank, media, hingga ritel—memberi perspektif bahwa kegagalan dan stagnasi adalah bagian dari siklus yang harus dikelola, bukan dihindari.
Ke depan, tantangan bagi para wirausaha muda bukan hanya bagaimana memulai usaha, tetapi juga bagaimana menjaga keberlanjutan di tengah gejolak ekonomi. Apakah mereka mampu menerapkan resep ketekunan dan kehati-hatian dalam memilih tim seperti yang ditekankan CT? Atau justru akan terjebak pada pragmatisme jangka pendek? Jawabannya akan menentukan wajah kewirausahaan Indonesia dalam satu dekade mendatang.



