Amran Sulaiman Copot 27 Pejabat Kementan: Judi Online dan Dugaan Korupsi Anggaran Jadi Biang Kerok
Baca dalam 60 detik
- Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memberhentikan 27 pejabat eselon I-III sepanjang Agustus 2026, dengan 13 di antaranya terlibat judi online dan 14 lainnya bermasalah dengan pengelolaan anggaran miliaran rupiah.
- Tindakan tegas ini merupakan bagian dari agenda bersih-bersih birokrasi di tengah meningkatnya kekhawatiran publik atas integritas ASN dan potensi kebocoran fiskal di sektor pertanian.
- Langkah ini dapat memicu efek jera bagi ASN lain, namun juga membuka pertanyaan tentang efektivitas pengawasan internal dan apakah ada kasus serupa di kementerian lain yang akan terungkap.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengambil langkah drastis dengan mencopot 27 pejabat eselon di lingkungan Kementerian Pertanian sepanjang Agustus 2026. Keputusan ini diambil setelah ditemukan dugaan penyimpangan anggaran yang melibatkan uang miliaran rupiah serta keterlibatan sejumlah pejabat dalam aktivitas judi online, sebuah praktik yang dinilai merusak integritas birokrasi dan kepercayaan publik.
Dari total 27 pejabat yang dicopot, 13 orang di antaranya diberhentikan secara permanen karena terbukti terlibat dalam judi online. Proses verifikasi yang dilakukan kementerian menemukan bukti kuat, termasuk salah satu pejabat yang memiliki nilai deposit judi online mencapai hampir Rp200 juta. Sementara itu, 14 pejabat lainnya dinonaktifkan sementara karena dugaan penyimpangan penggunaan anggaran yang nilainya ditaksir mencapai miliaran rupiah. Mereka kini tengah diperiksa oleh Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian untuk memastikan fakta pelanggaran.
Amran menegaskan bahwa keterlibatan aparatur sipil negara dalam judi online tidak dapat ditoleransi karena bertentangan dengan nilai kedisiplinan, tanggung jawab pelayanan publik, serta keteladanan sebagai pegawai pemerintah. Ia mengungkapkan bahwa sebagian pejabat yang dicopot sebelumnya telah mendapatkan pembinaan dan peringatan, namun pelanggaran kembali terjadi sehingga pencopotan permanen menjadi langkah terakhir yang harus diambil. "Saya sebagai bapaknya mereka, saya harus bina ke jalan yang baik. Bina mereka supaya dia menjadi manusia yang baik, pelayan yang baik, pegawai teladan, ASN teladan. Jadi saya wajib membinanya," ujarnya di Jakarta, Senin (31/8).
Langkah tegas ini tidak hanya berdampak pada internal Kementerian Pertanian, tetapi juga menjadi sinyal kuat bagi seluruh jajaran birokrasi di Indonesia. Di tengah maraknya pemberitaan tentang judi online yang merambah berbagai kalangan, tindakan Amran menunjukkan bahwa pemerintah serius memberantas praktik tersebut di lingkungan ASN. Namun, pertanyaan besar muncul: apakah ini hanya puncak gunung es? Mengingat jumlah pegawai Kementerian Pertanian mencapai sekitar 52 ribu orang, apakah ada kasus serupa yang belum terungkap di kementerian lain?
Amran memastikan bahwa pencopotan ini tidak akan mengganggu kinerja kementerian. Ia juga menegaskan bahwa langkah bersih-bersih birokrasi akan terus dilakukan apabila ditemukan pelanggaran baru. "Kami ingin membangun Kementerian Pertanian yang profesional, berintegritas, dan berorientasi pada pelayanan masyarakat," tegasnya. Jika pemeriksaan menemukan adanya kerugian negara, kasus tersebut akan dilimpahkan kepada aparat penegak hukum untuk diproses sesuai ketentuan yang berlaku. Sebaliknya, pejabat yang terbukti tidak bersalah akan dikembalikan posisinya dan diberikan kesempatan pengembangan karier berdasarkan kinerja.
Bagi masyarakat Indonesia, langkah ini membawa angin segar dalam upaya pemberantasan korupsi dan perjudian di kalangan pejabat publik. Namun, efektivitas jangka panjangnya masih harus dibuktikan. Apakah pencopotan ini akan diikuti dengan reformasi sistem pengawasan yang lebih ketat? Atau justru menjadi sekadar aksi simbolis? Ke depan, publik akan mencermati bagaimana Kementerian Pertanian dan instansi lainnya menindaklanjuti temuan serupa. Pertanyaan krusial yang menggantung: berapa banyak lagi pejabat yang akan terseret dalam kasus serupa, dan apakah ada sanksi pidana bagi mereka yang terbukti merugikan keuangan negara?



