Tommy Koh, Diplomat Legendaris Singapura, Raih Penghargaan Ramon Magsaysay 2026
Baca dalam 60 detik
- Tommy Koh dinobatkan sebagai salah satu dari tiga penerima Ramon Magsaysay Award 2026, penghargaan bergengsi Asia yang mengakui kontribusi luar biasa bagi kawasan.
- Karier Koh selama lima dekade mencakup peran kunci dalam negosiasi Hukum Laut PBB, KTT Bumi 1992, dan penyusunan Piagam ASEAN, menjadikannya figur sentral diplomasi regional.
- Penghargaan ini datang saat Koh melepas jabatan Duta Besar Keliling, menandai babak baru dalam pengabdiannya yang panjang bagi Singapura dan Asia.

Veteran diplomat Singapura, Tommy Koh, resmi dinobatkan sebagai salah satu dari tiga penerima Ramon Magsaysay Award 2026, sebuah penghargaan prestisius yang kerap dijuluki 'Nobel Asia'. Pengumuman ini disampaikan oleh Kedutaan Besar Singapura di Manila melalui unggahan Facebook pada 31 Agustus, menegaskan pengakuan atas dedikasi Koh yang telah membentang lebih dari lima dekade di panggung diplomasi internasional.
Penghargaan yang didirikan pada 1957 untuk mengenang presiden ketujuh Filipina, Ramon Magsaysay, ini memang dirancang untuk menghormati individu dan organisasi yang karyanya memberikan dampak signifikan bagi Asia. Koh, yang kini berusia 87 tahun, bukanlah nama asing di kancah global. Ia pernah memimpin Konferensi PBB Ketiga tentang Hukum Laut dan memainkan peran penting dalam menyukseskan negosiasi Konvensi PBB tentang Hukum Laut pada 1982โsebuah tonggak sejarah yang hingga kini menjadi kerangka hukum maritim dunia.
Selain itu, Koh juga memimpin negosiasi di KTT Bumi PBB 1992 dan mengetuai Gugus Tugas Tingkat Tinggi yang merancang Piagam ASEAN pada 2007. Kontribusinya tidak berhenti di ranah diplomasi; ia juga aktif dalam dunia pendidikan, termasuk sebagai rektor pendiri Tembusu College di Universitas Nasional Singapura. Pengakuan ini datang tepat saat Koh melepas jabatannya sebagai Duta Besar Keliling di Kementerian Luar Negeri Singapura, menandai transisi penting dalam kariernya yang panjang.
Bagi Indonesia, penghargaan ini memiliki resonansi tersendiri. Tommy Koh adalah salah satu arsitek tatanan hukum laut internasional yang menjadi rujukan dalam berbagai sengketa maritim di kawasan, termasuk yang melibatkan Indonesia. Perannya dalam merumuskan Piagam ASEAN juga menjadi fondasi bagi kerja sama regional yang kini menjadi pilar stabilitas politik dan ekonomi Asia Tenggara. Keahliannya dalam menjembatani perbedaan kepentingan antarnegara, seperti yang ditunjukkan dalam negosiasi Hukum Laut, menjadi pelajaran berharga bagi para diplomat muda di Indonesia dan kawasan.
Koh adalah penerima keempat dari Singapura, setelah Lim Kim San (1965), Goh Keng Swee (1972), dan Tony Tay (2017). Dua penerima lainnya tahun ini adalah Runa Khan, aktivis kemanusiaan asal Bangladesh, dan Bo Kyi, aktivis asal Myanmar. Mereka akan menerima penghargaan dalam sebuah upacara di Metropolitan Theatre, Manila, pada 15 November mendatang, berupa medali, sertifikat, dan hadiah uang tunai yang jumlahnya tidak diungkapkan.
Penghargaan ini tidak hanya menjadi kado perpisahan yang manis bagi Koh, tetapi juga menegaskan relevansi diplomasi klasik di tengah dunia yang semakin kompleks. Di saat banyak negara menghadapi tantangan transnasional seperti perubahan iklim dan ketegangan geopolitik, warisan Koh dalam membangun konsensus multilateral menjadi semakin penting. Pertanyaannya, mampukah generasi penerus di Asia, termasuk Indonesia, meniru jejaknya dalam merajut kerja sama yang mengedepankan kepentingan bersama? Atau justru kita akan menyaksikan pergeseran menuju pendekatan yang lebih pragmatis dan unilateral? Hanya waktu yang akan menjawab, namun jejak Koh memberikan standar yang jelas tentang apa arti kepemimpinan diplomatik yang sesungguhnya.



