Latihan Menembak Malam Super Garuda Shield: TNI dan Marinir Empat Negara Asah Kemampuan Tempur di Lampung
Baca dalam 60 detik
- Latihan menembak malam melibatkan marinir dari Indonesia, AS, Jepang, dan Korea Selatan di Lampung.
- Fokus latihan adalah penguasaan alat NVG dan taktik infiltrasi untuk operasi dalam gelap.
- Super Garuda Shield 2026 diikuti 4.743 personel dari 21 negara, menegaskan posisi Indonesia dalam diplomasi pertahanan regional.

Prajurit TNI Angkatan Laut bersama korps marinir dari Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan menggelar latihan menembak malam hari di Batalyon Infanteri 9 Marinir, Teluk Pandan, Pesawaran, Lampung, pada Kamis (4/9). Latihan yang menjadi bagian dari Latihan Gabungan Bersama Super Garuda Shield (SGS) 2026 ini dirancang untuk menguji kemampuan infiltrasi dan akurasi tembakan dalam kondisi gelap, sebuah keterampilan krusial dalam operasi militer modern.
Dalam siaran resmi Pusat Penerangan Mabes TNI yang dirilis Sabtu (6/9), latihan ini bukan sekadar uji tembak biasa. Para prajurit dituntut memanfaatkan perangkat Night Vision Goggles (NVG) secara optimal, menjaga disiplin penggunaan lampu, serta memastikan bidikan tepat sasaran di tengah kegelapan. Selain itu, penguasaan medan dan navigasi malam menjadi syarat mutlak agar pergerakan pasukan tetap taktis dan tidak mudah terdeteksi lawan.
Latihan ini melibatkan empat kekuatan marinir: Korps Marinir TNI AL, United States Marine Corps (USMC), Amphibious Rapid Deployment Brigade (ARDB) dari Jepang, dan Republic of Korea Marine Corps (ROK MC). Keterlibatan negara-negara dengan doktrin amfibi yang berbeda ini menunjukkan adanya standarisasi taktik, sekaligus mempererat interoperabilitas antarpasukan. Menurut analis militer, latihan semacam ini penting untuk menyamakan persepsi taktis, terutama dalam operasi gabungan yang melibatkan banyak negara.
Super Garuda Shield 2026 sendiri merupakan latihan tahunan terbesar di kawasan, berlangsung sejak 31 Agustus hingga 11 September 2026. Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto mengungkapkan bahwa tahun ini diikuti 4.743 personel dari 21 negara dengan 12 materi latihan. โSuper Garuda Shield ini dilaksanakan setiap tahun di Indonesia. Yang hadir ada 21 negara tahun ini,โ ujarnya saat pembukaan di Bandung, Jawa Barat, Senin (31/8).
Lokasi latihan tersebar di beberapa titik strategis: Bandung, Jakarta, Lampung, Pusat Latihan Tempur TNI AD Baturaja di Sumatera Selatan, serta Nunukan di Kalimantan Utara. Penutupan akan digelar di Jakarta pada 11 September 2026. Selain menembak malam, materi lain mencakup simulasi serangan udara, perbaikan infrastruktur, dan latihan terbang malam yang melibatkan TNI dan US Army.
Bagi Indonesia, latihan ini memiliki dimensi strategis yang lebih luas. Di tengah rivalitas kekuatan di Indo-Pasifik, kehadiran militer dari negara-negara seperti AS, Jepang, dan Korea Selatan di wilayah Indonesia menunjukkan kepercayaan internasional terhadap stabilitas dan kapabilitas pertahanan nasional. Ini juga menjadi ajang bagi TNI untuk belajar dari praktik terbaik negara lain, terutama dalam hal teknologi dan taktik perang modern.
Namun, di sisi lain, latihan semacam ini kerap memicu perdebatan mengenai netralitas Indonesia di tengah ketegangan global. Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa SGS adalah bagian dari diplomasi pertahanan yang bertujuan memperkuat kerja sama, bukan untuk menyeret Indonesia ke dalam konflik tertentu. Jenderal Agus menekankan bahwa latihan ini adalah agenda tahunan yang telah direncanakan dan bersifat transparan.
Dari sisi prajurit, latihan menembak malam ini memberikan pengalaman berharga yang tidak selalu didapat dalam latihan rutin. Mengoperasikan NVG di medan sebenarnya, dengan tekanan waktu dan ketepatan sasaran, adalah simulasi nyata dari kondisi pertempuran. Seluruh rangkaian latihan dilaporkan berjalan lancar tanpa insiden, menunjukkan profesionalisme tinggi para peserta.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi bagaimana Indonesia dapat memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat industri pertahanan dalam negeri. Apakah latihan semacam ini akan mendorong transfer teknologi dan peningkatan anggaran alutsista, atau hanya menjadi seremoni tahunan? Jawabannya akan menentukan arah modernisasi TNI dalam beberapa tahun ke depan.



