Bencana Glacial di Nepal: Peringatan Iklim yang Mengguncang Asia
Baca dalam 60 detik
- Longsoran gletser di perbatasan Nepal-China menewaskan 682 orang dan memicu kekhawatiran akan masa depan pegunungan Himalaya.
- Menteri Luar Negeri Nepal dan pejabat iklim PBB mendesak aksi global, menyoroti ketimpangan emisi dan dampak yang dialami negara berkembang.
- Peristiwa ini menegaskan urgensi adaptasi iklim dan kerja sama data hidrologi, yang relevan bagi Indonesia sebagai negara kepulauan rawan bencana.

Bencana dahsyat kembali melanda kawasan Himalaya. Longsoran gletser yang memicu banjir bandang di perbatasan Nepal-China pada Rabu lalu telah menewaskan sedikitnya 682 orang, sementara hampir 3.000 lainnya masih dinyatakan hilang. Peristiwa ini bukan sekadar tragedi nasional, melainkan alarm keras bagi seluruh dunia akan kerapuhan ekosistem gunung tertinggi di bumi.
Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal, dan Kepala Iklim PBB, Simon Stiell, pada Sabtu (29/8) secara terpisah menyampaikan peringatan mendesak. Mereka menegaskan bahwa pemanasan global mempercepat pencairan gletser, meningkatkan frekuensi dan intensitas bencana serupa. Survei Geologi AS (USGS) mengonfirmasi bahwa bencara tersebut dipicu oleh kolapsnya gletser yang melepaskan material dalam jumlah besar ke lembah di bawahnya.
Bagi Nepal, negara yang hanya menyumbang kurang dari 0,01 persen emisi gas rumah kaca global, ironi ini terasa pahit. "Kami adalah korban utama perubahan iklim, meski kontribusi kami sangat kecil," ujar Khanal. Ia mendesak komunitas internasional untuk bersatu menjaga ekosistem Himalaya, yang menjadi sumber air bagi hampir 2 miliar orang di Asia.
Di sisi lain, China, sebagai tetangga utara Nepal, telah berbagi data satelit dan hidrologi untuk membantu upaya pencarian. Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, menekankan bahwa kedua negara "terikat oleh gunung dan sungai, berbagi nasib yang sama". Kerja sama ini dinilai krusial, mengingat aliran sungai yang berhulu di Himalaya melintasi banyak negara, termasuk India dan Bangladesh.
Simon Stiell, Kepala Iklim PBB, menyebut peristiwa ini sebagai "pengingat yang menghancurkan" akan rapuhnya lingkungan pegunungan. Ia menggarisbawahi bahwa pembakaran bahan bakar fosil oleh manusia membuat tragedi serupa semakin mungkin terjadi. "Komunitas yang rentan sering kali menjadi yang paling menderita," tambahnya.
Bagi Indonesia, pelajaran dari Nepal sangat relevan. Meski bukan negara pegunungan tinggi, Indonesia menghadapi ancaman serupa dari naiknya permukaan laut, banjir bandang, dan longsor akibat perubahan iklim. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan tren peningkatan bencana hidrometeorologi dalam dekade terakhir. Kolaborasi data dan sistem peringatan dini, seperti yang dilakukan Nepal-China, menjadi contoh penting bagi negara kepulauan seperti Indonesia.
Para ahli memperkirakan bahwa tanpa pengurangan emisi yang signifikan, gletser Himalaya bisa kehilangan hingga dua pertiga volumenya pada akhir abad ini. Ini akan berdampak pada ketersediaan air bagi jutaan orang, serta memicu konflik sumber daya di kawasan Asia Selatan. Pertanyaannya, apakah negara-negara maju yang berkontribusi besar terhadap emisi akan bergerak cepat, atau membiarkan negara-negara seperti Nepal menanggung beban yang tidak sebanding dengan kontribusi mereka?



