Brunei Bawa Kopi dan Kopi Matcha ke Sabah International Expo: Strategi Jaring Wisatawan Nusantara
Baca dalam 60 detik
- Brunei akan memamerkan produk kopi dan matcha dalam Sabah International Expo pada 4-6 September 2026.
- Partisipasi ini merupakan bagian dari roadshow Visit Brunei Year 2027 untuk memperkuat posisi pariwisata Brunei di pasar regional.
- Langkah ini membuka peluang bagi pelaku usaha Brunei untuk menjangkau pasar Indonesia, khususnya Kalimantan dan Sulawesi.

Pemerintah Brunei melalui Dinas Pengembangan Pariwisata memastikan keikutsertaannya dalam Sabah International Expo yang berlangsung pada 4-6 September 2026. Kehadiran ini bukan sekadar pameran biasa, melainkan bagian dari strategi agresif Brunei untuk menarik lebih banyak wisatawan dari kawasan Asia Tenggara, terutama Indonesia yang berbatasan langsung dengan Sabah.
Dalam ajang tiga hari tersebut, Brunei akan memboyong dua agenda unggulan: Brunei Coffee Trail dan roadshow Visit Brunei Year 2027. Keduanya dikemas dalam satu paviliun yang menghimpun para pengusaha kopi dan kafe matcha, penyedia jasa wisata, serta destinasi andalan Brunei. Langkah ini diambil setelah suksesnya Brunei Coffee Trail di Kota Kinabalu pada Agustus 2025 lalu, yang mendapat respons positif dari pengunjung.
Bagi pelaku industri pariwisata Indonesia, kehadiran Brunei di Sabah patut dicermati. Sabah selama ini menjadi gerbang utama wisatawan Indonesia ke Malaysia Timur, dengan jumlah kunjungan yang signifikan dari Kalimantan dan Sulawesi. Dengan memanfaatkan ajang ini, Brunei tidak hanya menargetkan wisatawan Malaysia, tetapi juga menjaring pengunjung Indonesia yang tengah berlibur di Sabah.
Kopi dan matcha menjadi senjata utama Brunei untuk menarik perhatian. Tren konsumsi kopi dan teh hijau di Asia Tenggara memang meningkat, dan Brunei ingin memposisikan diri sebagai destinasi dengan pengalaman kuliner unik. Ini sejalan dengan Visit Brunei Year 2027 yang dicanangkan pemerintah Brunei untuk meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara.
Bagi Indonesia, persaingan pariwisata di kawasan ini semakin ketat. Brunei yang selama ini kurang agresif dalam promosi, kini mulai menunjukkan taringnya. Jika Brunei berhasil menarik wisatawan Indonesia melalui Sabah, maka Indonesia perlu waspada, terutama dalam mempertahankan wisatawan domestik yang kerap memilih Malaysia sebagai tujuan liburan.
Menurut pengamat pariwisata regional, langkah Brunei ini adalah bentuk adaptasi terhadap perubahan perilaku wisatawan yang semakin mencari pengalaman autentik. "Brunei tidak hanya menjual destinasi, tetapi juga gaya hidup melalui kopi dan matcha," ujar seorang analis yang enggan disebut namanya. "Ini strategi cerdas untuk membedakan diri dari negara tetangga."
Ke depan, keberhasilan Brunei di Sabah akan menjadi indikator apakah mereka mampu memperluas pasar ke Indonesia secara langsung. Apakah Brunei akan berani membuka kantor promosi di Indonesia atau justru mengandalkan kerja sama dengan agen perjalanan lokal? Pertanyaan ini menarik untuk diikuti, mengingat target Visit Brunei Year 2027 yang ambisius.



