Werder Bremen Musim 2026/27: Perombakan Skuad dan Target 40 Poin di Tengah Tekanan Bundesliga
Baca dalam 60 detik
- Werder Bremen mengakhiri musim lalu di peringkat 15, hanya tiga poin di atas zona degradasi, dan kini melakukan perombakan besar dengan mendatangkan pemain muda serta Niclas Füllkrug.
- Pelatih Daniel Thioune menargetkan 40 poin sebagai prioritas awal, menilai laga pembuka melawan Freiburg dan RB Leipzig tidak akan menentukan nasib tim.
- Kehadiran Jens Stage sebagai motor lini tengah dan Füllkrug sebagai ujung tombak diharapkan mampu membawa Bremen bersaing di papan tengah Bundesliga musim ini.

Werder Bremen memulai musim Bundesliga 2026/27 dengan beban berat setelah nyaris terdegradasi musim lalu. Finis di peringkat ke-15 dengan selisih tiga poin dari Wolfsburg yang harus turun kasta, tim berjuluk Green-Whites itu kini bertumpu pada racikan baru pelatih Daniel Thioune serta kehadiran striker veteran Niclas Füllkrug untuk menjauh dari zona merah.
Musim panas ini menjadi periode transisi yang sibuk di Weserstadion. Beberapa pilar utama seperti kiper Mio Backhaus, gelandang serang Romano Schmid, bek Karim Coulibaly, dan Leonardo Bittencourt memutuskan hengkang. Tak hanya itu, para pemain pinjaman musim lalu—Yukinari Sugawara, Jovan Milosević, Victor Boniface, dan Maximilian Wöber—juga kembali ke klub induk atau pindah ke tempat lain. Kehilangan besar ini coba ditambal dengan merekrut sederet talenta muda, di antaranya Chuki, playmaker 22 tahun asal Valladolid yang disebut-sebut sebagai rekrutan paling menjanjikan. Nama-nama seperti Dariusz Stalmach (20), Kenny Quetent (20), dan Darwin Soylu (19) juga diproyeksikan mendapat peran signifikan.
Keputusan mengandalkan pemain muda memang berisiko, tetapi bisa menjadi suntikan energi baru. Jika para pendatang anyar ini mampu beradaptasi cepat, bukan tidak mungkin Bremen kembali menembus papan atas, seperti yang pernah mereka raih dalam tiga dari empat musim terakhir. Namun, jalan menuju papan tengah tidak akan mudah mengingat persaingan Bundesliga yang semakin ketat, terutama dengan munculnya tim-tim seperti RB Leipzig yang kini ditangani Martín Demichelis.
Salah satu kejutan terbesar di bursa transfer adalah kembalinya Niclas Füllkrug ke Bremen untuk periode ketiga. Striker berusia 33 tahun itu bergabung dengan status pinjaman dari West Ham United. Rekam jejaknya bersama Bremen sangat impresif: 49 gol dalam 124 penampilan pada dua periode sebelumnya, termasuk mengantarkan klub promosi ke Bundesliga pada 2022 dan menjadi top skor bersama setahun kemudian. Pengalaman dan naluri golnya diharapkan menjadi penyeimbang bagi lini serang yang masih muda.
Di lini tengah, Jens Stage menjadi sosok sentral. Gelandang asal Denmark itu mencetak 10 gol dalam 29 penampilan musim lalu, catatan luar biasa untuk seorang gelandang. Namun, kontribusinya tidak hanya diukur dari gol. Data menunjukkan hanya Romano Schmid dan Senne Lynen yang memiliki jarak tempuh dan intensitas lari lebih tinggi darinya. Stage adalah jembatan antara pertahanan dan serangan, dan jika ia mampu kembali mencetak dua digit gol, Bremen punya modal besar untuk memperbaiki posisi.
Menghadapi laga pembuka melawan Freiburg dan RB Leipzig, Thioune menegaskan bahwa hasil dua pertandingan tersebut tidak akan menentukan musim. “Target pertama kami adalah mencapai 40 poin secepat mungkin. Setelah itu, kami bisa melihat apa yang mungkin terjadi,” ujarnya. Sikap hati-hati ini mencerminkan realitas bahwa Bremen masih dalam proses membangun kembali kekuatan setelah musim yang menegangkan.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, perjalanan Werder Bremen musim ini menarik untuk diikuti, terutama karena Bundesliga selalu menjadi salah satu liga Eropa yang paling banyak ditonton di Tanah Air. Kehadiran pemain-pemain muda berbakat dan kembalinya Füllkrug bisa menjadi tontonan menarik, sekaligus pelajaran tentang bagaimana klub sebesar Bremen bangkit dari keterpurukan dengan strategi peremajaan skuad.
Pertanyaan besarnya: akankah racikan Thioune mampu membawa Bremen keluar dari zona degradasi dan kembali bersaing di papan tengah? Atau justru musim ini akan menjadi ujian terberat bagi pelatih asal Jerman tersebut? Jawabannya hanya akan terjawab seiring berjalannya kompetisi yang panjang dan penuh kejutan.



