Spalletti Bela Juventus Usai Kalahkan Parma: Kualitas di Atas Kritik, tapi Skuad Butuh Tambahan Gelandang
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Juventus, Luciano Spalletti, menilai kemenangan 2-0 atas Parma sebagai performa solid meski sempat diejek suporter karena kebuntuan di babak pertama.
- Dua gol kemenangan lahir dari pemain pengganti, Nico Gonzalez dan Teun Koopmeiners, membuktikan kedalaman skuad Bianconeri di tengah krisis cedera.
- Cedera Khephren Thuram yang berpotensi operasi memaksa manajemen klub bergerak cepat mencari gelandang anyar di bursa transfer.

Luciano Spalletti dengan tegas membela penampilan Juventus saat mengalahkan Parma 2-0 di Allianz Stadium, meski sorak-sorai negatif dan kritik tajam sempat menghiasi laga. Pelatih asal Italia itu menilai timnya justru tampil gemilang, terutama dalam hal penguasaan bola dan tekanan konstan, meski penyelesaian akhir sempat menjadi momok di babak pertama.
Kemenangan ini tidak datang mudah. Sepanjang 45 menit awal, pasukan zebra kesulitan membongkar pertahanan rapat Parma. Dari 20 umpan silang yang dilepaskan, tidak satupun mampu dikonversi menjadi gol. Suporter yang hadir pun melontarkan ejekan, terutama saat Jonathan David ditarik keluar. Namun, keputusan Spalletti untuk menarik pemain pengganti justru menjadi titik balik.
Nico Gonzalez, yang masuk dari bangku cadangan, langsung memberikan dampak signifikan. Ia memaksa kiper lawan melakukan penyelamatan, kemudian mencetak gol dari rebound setelah tembakannya membentur tiang. Tekanan tinggi yang ia lakukan juga berbuah peluang bagi Teun Koopmeiners untuk memastikan kemenangan di menit akhir. Spalletti, yang sehari sebelumnya sempat memuji fleksibilitas Gonzalez, terbukti tepat sasaran.
โSaya menyukai babak pertama, sangat menyukainya. Memang kami tidak bisa menciptakan ruang untuk melepaskan tembakan, dan sedikit kacau dengan 20 umpan silang. Tapi, Parma hanya punya satu peluang bagus lewat sundulan yang digagalkan Guglielmo Vicario. Sementara kami punya 25 umpan silang di babak pertama dan tidak ada yang mengenai kepala pemain kami,โ ujar Spalletti kepada DAZN Italia, seperti dikutip Football-Italia.
Pelatih berusia 66 tahun itu menegaskan bahwa performa timnya solid dalam hal tujuan, motivasi, kualitas, dan tekanan konstan. Ia mengakui penyelesaian akhir kurang presisi, tetapi menilai kritik yang menyebut Juventus mengecewakan tidak berdasar. โMenurut kalian, semua yang berakhir tanpa gol itu negatif. Saya senang bisa terus menekan lawan selama itu,โ tambahnya.
Di balik kemenangan, Spalletti dihadapkan pada masalah besar: badai cedera. Kenan Yildiz harus menepi 2-3 bulan karena patah tulang metatarsal, sementara Weston McKennie dan Khephren Thuram absen pada laga ini. Andrea Cambiaso, yang tampil sebagai pemain pengganti, juga harus ditarik keluar setelah mengalami cedera pergelangan kaki. Yang paling mengkhawatirkan, Thuram dikabarkan membutuhkan operasi.
โJika situasi Thuram terkonfirmasi, maka kami butuh pemain di lini tengah. Direksi kami sudah menyusun pendekatan yang logis dan menarik, tetapi itu tidak berlaku lagi. Mereka akan mencari alternatif,โ ungkap Spalletti. Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bahwa Juventus akan bergerak cepat di bursa transfer untuk menambal lubang di sektor gelandang.
Spalletti juga memberikan penilaian terhadap Randal Kolo Muani, yang sebelumnya dikritik tajam usai laga melawan Frosinone. Menurutnya, penyerang asal Prancis itu memiliki kualitas dan kecepatan, tetapi perlu lebih banyak โdarahโ dan kegigihan dalam momen-momen penting. โDia bisa bermain di banyak situasi. Sulit menemukan ruang saat lawan bertahan rapat, tapi Kolo Muani punya kualitas untuk turun dan menciptakan ruang itu,โ jelasnya.
Di sisi lain, Spalletti ikut mengomentari insiden penalti yang sempat menjadi perdebatan. Ia menilai kontak antara pemain Parma dan Alajbegovic bukan pelanggaran karena pemain lawan justru sengaja mencari kontak. โDampak itu satu hal, kontak itu hal lain. Hampir tidak ada sentuhan sama sekali. Pemain Parma menggerakkan kakinya ke arah Alajbegovic dan mencari kontak, tapi VAR mengevaluasinya dalam satu menit, dan itu sudah benar,โ tegasnya.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, laga ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya kedalaman skuad dan manajemen tekanan. Juventus, yang tengah berjuang di papan atas Serie A, menunjukkan bahwa kualitas permainan tidak selalu diukur dari jumlah gol. Namun, dengan cedera yang menumpuk, pertanyaan besarnya adalah: sanggupkah Bianconeri mempertahankan konsistensi tanpa tambahan amunisi baru di lini tengah? Keputusan manajemen dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi penentu.



