Krisis Air di Bangka Belitung Mengancam: 13 Desa Kering, Puncak Kemarau Diprediksi September
Baca dalam 60 detik
- Kekeringan melanda 13 desa di Bangka Tengah, memaksa warga mengantre air bersih dari Pamsimas yang hanya mengalir sepekan sekali.
- Kondisi geologi granit dan alih fungsi lahan menjadi sawit serta tambang memperparah kerentanan wilayah terhadap krisis air.
- BMKG memprediksi puncak kemarau terjadi September 2026, berpotensi memperluas dampak kekeringan hingga awal 2027.

Di tengah persiapan perayaan Maulid Nabi, warga Desa Zed, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, justru dilanda kecemasan. Bukan karena kurangnya hidangan, melainkan karena air bersih yang semakin sulit didapat. Sumur-sumur mulai mengering, sungai menyusut, dan aliran Pamsimas hanya mampu melayani seratusan kepala keluarga per hari. Kondisi ini memaksa warga seperti Hana Fitri (27) dan Yustika (51) untuk mencuci di kolam buatan yang airnya hanya setinggi betis, sambil berharap hujan segera turun.
Krisis air ini bukan hanya dialami Desa Zed. Desa Puding Besar, Paya Benua, dan Kemuja juga merasakan dampak serupa. Bahkan di Dusun Tuing, kawasan pesisir utara Pulau Bangka, kolam-kolam air tawar mulai terasa asin akibat rembesan air laut. BPBD Kabupaten Bangka Tengah mencatat 13 desa dan satu kelurahan telah mengalami kekeringan setelah hujan tidak turun selama dua bulan terakhir. Sementara itu, Balai Wilayah Sungai (BWS) Bangka Belitung telah mendistribusikan puluhan ribu liter air, namun jumlah itu jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan ribuan warga.
Ancaman yang lebih besar masih menanti. BMKG Bangka Belitung memprediksi puncak musim kemarau akan terjadi pada September 2026 dan berlangsung hingga awal 2027. "Kalau bulan depan masih belum turun hujan, bisa-bisa kering total ini," ujar Sukardi, warga Dusun Tuing, menggambarkan kekhawatiran yang meluas. Agus Afandi, Plt. Kepala BPBD Bangka Belitung, mengakui belum ada laporan resmi dari pemerintah kabupaten, tetapi kondisi saat ini mengindikasikan kekeringan bisa sama parahnya dengan tahun-tahun sebelumnya.
Akar masalahnya tidak hanya pada cuaca ekstrem, tetapi juga kondisi geologis yang unik. Irvani, peneliti geologi dari Universitas Bangka Belitung, menjelaskan bahwa daratan Babel tersusun atas batuan granit yang impermeabel, sehingga air tanah hanya tersimpan di rekahan-rekahan dangkal. "Kalaupun ada air tersimpan, khususnya pada rekahan-rekahan granit dan bagian-bagian lapukan granit atau tanah yang relatif dangkal," katanya. Kondisi ini membuat air tanah cepat terkuras saat kemarau, terutama dengan meningkatnya pemompaan untuk kebutuhan domestik dan industri. Ironisnya, wilayah ini juga rawan banjir saat musim hujan karena daya serap tanah yang minim.
Alih fungsi lahan memperburuk keadaan. Data BPDAS Baturusa-Cerucuk mencatat 208 ribu hektar lahan kritis di Babel pada 2024, dengan 70 persen diakibatkan tambang timah. Luas kebun sawit rakyat pun meningkat dari 67 ribu hektar (2018) menjadi 98 ribu hektar (2024), belum termasuk perkebunan perusahaan seluas 171 ribu hektar. Jessix Amundian, Direktur Tumbek for Earth, menegaskan bahwa pemulihan hutan terdegradasi menjadi satu-satunya jalan untuk memperbaiki sistem hidrologi yang rusak. "Untuk memperbaiki sistem hidrologi yang sudah rusak, kawasan hutan yang terdegradasi harus segera dipulihkan, dan menjadi satu-satunya pilihan," tegasnya.
Bagi Indonesia, krisis air di Bangka Belitung menjadi alarm bagi daerah lain yang bergantung pada ekosistem serupa. Kajian Risiko Bencana 2022-2026 menunjukkan sebagian besar daratan Babel berada dalam kelas bahaya kekeringan sedang hingga tinggi. Dengan prediksi puncak kemarau yang masih akan datang, pertanyaannya bukan lagi apakah krisis ini akan berakhir, melainkan seberapa cepat pemerintah dan pemangku kepentingan dapat bertindak untuk memulihkan tutupan hutan dan mengelola air tanah secara berkelanjutan. Apakah langkah restorasi akan menjadi prioritas sebelum musim kemarau berikutnya tiba?



