Messi Tutup Era Timnas Argentina: Warisan yang Melampaui Gelar
Baca dalam 60 detik
- Lionel Messi resmi pensiun dari tim nasional Argentina setelah gagal membawa La Albiceleste mempertahankan gelar juara dunia di final 2026 melawan Spanyol.
- Perjalanan karier internasional Messi ditandai transformasi dari kegagalan beruntun menjadi puncak kejayaan, termasuk gelar Piala Dunia 2022 dan dua Copa America.
- Kepergian Messi meninggalkan standar baru bagi sepak bola Argentina dan membuka pertanyaan tentang regenerasi tim tanpa sosok sentralnya.

Lionel Messi secara resmi mengakhiri pengabdiannya bersama tim nasional Argentina, Senin (31/8), hanya beberapa pekan setelah La Albiceleste gagal mempertahankan gelar juara dunia usai takluk dari Spanyol di partai puncak. Keputusan ini menutup babak panjang yang tidak hanya diwarnai trofi, tetapi juga perjalanan emosional seorang pemain yang pernah diragukan oleh negerinya sendiri.
Di usia 39 tahun, dua dekade setelah debut di panggung terbesar sepak bola, Messi pergi dengan status sebagai pemegang rekor delapan Ballon d'Or, satu gelar Piala Dunia, dan dua mahkota Copa America. Ia juga berhasil keluar dari bayang-bayang Diego Maradona, membangun warisan yang sepenuhnya miliknya—sebuah pencapaian yang sebelumnya tampak mustahil bagi banyak pengamat.
Kekalahan dari Spanyol di final Piala Dunia 2026 memang merampas dongeng penutup yang sempurna. Namun, setelah karier yang mentransformasi Barcelona, Argentina, dan sepak bola modern, hampir tidak ada lagi yang perlu dibuktikan. Empat tahun sebelumnya di Qatar, Messi mengangkat trofi yang ia kejar sepanjang kariernya, mencetak tujuh gol dalam turnamen dan dua gol di final melawan Prancis sebelum Argentina menang adu penalti.
Hubungan Messi dengan jersey Argentina tidak selalu harmonis. Pada 2014, ia membawa timnya ke final Piala Dunia di Brasil, tetapi harus menyerah pada Jerman lewat perpanjangan waktu. Kekalahan beruntun di final Copa America 2015 dan 2016—yang kedua lewat adu penalti melawan Chile—semakin memperdalam luka. Setelah kekalahan itu, Messi sempat mengumumkan pengunduran diri singkat, dengan pernyataan yang mengguncang publik Argentina: "Untuk tim nasional, sudah berakhir bagi saya."
Kembalinya Messi menandai perubahan besar. Di bawah arahan Lionel Scaloni, Argentina membangun tim yang solid di sekitar kaptennya tanpa sepenuhnya bergantung padanya. Energi, agresivitas, dan komitmen kolektif menjadi fondasi yang memungkinkan kejeniusan Messi berkembang. Terobosan terjadi pada Copa America 2021, ketika Argentina mengalahkan Brasil di Maracana—gelar internasional senior pertamanya. Piala Dunia menyusul 18 bulan kemudian, setelah Argentina bangkit dari kekalahan mengejutkan di laga pembuka melawan Arab Saudi.
Bagi Argentina, kesuksesan itu juga menyelesaikan transformasi Messi. Remaja pemalu yang meninggalkan Rosario untuk Barcelona pada usia 13 tahun—yang kerap dianggap lebih Katalan daripada Argentina—telah menjadi pemimpin yang tak terbantahkan. Air mata dan frustrasi masa lalu berubah menjadi nyanyian, mural, dan perayaan. Perbandingan dengan Maradona tidak hilang, tetapi tidak lagi membawa beban yang sama. Messi terus bermain, pindah dari Paris Saint-Germain ke Inter Miami, dan membantu Argentina mempertahankan Copa America 2024 sebelum mencoba satu kali lagi di Piala Dunia.
Menjelang 2026, akselerasi eksplosif yang dulu membuat bek lawan tak berdaya mulai memudar, tetapi Messi beradaptasi. Ia lebih banyak berjalan, menunggu, dan memilih momen, menghemat energi sementara kaki-kaki muda bekerja di sekelilingnya. Kualitas esensialnya tetap utuh: kesadaran akan ruang, ketepatan umpan, dan kemampuan mengubah jalannya pertandingan dengan satu sentuhan. Argentina pun berubah bersamanya. Tim yang mencapai final 19 Juli bukan lagi sekadar kumpulan pemain yang mencari penyelamatan dari Messi; mereka adalah tim berpengalaman, tangguh, dan terbiasa menang, dibentuk oleh tahun-tahun bermain bersama kaptennya.
Evolusi inilah yang memungkinkan Messi memperpanjang karier internasionalnya jauh melampaui perkiraan awal dan meninggalkan panggung dengan caranya sendiri. Angka-angka statistiknya menempatkannya di antara raksasa sepak bola internasional, tetapi angka tidak menceritakan perjalanan dari harapan, penolakan, patah hati, hingga pemujaan. Selama bertahun-tahun, setiap kekalahan dijadikan bukti perbedaannya dengan Maradona. Pada akhirnya, argumen itu menjadi tidak relevan. Maradona membawa Argentina juara dunia 1986; Messi melakukannya pada 2022 dan nyaris mengulanginya empat tahun kemudian.
Bagi Indonesia, kepergian Messi dari timnas Argentina menjadi pengingat bahwa bahkan legenda terbesar pun memiliki batas waktu. Di tengah gairah sepak bola nasional yang tengah bergairah, kisah Messi mengajarkan bahwa kerja keras, adaptasi, dan dukungan kolektif adalah kunci keberhasilan jangka panjang. Pertanyaan yang kini menggantung: dapatkah Argentina menemukan penerus yang mampu mengisi kekosongan yang ditinggalkan, atau justru tim ini akan berkembang menjadi lebih mandiri tanpa sosok sentral? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal pasti—Messi telah menorehkan namanya dalam sejarah sepak bola Argentina selamanya.



