Everton Garap Balogun di Menit Akhir, Kontroversi Piala Dunia Ikut Jadi Sorotan
Baca dalam 60 detik
- Everton resmi mengajukan tawaran untuk penyerang AS, Folarin Balogun, yang dibanderol Monaco sebesar ยฃ40 juta.
- Kepindahan ini berpotensi memanaskan persaingan lini depan The Toffees, meski Richarlison dikabarkan enggan kembali.
- Di balik negosiasi, kasus kartu merah Balogun di Piala Dunia 2026 yang dianulir FIFA masih menyisakan polemik besar.

Everton bergerak cepat di bursa transfer musim dingin dengan mengajukan penawaran resmi untuk penyerang AS Monaco, Folarin Balogun. Klub asal Liverpool itu berharap dapat mengamankan jasa pemain berusia 25 tahun tersebut sebelum tenggat waktu yang jatuh pada Selasa pekan ini, setelah Monaco mematok nilai transfer sekitar 40 juta pound sterling.
Langkah ini menjadi sinyal ambisi Everton untuk memperkuat daya gedor mereka di sisa musim. Selain Balogun, nama Richarlison juga disebut-sebut sebagai target, namun mantan pemain yang kini membela Tottenham itu dikabarkan memiliki keraguan untuk kembali ke Goodison Park. Situasi ini membuat Balogun, yang pernah membela Arsenal, menjadi prioritas utama dalam perburuan penyerang baru.
Keputusan Everton untuk mengejar Balogun tidak lepas dari performa impresifnya di pentas internasional. Meski demikian, kariernya di Piala Dunia 2026 diwarnai kontroversi besar. Kartu merah yang diterimanya saat melawan Bosnia-Herzegovina seharusnya berujung pada larangan bermain otomatis. Namun, komite disiplin FIFA memutuskan untuk menunda hukuman tersebut selama satu tahun, sebuah keputusan yang memicu kecaman luas, terutama setelah terungkap adanya lobi dari Presiden AS Donald Trump dan pejabat Gedung Putih kepada FIFA.
Keputusan kontroversial itu memungkinkan Balogun tampil di babak 16 besar melawan Belgia, yang kemudian berakhir dengan kekalahan timnya. UEFA, sebagai induk sepak bola Eropa, secara terbuka menyebut keputusan tersebut sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya, tidak masuk akal, dan tidak dapat dibenarkan. Sementara itu, kepala komite disiplin FIFA menolak memberikan klarifikasi, dan Presiden FIFA Gianni Infantino membantah adanya intervensi dalam proses pengambilan keputusan.
Perlakuan berbeda yang diterima pemain Inggris, Jarell Quansah, semakin mempertegas kontroversi ini. Quansah menerima kartu merah serupa dalam kemenangan Inggris atas Meksiko dan dijatuhi hukuman larangan bermain dua pertandingan oleh komite yang sama. Perbedaan perlakuan ini memunculkan pertanyaan serius tentang konsistensi dan integritas FIFA dalam menegakkan aturan.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kasus ini menjadi pelajaran penting tentang bagaimana kekuatan politik dapat memengaruhi keputusan di tubuh FIFA. Di tengah upaya Indonesia untuk meningkatkan kualitas sepak bola nasional, transparansi dan konsistensi dalam penegakan aturan menjadi hal yang krusial. Keputusan yang terkesan tebang pilih seperti ini dapat merusak kepercayaan publik terhadap integritas olahraga.
Jika transfer Balogun ke Everton terealisasi, ia akan menjadi tambahan berharga bagi skuad asuhan David Moyes. Namun, di luar kemampuan teknisnya, bayang-bayang kontroversi Piala Dunia akan terus mengikutinya. Pertanyaan besarnya, akankah Everton mampu memanfaatkan potensi Balogun tanpa terganggu oleh polemik di luar lapangan? Atau justru kontroversi itu yang akan menghantui performanya di Premier League?



