Singapura Luncurkan Direktori Digital M³+ untuk Permudah Akses Layanan Komunitas Melayu-Muslim
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Singapura meresmikan M³+ Directory, platform digital yang mengintegrasikan berbagai program bantuan sosial dan pelatihan kerja bagi komunitas Melayu-Muslim.
- Inisiatif ini merupakan perluasan dari kerangka M³ yang telah berjalan sejak 2018, dengan melibatkan lebih banyak mitra untuk menutup kesenjangan layanan.
- Langkah ini dinilai sebagai fondasi awal untuk memperkuat keterlibatan komunitas dalam perumusan kebijakan publik di masa depan.

Singapura kini memiliki peta jalan digital baru bagi komunitas Melayu-Muslim untuk menemukan berbagai program bantuan tanpa harus berpindah-pindah dari satu lembaga ke lembaga lain. Melalui peluncuran M³+ Directory pada 30 Agustus di Heartbeat@Bedok, pemerintah setempat berupaya merangkum layanan finansial, pelatihan kerja, hingga dukungan sosial dalam satu kanal terpadu. Langkah ini diumumkan langsung oleh Menteri Urusan Muslim Singapura, Zaqy Mohamad, yang menegaskan bahwa akses terhadap bantuan seharusnya tidak menjadi labirin birokrasi bagi warga.
Direktori ini lahir dari pengembangan kerangka M³ yang telah berdiri sejak 2018. Awalnya, kolaborasi ini hanya melibatkan tiga institusi utama: Mendaki, Majelis Ulama Islam Singapura (MUIS), dan Dewan Komite Eksekutif Aktivitas Melayu di bawah People's Association. Kini, jaringannya diperluas dengan mengajak lebih banyak organisasi komunitas dan mitra swasta. Zaqy mencontohkan tiga skenario yang menjadi sasaran utama: orang tua yang mencari bantuan pendidikan anak, pemuda yang membutuhkan pendampingan karier, serta pekerja yang ingin beralih profesi. Menurutnya, ketiganya kerap kebingungan menentukan lembaga yang tepat karena informasi tersebar di banyak kanal.
Yang menarik, direktori ini tidak hanya berfungsi sebagai pusat informasi bagi masyarakat. Lebih dari itu, platform ini dirancang untuk menjadi alat analisis bagi organisasi di dalam jaringan M³+. Dengan melihat data permintaan dan celah layanan yang ada, setiap lembaga dapat saling melengkapi dan menghindari tumpang tindih program. "Institusi kita harus membuat perjalanan itu lebih mudah," ujar Zaqy, seraya menambahkan bahwa kolaborasi antarorganisasi menjadi kunci untuk menutup kesenjangan yang selama ini mungkin tidak terlihat.
Peluncuran direktori ini juga menjadi momentum bagi Zaqy untuk memaparkan visi jangka panjang komunitas Melayu-Muslim. Ia memperkenalkan perluasan program CiptaSama@M³+, sebuah inisiatif yang sejak 2019 mendorong partisipasi komunitas dalam perumusan kebijakan. Jika sebelumnya kegiatan ini bersifat insidental, ke depan partisipasi tersebut akan menjadi proses yang lebih aktif dan berkelanjutan. "Karena jika masa depan milik kita semua, maka semua harus punya andil dalam membentuknya," tegasnya.
Dalam pidatonya yang disampaikan dalam bahasa Melayu, Zaqy menggarisbawahi empat pilar yang menjadi fondasi komunitas: iman, ilmu, kemanusiaan, dan identitas. Menurutnya, keempat nilai ini bukan sekadar konsep abstrak, melainkan sudah tertanam dalam sejarah dan perkembangan komunitas. Ia mencontohkan, pendirian Singapore College of Islamic Studies yang akan datang menjadi tonggak penting untuk melahirkan generasi pemimpin agama yang mumpuni. Sementara itu, penguasaan teknologi menjadi tantangan berikutnya yang harus dihadapi dengan percaya diri, tanpa melupakan akar budaya.
Bagi Indonesia, langkah Singapura ini menawarkan pelajaran berharga. Di tengah upaya pemerintah Indonesia memperkuat perlindungan sosial, integrasi data lintas lembaga masih menjadi pekerjaan rumah. Padahal, kemudahan akses informasi sering kali menjadi penentu efektivitas bantuan. Jika Singapura mampu menghubungkan berbagai organisasi dalam satu ekosistem digital, Indonesia pun sebenarnya memiliki potensi serupa melalui integrasi data kependudukan dan program bantuan yang sudah ada. Namun, tantangan utamanya terletak pada koordinasi antar kementerian dan lembaga, bukan pada teknologinya.
Anggota Parlemen East Coast GRC, Hazlina Abdul Halim, yang juga penasihat M³+@Bedok, menyambut baik peluncuran ini. Menurutnya, direktori tersebut menjadi tonggak penting dalam kolaborasi antarorganisasi. "Kami bisa berbagi informasi, menemukan peluang kerja sama, dan ketika ada celah, itulah justru tujuan awal memulai sesuatu bersama," katanya. Pernyataan ini menegaskan bahwa keberhasilan platform semacam ini tidak hanya diukur dari jumlah pengguna, tetapi juga dari seberapa kuat jejaring yang terbentuk di baliknya.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah sejauh mana direktori ini mampu beradaptasi dengan kebutuhan komunitas yang terus berubah. Apakah data yang terkumpul akan benar-benar dimanfaatkan untuk merancang kebijakan yang lebih responsif? Atau justru menjadi sekadar arsip digital yang jarang diakses? Singapura tampaknya sadar bahwa inovasi layanan publik tidak berhenti pada peluncuran. Dengan komitmen untuk mengumumkan inisiatif baru dalam beberapa bulan mendatang, pemerintah menunjukkan bahwa langkah ini hanyalah awal dari transformasi yang lebih besar. Bagi komunitas Melayu-Muslim di sana, masa depan yang "berakar, cakap, penuh kasih, dan percaya diri" bukan lagi sekadar slogan, melainkan target yang mulai diwujudkan.



