Tiga Pilar Minta Hengkang: Tottenham di Ambang Krisis, Richarlison Cs Siap Pergi
Baca dalam 60 detik
- Richarlison, Danso, dan Sarr secara terbuka meminta hengkang dari Tottenham, memperparah situasi tim yang belum mencetak gol di dua laga awal.
- Manajer Roberto de Zerbi memberi syarat tegas: pemain yang ingin pergi harus membawa solusi finansial, bukan sekadar keinginan pribadi.
- Dengan belanja besar musim panas yang belum membuahkan hasil, Spurs terancam musim yang suram jika tidak segera menemukan solusi di bursa transfer.

Tottenham Hotspur kembali diterpa badai internal. Tiga pemain kunci—Richarlison, Kevin Danso, dan Pape Matar Sarr—secara terang-terangan meminta hengkang dari klub, sebuah sinyal bahwa ruang ganti sedang tidak harmonis di tengah start buruk Spurs di Premier League. Permintaan ini disampaikan langsung oleh manajer Roberto de Zerbi setelah timnya takluk 0-2 dari Newcastle United di kandang sendiri, Sabtu (24/8).
Kekalahan tersebut menjadi yang kedua beruntun bagi Tottenham, yang kini menghuni dasar klasemen tanpa satu gol pun. Situasi ini kontras dengan belanja besar-besaran yang dilakukan klub pada bursa transfer musim panas, yang dilaporkan menembus angka 300 juta poundsterling. Namun, investasi sebesar itu belum mampu mengangkat performa tim, dan kini tiga pemain justru ingin pergi.
De Zerbi, yang baru menangani Spurs, mengungkapkan bahwa ketiganya sudah menyampaikan keinginan untuk pindah. "Richarlison, saya tidak tahu. Dia sudah terlalu sering bilang ingin pergi," ujarnya. "Danso datang kepada saya dua hari lalu dan bilang ingin pergi, begitu juga Pape Sarr, tapi dia mengalami cedera ringan dan hampir siap berlatih." Pelatih asal Italia itu menegaskan bahwa siapa pun yang ingin pergi harus membawa solusi ekonomi bagi klub.
Kehilangan Richarlison jelas menjadi pukulan telak. Musim lalu, penyerang asal Brasil itu menjadi top skor dengan 11 gol dan berperan vital dalam perjuangan Tottenham menghindari degradasi. Kepergiannya akan meninggalkan lubang besar di lini depan, terutama setelah Omar Marmoush dari Manchester City datang dengan status pinjaman dan langsung menggantikan posisinya saat melawan Newcastle. De Zerbi sendiri sebelumnya mengakui bahwa "tidak mudah mencari striker seperti Richarlison".
Di lini belakang, Kevin Danso menghadapi persaingan ketat setelah kedatangan Marcos Senesi dan Jan Paul van Hecke. Sunderland sempat mengajukan tawaran pinjaman untuk bek Austria itu, namun Tottenham menolaknya. Sementara itu, Sarr kehilangan tempat setelah Mateus Fernandes dan Sandro Tonali direkrut pada awal jendela transfer. Kedatangan Tonali, yang memecahkan rekor transfer klub dua kali dalam sepekan, menunjukkan ambisi Spurs untuk memperkuat lini tengah, tetapi justru membuat Sarr terpinggirkan.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, situasi ini menarik untuk dicermati. Tottenham adalah klub yang banyak diikuti penggemar di Tanah Air, dan krisis internal ini bisa berdampak pada performa tim di kompetisi Eropa. Selain itu, kebijakan transfer yang agresif namun belum membuahkan hasil menjadi pelajaran berharga bagi klub-klub Asia, termasuk Indonesia, yang kerap tergoda belanja besar tanpa perencanaan matang. Jika Spurs gagal bangkit, musim ini bisa menjadi mimpi buruk, dan pertanyaan besarnya adalah: apakah De Zerbi mampu meredam gejolak ini atau justru menjadi korban berikutnya?
Dengan bursa transfer yang masih terbuka, langkah Tottenham selanjutnya akan menentukan. Apakah mereka akan melepas ketiga pemain tersebut dan mencari pengganti, atau mencoba mempertahankan mereka demi stabilitas tim? Keputusan ini tidak hanya akan memengaruhi nasib Spurs musim ini, tetapi juga kredibilitas De Zerbi sebagai manajer baru.



