Pemikiran Mbah Wahab Dinilai Masih Relevan: Sekjen Golkar Soroti Pendekatan Damai dalam Bedah Buku di Jombang
Baca dalam 60 detik
- Sekjen Golkar Muhammad Sarmuji menilai nilai-nilai NU seperti moderasi dan musyawarah dalam kitab Penyirep Gemuruh masih relevan untuk meredam konflik sosial masa kini.
- Naskah kuno karya KH Abdul Wahab Chasbullah itu ditemukan di lemari terkunci Pesantren Lateng Banyuwangi setelah proses panjang membangun kepercayaan dengan keluarga ahli waris.
- Bedah buku yang digelar menjelang Muktamar ke-35 NU ini menegaskan pentingnya dialog dan hukum fikih sebagai rujukan penyelesaian sengketa, bukan konfrontasi.

JOMBANG, LyndHub โ Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Muhammad Sarmuji, menilai pemikiran Pahlawan Nasional KH Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab yang tertuang dalam kitab Penyirep Gemuruh masih relevan untuk menjawab kegaduhan sosial yang terjadi di tengah masyarakat saat ini. Pandangan itu disampaikan dalam acara bedah buku di Masjid Gedang Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Sabtu malam (29/8).
Menurut Sarmuji, salah satu keteladanan Mbah Wahab yang paling menonjol adalah kemampuannya menyelesaikan konflik perluasan Masjid Peneleh Surabaya dengan pendekatan yang mencerminkan nilai-nilai dasar NU, yakni tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i'tidal (adil). Cara tersebut, lanjutnya, tidak hanya mengedepankan dialog, tetapi juga memadukan perspektif hukum fikih dan mendengarkan masukan dari berbagai pihak yang memiliki keahlian berbeda.
โKarakter NU yang selama ini kita pahami sebagai tawassuth, tawazun, tasamuh, i'tidal. Yaitu moderat, toleran, lalu tawazun itu seimbang, dan i'tidal yaitu adil,โ ujar Sarmuji dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu. Baginya, pendekatan Mbah Wahab menjadi bukti bahwa konflik tidak harus diselesaikan dengan memperbesar perbedaan, melainkan melalui musyawarah dan pencarian titik temu.
Kegiatan yang digelar Pusat Studi Pesantren (PSP) Jawa Timur ini merupakan rangkaian menyemarakkan Muktamar ke-35 NU. Selain Sarmuji, hadir pula Ayung Notonegoro dari Komunitas Pegon Banyuwangi yang menemukan naskah kuno tersebut, serta Fathul H Panatapraja, penerjemah sekaligus penulis kitab Penyirep Gemuruh.
Ayung menuturkan perjalanan panjang penemuan kitab itu. Naskah ditemukan sekitar tahun 2016 atau 2018 saat ia melakukan riset sejarah NU di Banyuwangi atas penugasan PCNU setempat. Ketika mengunjungi Pesantren Lateng, ia mendapati dua lemari milik Kiai Saleh yang telah tergembok belasan tahun. Masyarakat sekitar percaya siapa pun yang membuka lemari itu akan mendapat celaka, sehingga tak banyak yang berani mendekat. Ayung kemudian membangun kepercayaan dengan keluarga ahli waris selama berbulan-bulan sebelum akhirnya diizinkan membuka lemari tersebut.
โNah, dari sana kemudian terjadilah trust, tumbuh kepercayaan itu. Akhirnya kami diberikan kepercayaan untuk membuka lemari yang sudah belasan tahun tergembok itu. Tidak apa-apa, kalau saya sakit demi ilmu pengetahuan,โ kata Ayung. Setelah lemari terbuka, ia menemukan sejumlah kitab tua bernilai sejarah tinggi, termasuk Penyirep Gemuruh yang kemudian dipublikasikan oleh Komunitas Pegon sehingga dikenal luas. Ayung menambahkan, naskah serupa sebenarnya pernah tersimpan di kantor PCNU Surabaya di Jalan Bubutan, tetapi belum banyak mendapat perhatian.
Sementara itu, Fathul H Panatapraja menjelaskan bahwa kitab tersebut mengulas kiprah Mbah Wahab dalam meredam konflik perluasan Masjid Peneleh, yang memiliki keterkaitan historis dengan Sunan Ampel. Menurut Fathul, penyelesaian yang dilakukan Mbah Wahab tidak semata-mata lewat dialog, melainkan juga melalui pencarian solusi dari sudut pandang hukum fikih. โProses penyelesaian konflik yang diselesaikan Mbah Wahab tidak hanya lewat pendekatan dialog, tapi pencarian solusi dari sudut pandang hukum fikih,โ ujarnya.
Fathul menilai pendekatan tersebut menunjukkan bahwa konflik dapat diselesaikan dengan menggabungkan pemahaman agama, dialog, dan kemampuan membaca kondisi sosial masyarakat. Cara Mbah Wahab, menurutnya, masih relevan untuk dipelajari dalam konteks penyelesaian berbagai persoalan sosial yang terjadi saat ini.
Bagi Indonesia yang tengah menghadapi polarisasi dan perbedaan pandangan yang kerap memicu ketegangan, pemikiran Mbah Wahab menawarkan alternatif penyelesaian yang menekankan keseimbangan dan keadilan. Nilai-nilai yang diusungnya sejalan dengan semangat moderasi beragama yang terus digaungkan pemerintah. Namun, relevansi tersebut menuntut tidak sekadar dikenang, melainkan diimplementasikan dalam praktik kebangsaan sehari-hari.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah nilai-nilai tawassuth dan musyawarah yang diwariskan Mbah Wahab mampu menjadi rujukan nyata bagi para pemimpin dan masyarakat dalam meredam konflik sosial yang semakin kompleks, atau justru hanya menjadi narasi seremonial belaka. Muktamar ke-35 NU yang akan datang menjadi ujian sekaligus momentum untuk menghidupkan kembali warisan pemikiran tersebut.


