Banjir Bandang di Perbatasan Nepal-China: 20 Detik untuk Selamat, Ratusan Pekerja Hilang
Baca dalam 60 detik
- Banjir dahsyat akibat longsoran gletser di perbatasan Nepal-China menewaskan banyak pekerja proyek bendungan dan menewaskan puluhan peziarah India.
- Para penyintas hanya punya waktu 20 detik untuk bereaksi sebelum lumpur dan air setinggi 6 meter menerjang, memaksa mereka berlari menyelamatkan diri.
- Peristiwa ini menyoroti kerentanan infrastruktur di kawasan Himalaya terhadap dampak perubahan iklim, yang juga relevan bagi Indonesia yang rawan bencana hidrometeorologi.

Bencana dahsyat kembali melanda kawasan Himalaya. Banjir bandang yang dipicu oleh runtuhnya gletser di perbatasan Nepal-China menewaskan puluhan orang dan memicu operasi penyelamatan besar-besaran. Para penyintas menceritakan pengalaman mencekam, di mana mereka hanya memiliki waktu 20 detik untuk bereaksi sebelum gelombang lumpur dan air setinggi enam meter menerjang permukiman dan proyek infrastruktur.
Peristiwa yang terjadi di Lembah Trishuli ini menyisakan duka mendalam. Seorang insinyur yang berada di kawasan Shanti Bazar, Gorakh Khatka, menuturkan bahwa ia dan rekan-rekannya harus berlari sekencang mungkin saat air bah datang. โKami hanya punya waktu 20 detik sebelum lumpur dan air setinggi 6 meter membanjiri area tersebut,โ ujarnya setelah dievakuasi. Ia menghabiskan lebih dari 48 jam di atas bukit sebelum tim penyelamat tiba.
Di lokasi proyek bendungan di sepanjang Lembah Trishuli, ratusan pekerja menjadi korban. Dev Shrestha, seorang pekerja yang berhasil dievakuasi melalui helikopter, mengungkapkan bahwa sedikitnya 400 pekerja berada di lokasi saat bencana terjadi. โLebih banyak yang meninggal daripada yang selamat,โ katanya dengan nada pilu. Rekannya, Buddha Tamang, selamat karena berada di dalam terowongan saat banjir melanda. Namun, para petugas senior yang berada di luar terowongan tersapu arus.
Kisah heroik juga datang dari rombongan peziarah asal Tamil Nadu, India. Sebanyak 56 orang dalam bus yang menuju perbatasan China terjebak kemacetan yang ternyata adalah awal dari bencana. Sivaranjani Muthunathan, salah satu penumpang, merekam video saat gelombang air dan lumpur mendekat. โSatu per satu, kami keluar melalui pintu sopir,โ kenangnya. Mereka kemudian memanjat bukit untuk menyelamatkan diri. Poonguzhali Ponmambadan, 61 tahun, bahkan melepas sarinya untuk dijadikan tali pengaman bagi para lansia yang kesulitan memanjat.
Bencana ini menjadi pengingat akan dampak perubahan iklim yang semakin nyata di kawasan pegunungan tinggi. Longsoran gletser yang memicu banjir bandang ini merupakan fenomena yang semakin sering terjadi seiring meningkatnya suhu global. Para ahli memperingatkan bahwa infrastruktur yang dibangun di lembah-lembah rawan menjadi sangat rentan. Bagi Indonesia, peristiwa ini relevan mengingat negeri ini juga memiliki banyak daerah rawan bencana hidrometeorologi, seperti banjir bandang dan tanah longsor. Sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci untuk meminimalkan korban jiwa.
โKami berlari menyelamatkan diri dan menghabiskan lebih dari 48 jam di atas bukit sebelum bantuan akhirnya tiba,โ ujar Gorakh Khatka, insinyur yang selamat.
Operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung hingga saat ini. Tim penyelamat menggunakan helikopter untuk menjangkau area terpencil yang terputus akses daratnya. Namun, kondisi medan yang sulit dan cuaca yang tidak menentu menjadi tantangan besar. Pertanyaan besarnya, apakah pemerintah Nepal dan China akan memperketat regulasi pembangunan di kawasan rawan bencana? Atau justru insiden ini akan menjadi pelajaran berharga bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk lebih serius dalam mitigasi bencana?



