Freiburg Siap Melangkah Lebih Jauh: Bisakah Schuster Pertahankan Momentum Setelah Final Eropa?
Baca dalam 60 detik
- Freiburg mengakhiri musim 2025/26 di posisi ketujuh Bundesliga dan menembus final Liga Europa, sebuah pencapaian bersejarah bagi klub.
- Kehilangan Johan Manzambi dan Noah Atubolu menjadi ujian besar, tetapi kedatangan Mio Backhaus dan rekrutan lain diharapkan mengisi kekosongan.
- Dengan Matthias Ginter sebagai pemimpin pertahanan dan performa pramusim yang impresif, Freiburg optimistis memperbaiki posisi klasemen musim ini.

Freiburg memasuki musim 2026/27 dengan modal kepercayaan diri tinggi setelah menembus final Liga Europa musim lalu, sebuah pencapaian yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah klub. Namun, tantangan Julian Schuster di musim ketiganya tidaklah ringan: ia harus membuktikan bahwa kesuksesan tersebut bukan sekadar kebetulan, melainkan fondasi untuk konsistensi jangka panjang.
Di bawah asuhan Schuster, Freiburg tidak hanya mempertahankan status sebagai penghuni papan atas Bundesliga, tetapi juga mulai diperhitungkan di kancah Eropa. Pencapaian tersebut sejalan dengan warisan Christian Streich yang telah membangun klub dari tim medioker menjadi kekuatan yang disegani. Meski kehilangan dua pemain kunci, Freiburg menunjukkan kesiapan dengan memenangkan tiga dari empat laga uji coba, termasuk kemenangan telak 5-1 atas Fortuna Düsseldorf di Piala DFB dan agregat 7-2 atas Motherwell di play-off Conference League.
Kepergian Johan Manzambi ke Aston Villa menjadi sorotan utama. Gelandang muda yang menjadi bintang Bundesliga musim lalu itu meninggalkan lubang besar di lini tengah. Namun, Freiburg dikenal cerdik dalam bursa transfer. Kedatangan Mio Backhaus dari Werder Bremen, yang tampil impresif dengan 32 penampilan dan lima clean sheet musim lalu, diharapkan mampu menggantikan Noah Atubolu yang hengkang ke Eintracht Frankfurt. Selain itu, kehadiran Rihito Yamamoto, Yannik Engelhardt, dan Keisuke Gotō menambah kedalaman skuad.
Matthias Ginter tetap menjadi pilar utama di lini belakang. Absennya dari skuad Jerman untuk Piala Dunia 2026 justru memicu performa terbaiknya, terbukti dengan dua golnya di leg pertama melawan Motherwell. Ginter bukan hanya sekadar pemecah serangan, tetapi juga arsitek serangan dari belakang berkat visi dan ketenangannya. Dengan Ginter dalam performa terbaik, Freiburg mampu bersaing dengan siapa pun.
Pertanyaan besar lainnya adalah peran Vincenzo Grifo. Di usia 33 tahun, ia hanya tampil sebagai starter dalam satu dari tiga laga kompetitif. Meski begitu, kualitas eksekusi bola mati dan kreativitasnya tetap aset berharga, baik sebagai starter maupun pemain pengganti. Manajemen beban akan menjadi kunci untuk menjaga kontribusinya sepanjang musim.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, perjalanan Freiburg menawarkan pelajaran tentang manajemen klub yang berkelanjutan. Di tengah dominasi klub-klub kaya, Freiburg membuktikan bahwa perencanaan matang dan pengembangan pemain muda bisa bersaing di level tertinggi. Model ini relevan dengan upaya pengembangan sepak bola Indonesia yang tengah mencari formula untuk meningkatkan daya saing di kancah Asia.
Dengan jadwal awal yang cukup berat—menghadapi Werder Bremen, Paderborn, dan Borussia Mönchengladbach—Freiburg harus segera menemukan ritme. Jika Schuster mampu mengatasi kehilangan pemain kunci dan menjaga performa tim, bukan tidak mungkin target finis di empat besar untuk tiket Liga Champions menjadi kenyataan. Pertanyaannya, apakah skuad ini memiliki kedalaman yang cukup untuk bersaing di tiga kompetisi sekaligus?



