Tekanan Pertama Menghampiri Phil Parkinson di Wrexham: Krisis Taktik atau Sekadar Awal yang Buruk?
Baca dalam 60 detik
- Kekalahan kandang dari Birmingham membuat Wrexham tanpa kemenangan dalam empat laga awal musim ini.
- Mantan striker Wales, Iwan Roberts, menilai kegagalan defensif menjadi akar masalah yang berulang sejak musim lalu.
- Dengan skuat 33 pemain dan belanja besar, manajer asal Inggris itu mulai kehilangan ruang gerak untuk berbenah.

Laga kandang yang berakhir dengan skor 2-1 pada Jumat malam lalu menjadi pukulan telak bagi Wrexham. Kekalahan dari Birmingham City tidak hanya memperpanjang catatan buruk tanpa kemenangan dalam empat pertandingan awal musim ini, tetapi juga memicu pertanyaan besar tentang masa depan Phil Parkinson di kursi manajer. Mantan penyerang timnas Wales, Iwan Roberts, dengan tegas menyatakan bahwa untuk pertama kalinya sejak kedatangannya pada 2021, Parkinson kini benar-benar berada dalam tekanan.
Perjalanan Parkinson bersama Wrexham memang luar biasa. Ia berhasil membawa klub dari kasta kelima Liga Inggris ke Championship, sebuah pencapaian yang jarang terjadi di era modern sepak bola Inggris. Namun, keberhasilan itu kini mulai diuji. Dalam empat laga di semua kompetisi musim 2026-27, Wrexham belum sekalipun meraih kemenangan dan selalu kebobolan. Catatan ini menjadi sinyal bahaya yang tidak bisa diabaikan, terutama setelah klub menggelontorkan dana besar untuk memperkuat skuat.
Roberts, yang kini menjadi pengamat sepak bola, menyoroti kegagalan Wrexham dalam menjaga pertahanan. Menurutnya, masalah ini bukan hal baru. Musim lalu, Wrexham memiliki rekor pertahanan terburuk keenam di liga, dan di kandang sendiri hanya Sheffield Wednesday yang kebobolan lebih banyak. Parkinson sendiri mengakui dua gol dari Phil Neumann dalam laga tersebut sebagai "dua gol paling lunak" yang pernah timnya terima selama ia memimpin. Pernyataan ini menunjukkan bahwa masalah mendasar belum terselesaikan.
Kritik tajam juga datang dari Roberts terkait fleksibilitas taktik Parkinson. Ia menilai manajer berusia 56 tahun itu terlalu kaku dengan formasi tiga bek, bahkan ketika tim tertinggal dan membutuhkan gol. "Ketika Anda mengejar ketertinggalan dengan sisa 15 atau 20 menit, ia tetap bertahan dengan tiga bek, bukannya mencoba formasi empat bek untuk menambah daya serang," ujar Roberts. Meskipun ia mengakui bahwa kegigihan Parkinson adalah kunci sukses sebelumnya, situasi sekarang menuntut perubahan.
Masalah lain yang mengemuka adalah ukuran skuat yang terlalu besar. Wrexham menjadi klub dengan belanja tertinggi pada musim panas lalu, dan hanya empat klub yang mengeluarkan dana lebih besar pada bursa transfer musim ini. Namun, Parkinson masih ingin menambah pemain baru. Dengan 33 pemain dalam skuat, Roberts menilai hal ini justru bisa menjadi bumerang. "Skuat 33 pemain itu terlalu banyak, dan itu sendiri bisa menimbulkan masalah," katanya. Ketidakseimbangan komposisi pemain bisa memicu ketidakpuasan di ruang ganti dan mengganggu kohesivitas tim.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, situasi Wrexham menarik untuk dicermati. Klub yang populer berkat kepemilikan aktor Hollywood Ryan Reynolds dan Rob McElhenney ini sering dijadikan contoh kebangkitan klub kecil. Namun, tekanan yang kini dihadapi Parkinson menunjukkan bahwa ambisi besar harus diimbangi dengan manajemen yang matang. Di Indonesia, banyak klub juga bergelut dengan masalah serupa: belanja besar di awal musim, tetapi inkonsisten di lapangan. Pelajaran dari Wrexham adalah bahwa kesuksesan jangka pendek tidak menjamin stabilitas, dan kritik terhadap taktik serta komposisi skuat harus direspons dengan cepat.
Pertanyaan besarnya kini: akankah Parkinson mampu membalikkan keadaan, atau justru menjadi korban dari standar tinggi yang ia ciptakan sendiri? Dengan jadwal padat dan persaingan ketat di Championship, setiap laga berikutnya akan menjadi ujian sesungguhnya. Jika kegagalan terus berlanjut, manajemen Wrexham mungkin harus mengambil keputusan sulit. Namun, jika Parkinson bisa beradaptasi dan memanfaatkan kedalaman skuatnya, bukan tidak mungkin ia kembali membawa Wrexham bersaing di papan atas. Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal pasti: tekanan kini benar-benar menghampiri.



