Generasi Muda China Berbondong Masuk Jurusan Pemakaman: Peluang atau Jebakan?
Baca dalam 60 detik
- Minat terhadap studi pemakaman di China melonjak seiring kebutuhan tenaga kerja yang besar, namun gaji dan stabilitas kerap tak sesuai ekspektasi.
- Regulasi baru Maret 2025 membatasi bisnis funeral komersial, mendorong inovasi layanan duka yang lebih personal dan berteknologi.
- Fenomena ini mencerminkan pergeseran sosial di tengah penuaan penduduk, dengan implikasi bagi negara berkembang seperti Indonesia.

Di tengah derasnya arus urbanisasi dan perubahan sosial, China menyaksikan fenomena unik: generasi mudanya berbondong-bondong mendaftar di jurusan ilmu pemakaman. Angka kematian yang terus meningkat akibat populasi menua menjadi daya tarik utama, namun di balik itu, realitas lapangan kerja dan gaji yang diterima seringkali jauh dari bayangan.
Wei Binjie, 18 tahun, menjadi viral setelah memilih jurusan layanan pemakaman di perguruan tinggi, meski angka 444 dalam ujian nasionalnya dianggap sial karena berkonotasi dengan kematian. Bagi Wei, pilihan ini murni didasari pertimbangan prospek kerja. Ia menolak bujukan keluarga untuk pindah jurusan, menegaskan bahwa ia akan tetap bertahan. Kisah Wei hanyalah puncak gunung es; ribuan pelajar lain di China kini melirik bidang yang dulu dianggap tabu ini.
Data Kementerian Urusan Sipil China mencatat 4.794 institusi layanan pemakaman dengan sekitar 96.000 karyawan pada akhir 2024. Namun, hanya 16 institusi pendidikan yang menawarkan jurusan terkait, menghasilkan sekitar 1.000 lulusan per tahun—jauh dari kebutuhan tahunan yang mencapai 10.000 tenaga kerja. Ketimpangan ini membuat jurusan pemakaman menjadi rebutan. Sekolah Vokasi Changsha Social Work College bahkan mencatat skor minimum 570 untuk jurusan ini, melampaui ambang batas banyak universitas negeri bergengsi.
Fenomena ini tidak lepas dari perubahan demografis. China mencatat 11,31 juta kematian pada 2025, tertinggi sejak 1960, dan diperkirakan terus meningkat hingga puncaknya pada 2061 dengan proyeksi 19 juta kematian per tahun. Di sisi lain, regulasi baru yang berlaku sejak Maret 2025 membatasi pendirian perusahaan funeral baru dan mengontrol harga layanan dasar, memaksa pelaku industri beradaptasi. Perusahaan seperti Greatroam dan Baiduren merespons dengan menawarkan layanan pemakaman personal yang melibatkan teknologi AI dan pendekatan empati, berbeda dari praktik konvensional yang cenderung seragam.
Namun, di balik gemerlapnya inovasi, banyak lulusan yang kecewa. Chang Huanhuan, 22 tahun, mengaku memilih jurusan ini karena pertimbangan langka dan peluang kerja, bukan karena passion. Ia sempat menghadapi situasi emosional saat mempersiapkan jenazah wanita seusianya, dan mendapat makian dari pelayat lain. Sementara itu, Ran Yixuan, 28 tahun, menyadari bahwa profesi ini tidak sefantastis yang dibayangkan. "Mangkuk besi"—istilah untuk pekerjaan stabil—hanya dinikmati segelintir orang yang lolos ujian pegawai negeri; sisanya bekerja di perusahaan swasta kecil dengan gaji pas-pasan.
Fenomena ini juga menyentuh sisi sosial. Meski generasi muda mulai terbuka terhadap kematian, stigma di lingkungan keluarga masih kuat. Li Yu, perencana perpisahan di Greatroam, merahasiakan profesinya dari orang tua yang mengira ia masih bekerja sebagai desainer. Bahkan, ada pengemudi ojek online yang meminta uang 'penglaris' saat mengantar ke rumah duka. Namun, perlahan, 'Death Cafe' dan acara 'Death Open Mic' mulai mengubah cara pandang masyarakat, terutama di kalangan anak muda yang penasaran dan berani mengeksplorasi kematian.
Bagi Indonesia, fenomena China ini menjadi cermin penting. Dengan populasi yang juga menua—meski tidak secepat China—kebutuhan akan layanan pemakaman profesional diprediksi meningkat. Namun, regulasi yang ketat dan stigma sosial masih menjadi tantangan. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap menghadapi 'bonus demografi kematian' ini dengan inovasi dan empati, atau justru terjebak dalam praktik lama yang kaku? Jawabannya menentukan masa depan layanan duka di tanah air.



